Kontak Kami

Artikel | Berita | Dunia Kampus

Jurusan Sepi Peminat vs PTS Elit, Mana Lebih Tepat?

07 Apr 2026

SEVIMA – Kasus jurusan sepi peminat di UPI memberi pelajaran penting bagi pimpinan kampus dan keluarga calon mahasiswa. Dalam siaran pers Humas UPI berjudul “UPI Peringkat Pertama Peminat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) Tahun 2026”, UPI mencatat 53.311 peminat dan menjadi PTN akademik dengan peminat SNBP terbanyak secara nasional. Pada saat yang sama, seleksi SNBP 2026 diikuti 806.242 peserta untuk 189.017 kursi. Artinya, persaingan tetap rapat. Namun di balik lonjakan itu, detikEdu dalam artikel “15 Jurusan Sepi Peminat di UPI untuk Referensi SNBP 2026, Bahasa-Teknik” menunjukkan ada prodi yang peminatnya jauh lebih rendah, seperti PGPAUD Kampus Serang dengan 71 peminat untuk 40 kursi dan Desain Produk Industri Kampus Tasikmalaya dengan 85 peminat untuk 25 kursi.

Di sinilah pertanyaan yang sering diajukan calon mahasiswa sebenarnya kurang lengkap. Bukan sekadar “lebih baik PTN atau PTS?”, melainkan “prodi mana yang memberi peluang masuk masuk akal dan hasil belajar yang paling kuat setelah lulus?” Kasus UPI memperlihatkan bahwa reputasi institusi tidak otomatis berarti semua prodi punya tingkat persaingan yang sama. Pasar sudah bergerak ke level program studi. Kampus yang masih berkomunikasi hanya dengan label besar institusi akan tertinggal membaca cara berpikir calon mahasiswa.

Kasus UPI menunjukkan satu hal: persaingan ada di level prodi

Masih dari Kompas.com dalam artikel “UPI Terima 3.671 Calon Mahasiswa SNBP 2025, Jurusan Ini Paling Ketat”, Program Studi Ilmu Komunikasi UPI pada SNBP 2025 menerima 20 peserta dari 1.465 pendaftar. Tingkat keketatannya 1,37 persen. Di kampus yang sama, ada prodi lain dengan rasio peminat jauh lebih ringan. Ini bukan kontradiksi. Ini sinyal bahwa calon mahasiswa tidak lagi masuk ke “UPI” secara umum, tetapi masuk ke prodi tertentu dengan peluang yang sangat berbeda.

Bagi pimpinan kampus, pelajarannya jelas. Komunikasi PMB tidak bisa lagi berhenti pada slogan “kampus favorit” atau “kampus unggul”. Yang dibutuhkan calon mahasiswa sekarang adalah data prodi yang end-to-end: daya tampung, rasio peminat, akreditasi, biaya, lokasi kampus, magang, dan jejak lulusan. Informasi seperti ini adalah akselerator keputusan. Tanpa itu, calon mahasiswa akan mengambil jalan pintas berdasarkan persepsi, bukan bukti.

Mengapa mengejar jurusan sepi peminat bisa kurang tepat

Masuk prodi dengan persaingan lebih longgar memang dapat menjadi jalan yang masuk akal. Tetapi jalan ini hanya sehat jika prodi tersebut memang sesuai minat, kemampuan akademik, dan arah kerja yang dituju. Jika tidak, kursi yang berhasil diamankan justru bisa berubah menjadi biaya pindah jurusan, motivasi belajar yang turun, atau waktu studi yang tidak efisien.

Ada pola yang sering terlewat. Siswa melihat rasio persaingan rendah, lalu menganggap itulah pilihan paling aman. Padahal yang aman bukan sekadar mudah masuk. Yang aman adalah mudah bertahan, berkembang, dan lulus dengan bekal yang relevan. Kampus perlu membantu calon mahasiswa melihat ini dengan jernih. Transparansi data prodi bukan privilege kampus besar. Itu fondasi kepercayaan.

Kapan jurusan sepi peminat layak dipilih?

  1. Ketika minatnya nyata, bukan sekadar strategi lolos.
    Jika siswa memang ingin menekuni bidang itu, prodi dengan peminat lebih sedikit bisa menjadi keputusan yang matang. Di titik ini, rasio persaingan hanyalah bonus.
  2. Ketika mutu prodinya terbaca jelas.
    Cek akreditasi prodi, dosen, laboratorium, proyek belajar, dan jejaring magang. Kursi yang lebih terbuka tetap harus diimbangi mutu pembelajaran yang terukur.
  3. Ketika lokasi dan ekosistem kampus masih mendukung.
    Humas UPI menegaskan UPI punya 106 program studi yang tersebar di Bandung, Cibiru, Purwakarta, Sumedang, Tasikmalaya, dan Serang. Sebaran ini memberi banyak opsi, tetapi juga berarti calon mahasiswa perlu membaca konteks kampus per lokasi, bukan hanya nama universitas.
  4. Ketika outcome lulusannya tetap masuk akal.
    Pertanyaannya sederhana: setelah lulus, siswa mau ke mana? Jika prodi punya jalur karier yang jelas, jurusan sepi peminat bisa menjadi keputusan cerdas, bukan pilihan darurat.

PTS elit bukan lagi alternatif darurat

Ada perubahan besar yang sering belum dibaca dengan cukup jernih. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam artikel “Dirjen Dikti: PTS Sebagai Tulang Punggung Penopang Pendidikan Tinggi di Indonesia” menyebut lebih dari 60 persen mahasiswa di Indonesia kuliah di PTS. Dalam artikel lain, “Dirjen Dikti: LLDIKTI XIII Bersama PTS Harus Terdepan Menuntaskan Tiga Permasalahan Pendidikan Tinggi”, Ditjen Dikti juga menyebut 64,03 persen dari sekitar 4.437 perguruan tinggi di Indonesia adalah PTS. Jadi, PTS bukan pinggiran sistem. PTS adalah penopang utama akses pendidikan tinggi nasional.

Mutu PTS juga makin mudah diverifikasi. Kompas.com dalam artikel “81 PTS Akreditasi Unggul 2025, Ada Telkom dan Binus” mencatat 81 PTS telah berstatus Unggul pada April 2025. Status ini penting karena akreditasi Unggul menunjukkan kampus dinilai berada pada mutu sangat baik.

Sebagian PTS bahkan sudah mendapat pengakuan global. Laman resmi QS TopUniversities untuk “Bina Nusantara University (BINUS)” mencatat BINUS berada pada kelompok peringkat 851-900 QS World University Rankings 2026. Pada laman yang sama, QS juga mencatat jaringan kemitraan BINUS dengan lebih dari 5.000 perusahaan dan institusi. Ini bukan berarti semua PTS otomatis kuat. Namun ini cukup untuk menunjukkan bahwa label “swasta” tidak lagi cukup untuk menilai mutu. Yang harus dilihat adalah bukti.

Kapan PTS unggulan lebih masuk akal?

  1. Ketika prodi yang diincar memang lebih kuat di PTS itu.
    Jika calon mahasiswa ingin bidang yang infrastrukturnya, jejaring industrinya, atau kurikulumnya lebih matang di PTS tertentu, maka memilih PTS unggulan bisa lebih rasional daripada memaksa masuk PTN pada prodi yang tidak benar-benar diinginkan.
  2. Ketika kampus memberi jalur kerja yang lebih dekat.
    Ada PTS yang sangat dekat dengan industri, magang, dan proyek riil. Untuk bidang tertentu, kedekatan ini lebih penting daripada simbol negeri atau swasta.
  3. Ketika dukungan belajar lebih tertata.
    Siswa dan orang tua sekarang mencari pengalaman belajar tanpa hambatan. Layanan akademik, pembimbingan, kelas tambahan, sertifikasi, dan dukungan karier sering menjadi pembeda nyata.
  4. Ketika biaya total sebanding dengan hasil.
    PTS unggulan memang sering diasosiasikan dengan biaya lebih tinggi. Namun keputusan yang sehat bukan melihat nominal saja. Yang perlu dibaca adalah rasio biaya terhadap kualitas belajar, lama studi, jejaring, dan kesiapan kerja.

Jawaban: lihat outcome, bukan bendera

Kasus UPI mengajarkan satu hal yang sangat penting. Kampus bisa sangat diminati secara nasional, tetapi pola persaingan tetap pecah di level prodi. Karena itu, memilih jurusan sepi peminat hanya karena peluang lolos lebih besar tidak selalu bijak. Sebaliknya, memilih PTS unggulan hanya karena citra modern dan fasilitas juga belum tentu tepat. Yang benar adalah membaca kecocokan, mutu prodi, dan outcome lulusan secara terukur.

Bagi pimpinan kampus, ini punya konsekuensi langsung untuk strategi PMB. Tim PMB perlu berhenti menjual nama besar secara umum. Yang harus ditampilkan adalah peta nilai per prodi. Siapa pun bisa mulai minggu depan dengan satu langkah sederhana: minta tim membuat matriks 20 prodi prioritas berisi daya tampung, rasio peminat, akreditasi, biaya, magang, mitra industri, dan jejak kerja alumni. Jika data ini hadir rapi, kampus akan lebih mudah berbicara jujur kepada pasar.

Dari pengalaman SEVIMA mendampingi 1.200+ perguruan tinggi, kampus yang tumbuh biasanya bukan yang paling keras berpromosi. Kampus yang tumbuh adalah yang paling terukur membaca kekuatan prodinya dan menyajikannya secara jelas kepada calon mahasiswa, dari hulu sampai hilir.

Pada akhirnya, jurusan sepi peminat bukan jalan pintas dan PTS elit bukan sekadar pelarian. Keduanya bisa menjadi pilihan baik jika dibaca lewat data, kecocokan, dan hasil akhir yang ingin dicapai mahasiswa setelah lulus.

Diposting Oleh:

Nazhelika SEVIMA

Tags:

jurusan sepi peminat PTS elit PTS Unggulan SNBP UPI strategi pilih jurusan

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

[LIVE] Strategi Penyusunan Artikel Jurnal Bereputasi untuk Indeks SINTA | Webinar SEVIMA Sesi 3

Mari Diskusi