Lulusan UNNUR Bandung Kuatkan Daya Saing dan Inovasi
23 Apr 2026
SEVIMA – Ada satu momen yang sering diremehkan kampus saat musim PMB. Seorang calon mahasiswa melihat iklan kampus di Instagram, membuka tautan pendaftaran, lalu mencoba mengisi formulir dari ponsel. Ia sedang di angkutan umum, di sela jam sekolah, atau saat menunggu les. Niatnya ada. Waktunya sempit. Kalau halaman lambat, kolom terlalu banyak, atau unggah berkas merepotkan, yang hilang bukan hanya satu klik. Yang hilang adalah momentum keputusan.
Di sinilah gagasan mobile-first campus menjadi penting. Bukan karena kampus harus ikut tren, melainkan karena perilaku calon mahasiswa sudah berubah lebih cepat daripada banyak sistem penerimaan yang dipakai hari ini. Kampus yang masih merancang alur pendaftaran dengan asumsi desktop sebagai layar utama sedang berbicara dengan generasi yang sudah hidup dari ponsel. Mereka mencari informasi, membandingkan kampus, mengisi formulir, dan merespons notifikasi dari perangkat yang sama.
Data dasar di Indonesia menunjukkan arah yang sangat jelas. Badan Pusat Statistik dalam publikasi “Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024” mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Dalam publikasi yang sama, 68,65 persen penduduk sudah memiliki telepon seluler, sementara kepemilikan komputer rumah tangga baru 18,52 persen. Angka ini memberi satu pesan sederhana: bagi banyak keluarga, ponsel bukan layar kedua. Ponsel adalah layar yang paling tersedia.
Gambaran itu makin kuat ketika dilihat dari perilaku digital yang lebih baru. Laporan “Digital 2025: Indonesia” dari DataReportal mencatat ada 356 juta koneksi seluler aktif di Indonesia pada awal 2025, setara 125 persen dari total populasi. Masih dalam laporan yang sama, 96,4 persen koneksi seluler sudah berada pada kategori broadband. Artinya, titik masuk digital masyarakat Indonesia semakin dekat dengan perangkat seluler, bukan semakin menjauh darinya.
Dari sisi penggunaan internet, APJII mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66 persen pada 2025 atau sekitar 229,4 juta jiwa. detikInet dalam artikel “Survei APJII: Pengguna Internet Indonesia 2025 Tembus 229 Juta Jiwa” juga menulis bahwa kelompok pengguna internet terbesar berasal dari Gen Z dengan porsi 25,54 persen. Ini penting untuk dibaca kampus. Gen Z bukan sekadar target promosi. Mereka adalah kelompok utama calon mahasiswa baru hari ini.
Lebih spesifik lagi, VOI dalam artikel “The Majority Of Smartphone Users In Indonesia Spend Rp1-1.5 Million For The Internet”, yang merangkum Survei Profil Internet Indonesia 2025 APJII, menyebut 74,27 persen akses internet dilakukan lewat mobile data, dan 83,39 persen perangkat yang dipakai untuk internet adalah smartphone atau ponsel. Laptop hanya berada di posisi kedua dengan 11,42 persen. Kalau calon mahasiswa datang dari ekosistem seperti ini, maka alur PMB yang masih berat di desktop sebenarnya sedang meminta mereka pindah kebiasaan hanya untuk mendaftar. Itu langkah yang tidak efisien.
Aplikasi pendaftaran kampus disebut mobile-first ketika alur utama, mulai dari mencari informasi, membuat akun, mengisi formulir, mengunggah berkas, membayar, hingga menerima notifikasi, dirancang lebih dulu untuk layar ponsel, koneksi seluler, dan perangkat Android. Di Indonesia, pendekatan ini bukan lagi tambahan. Ini sudah menjadi kebutuhan dasar layanan PMB digital.
Ada empat alasan mengapa pendekatan ini tidak bisa ditunda.
Banyak kampus masih menganggap ponsel sebagai kanal pelengkap. Padahal, data pasar menunjukkan hal sebaliknya. Hingga Maret 2026, Statcounter mencatat trafik web di Indonesia sudah lebih banyak datang dari mobile, yakni 55,68 persen, dibanding desktop 43,84 persen. Pada waktu yang sama, Android menguasai 84,91 persen pangsa sistem operasi mobile di Indonesia. Jadi, kalau aplikasi pendaftaran kampus tidak nyaman di Android dan koneksi seluler biasa, kampus sedang menurunkan kualitas pengalaman pada perangkat yang paling sering dipakai.
Keputusan calon mahasiswa jarang terjadi dalam suasana ideal. Mereka tidak selalu duduk di depan laptop, dengan file rapi dan Wi-Fi stabil. Sering kali mereka baru tertarik setelah melihat konten kampus, ikut webinar, menerima WhatsApp follow up, atau melihat testimoni alumni. Di titik itu, kampus hanya punya sedikit waktu untuk menjaga niat tetap hidup. Jika formulir panjang, harus zoom in berkali-kali, atau unggah berkas gagal di tengah jalan, niat itu bisa turun sebelum menjadi pendaftaran yang selesai.
Pelajaran dari riset UX di sektor lain juga relevan. Baymard Institute menulis dalam “Research Methodology” bahwa 43,2 persen pengguna smartphone atau tablet pernah meninggalkan proses checkout di perangkat mobile dalam dua bulan terakhir, dan 61 persen kadang atau selalu berpindah ke desktop ketika alur mobile terasa berat. Konteksnya memang e-commerce, tetapi pola perilakunya sama: gesekan kecil di layar ponsel membuat orang menunda penyelesaian. Dalam PMB, penundaan sering berarti kehilangan prospek.
Ini salah satu kekeliruan yang masih sering terjadi. Kampus menganggap tampilan formulir desktop yang dipersempit ke layar ponsel sudah cukup. Padahal mobile-first berarti merancang ulang prioritas. Kolom harus lebih sedikit per langkah. Tombol harus mudah disentuh. Unggah dokumen harus jelas ukurannya. Status pendaftaran harus mudah dipantau. Dan notifikasi harus hadir di kanal yang memang dibuka calon mahasiswa setiap hari.
Kalau realitas pengguna Indonesia masih didominasi mobile data dan smartphone, maka desain yang hemat kuota, ringan, dan cepat justru lebih dekat dengan kebutuhan lapangan daripada desain yang kaya elemen visual tetapi berat dimuat. Inilah alasan mengapa mobile-first campus bukan semata urusan estetika. Ia berkaitan langsung dengan akses yang adil, pengalaman yang lancar, dan peluang konversi yang lebih tinggi.
Sering ada kampus yang sudah punya landing page yang ramah ponsel, tetapi langkah setelah itu masih terputus-putus. Setelah isi formulir, calon mahasiswa harus pindah ke email untuk cek tagihan, pindah lagi ke situs lain untuk bayar, lalu kirim bukti lewat chat. Dari sisi internal, ini terasa bisa dijalankan. Dari sisi calon mahasiswa, ini melelahkan.
Pendekatan mobile-first mengubah cara pandang itu. Yang dilihat bukan lagi satu halaman, tetapi alur end-to-end. Apakah calon mahasiswa bisa mendaftar, menyimpan progres, menerima pengingat, melihat jadwal seleksi, membayar, dan memantau hasil tanpa hambatan berarti dari perangkat yang sama? Jika jawabannya belum, maka ruang perbaikannya masih besar.
Supaya pembahasan ini tidak berhenti di level wacana, berikut lima langkah yang bisa langsung dikerjakan pimpinan kampus bersama tim PMB, BAAK, dan IT.
Jika lima langkah ini dikerjakan, pimpinan kampus tidak hanya memperbaiki tampilan. Kampus sedang memperbaiki cara menerima minat. Dan dalam konteks PMB, itu berarti memperbaiki pintu masuk hubungan pertama antara institusi dan mahasiswa.
Pada akhirnya, mobile-first campus bukan proyek teknologi semata. Ini keputusan layanan. Kampus yang bergerak lebih dulu akan lebih mudah hadir di ritme hidup calon mahasiswa hari ini. Kampus yang menunggu terlalu lama berisiko tetap terlihat baik di ruang rapat, tetapi kurang nyaman di layar yang benar-benar dipakai calon mahasiswa.
Bila kampus ingin menjalankan alur PMB digital yang lebih rapi, terukur, dan end-to-end, pendekatan itu bisa dipercepat lewat platform akademik terpadu seperti SiAkadCloud. Namun intinya tetap sama: aplikasi pendaftaran kampus harus mengikuti cara calon mahasiswa hidup, bukan memaksa calon mahasiswa mengikuti kebiasaan sistem lama.
Diposting Oleh:
Nazhelika SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami