Kontak Kami

Uncategorized

Mahasiswa Sudah Tahu: Portal Self-Service Bukan Bonus, Ini Expectation Minimum

26 Mar 2026

Rapat dekan dengan student council minggu lalu. Salah seorang ketua himpunan angkat tangan. “Pak, pertanyaan. Kenapa sistem kita masih harus ke TU kalau mau tahu nilai? Lagi, sekarang kan semester 5, harusnya nilai UTS sudah keluar—tapi mahasiswa harus tunggu semester berakhir baru bisa lihat nilai di kertas. Kenapa tidak ada portal yang bisa cek real-time?”

Dekan menjawab bahwa sistem akademik sudah cukup baik, dan mahasiswa bisa tanya ke TU.

Ketua himpunan itu kemudian pergi ke kampus X (universitas kompetitor), login ke portalnya sebagai guest, dan lihat sendiri: mahasiswa disana bisa cek nilai seminggu setelah UTS, bisa daftar KRS online, bisa cek transkrip.

Dia pulang dan cerita ke teman-teman: “Kampus kita masih ketinggalan.”

Cerita ini bukan satu kasus. Dari feedback informal yang SEVIMA kumpulkan dari 1.200 kampus, pola ini sering muncul: mahasiswa aktual sudah expect portal self-service. Kampus yang tidak punya, terlihat “old school” di mata mereka.

Generasi Digital Tidak Punya Kesabaran untuk Sistem Manual

Mahasiswa tahun 2025 adalah digital natives dalam arti literal. Mereka tidak pernah tahu era pra-smartphone. Akses instant, informasi on-demand, adalah norma hidup mereka.

Ketika ditanya “berapa nilai saya?”, mereka expect jawaban instant—tidak dalam bentuk “silakan datang ke kantor jam 9-4” atau “cek melalui email staf”. Itu terasa seperti diajak ke era 2005.

Kini mahasiswa tidak perlu lagi repot bertanya ke TU atau menunggu lama untuk tahu hasil studi. Lewat sistem SIAKAD, akses nilai menjadi mudah, cepat, dan transparan, langsung dari dashboard pribadi masing-masing mahasiswa. Tapi banyak kampus belum realize ini bukan “nice to have lagi”—ini adalah standar expectation.

Lebih jauh lagi: mahasiswa dapat mengetahui informasi akademik kapan saja dan dari mana saja. Dengan adanya SIAKAD, bisa dengan mudah mengetahui apa yang terjadi di kampus dalam waktu cepat. Ini adalah apa yang mahasiswa inginkan—dan ini adalah feedback dari institusi yang sudah jalan sistemnya.

Artinya, mahasiswa di kampus dengan portal sudah “terbiasa baik”. Mereka bakal spread word ke teman, ke calon mahasiswa lain. Dan mahasiswa di kampus tanpa portal? Mereka bakal feeling “outdated”.

Efek Tidak Langsung Tapi Real: Kepercayaan Berkurang

Ini poin yang sering terlewatkan oleh leadership. Ketika mahasiswa tidak bisa akses informasi akademik dengan mudah, mereka tidak hanya kesal—mereka mulai meragukan kompetensi institusi dalam hal data management.

Jika nilai tidak transparan, mahasiswa pikir: “Apakah sistem akademik ini aman? Apakah data saya terjaga?”

Jika tidak bisa daftar KRS online, mereka pikir: “Kampus ini teknologinya ketinggalan.”

Jika status pembayaran tidak bisa dicek 24/7, mereka pikir: “Tidak ada infrastructure yang proper.”

Itu adalah reputation damage yang tidak terukur tapi dampaknya nyata terhadap brand image institusi.

Lebih lanjut, mahasiswa yang merasa layanan akademik outdated, cenderung berbagi pengalaman negative mereka di media sosial atau forum calon mahasiswa online. Satu ulasan negative bisa disebar ke ratusan prospek.

Monday Morning Action: Minggu Depan, Tiga Langkah Immediate

1. Tanyakan ke mahasiswa aktual (minimal 10 orang, berbeda angkatan, berbeda prodi): “Jika kampus lain punya portal akademik 24/7 dan kampus kita tidak, apakah itu mempengaruhi persepsi Anda terhadap kualitas kampus kita?” Dengarkan jawaban mereka dengan open mind.

2. Audit: berapa sering mahasiswa atau orang tua mahasiswa menghubungi TU/BAAK setiap minggu untuk bertanya soal nilai, jadwal, atau status pembayaran? Itu adalah proxy untuk demand akan portal.

3. Reach out ke student council, ketua himpunan, ketua prodi: “Apakah portal akademik ini pernah jadi topik keluhan?” Jika jawabnya “ya”, record feedback mereka dan bawa ke meeting strategic planning.

Penutup: Mahasiswa Adalah Mirror Kualitas Institusi

Mahasiswa tidak bohong. Jika mereka bilang portal akademik penting, itu karena mereka experience sendiri pentingnya.

Institusi yang mendengarkan feedback mahasiswa tentang digital services, biasanya juga leadership yang mendengarkan feedback mereka tentang quality pembelajaran, dukungan akademik, dan layanan student welfare secara keseluruhan.

Institusi yang ignore feedback ini, cenderung ignore feedback di aspek lain juga.

Masyarakat Indonesia justru makin cepat beradaptasi dengan dunia digital. Mahasiswa Anda adalah bagian dari masyarakat itu. Mereka tidak akan puas dengan layanan sub-standard selamanya.

Portal akademik yang baik bukan soal teknologi semata—ini soal respect terhadap waktu mahasiswa, commitment terhadap transparency, dan signal bahwa institusi mengerti tuntutan era.

Pertanyaannya: apakah institusi Anda siap mendengarkan?

Diposting Oleh:

ilhamfe45465277

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

[LIVE] Strategi Penyusunan Artikel Jurnal Bereputasi untuk Indeks SINTA | Webinar SEVIMA Sesi 3

Mari Diskusi