Kontak Kami

Uncategorized

DIES NATALIS AKPRIND – Kampus Dituntut Cetak Lulusan yang Bisa Bangun AI

07 Mei 2026

Yogyakarta, 6 Mei 2026 — Kemampuan menggunakan AI kini bukan lagi keunggulan kompetitif, melainkan standar minimum. Di tengah derasnya adopsi kecerdasan buatan di dunia kerja, perguruan tinggi menghadapi tekanan yang lebih fundamental: apakah kurikulum mereka sudah cukup untuk mencetak lulusan yang mampu membangun teknologi itu, bukan sekadar memakainya.

Pertanyaan itu mengemuka dalam webinar yang digelar Universitas AKPRIND Indonesia, Rabu (6/5/2026), bertajuk *Optimalisasi Media Sosial: Modal Minimal, Cuan Maksimal*—bagian dari rangkaian Dies Natalis universitas berbasis sains dan teknologi tersebut.

Dihadapan ribuan pemirsa, Rektor AKPRIND, Dr. Edhy Sutanta, S.T., M.Kom., menyebut bahwa perbedaan antara kampus yang hanya mengajarkan penggunaan AI dengan kampus yang melatih mahasiswa membangunnya terletak pada kedalaman fondasi keilmuan. Matematika terapan, statistik, algoritma, pemrograman, hingga machine learning perlu diintegrasikan secara berjenjang—bukan sebagai modul tambahan, melainkan sebagai pondasi teknis yang menopang proyek-proyek berbasis permasalahan industri nyata.

“Mahasiswa perlu diarahkan untuk merancang, melatih, mengevaluasi, dan mengimplementasikan model AI—bukan sekadar mengoperasikan chatbot,” ujar Dr. Edhy.

*Antara Larangan dan Pembiaran*

Soal kebijakan AI di lingkungan kampus, Dr. Edhy menyoroti kondisi mayoritas perguruan tinggi di Indonesia yang masih terbelah: sebagian melarang penggunaan AI karena kekhawatiran plagiarisme, sebagian lain membiarkannya tanpa regulasi yang jelas. Keduanya, menurutnya, sama-sama berisiko.

Pendekatan yang ia dorong adalah regulasi adaptif berbasis integritas akademik—mahasiswa diwajibkan mendeklarasikan penggunaan AI dalam setiap tugas dan karya ilmiah, sehingga AI berfungsi sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti tanggung jawab intelektual.

“Dengan kebijakan yang jelas dan berlandaskan etika akademik, AI dapat berfungsi sebagai pengungkit kualitas pembelajaran, riset, dan inovasi,” katanya.

*AI sebagai Modal Karier*

Kombinasi AI dan media sosial menurutnya juga telah mengubah cara profesional muda membangun reputasi karier.Menurutnya, profil digital yang konsisten dan mencerminkan kompetensi nyata kini berperan sebagai portofolio profesional—dinilai klien jauh sebelum CV dikirim. Konten yang dibangun secara konsisten dalam satu niche, katanya, menghasilkan kepercayaan jangka panjang yang jauh lebih berharga dibanding satu konten viral yang tidak berlanjut.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa kehadiran AI justru menaikkan nilai autentisitas: di dunia yang penuh konten buatan AI, gaya visual dan suara yang genuine menjadi pembeda yang paling sulit ditiru. “Manfaatkan AI bukan sekadar untuk mempermudah, tetapi untuk memperdalam proses berpikir, mencipta solusi, dan memberi dampak.” Pungkas Eddy.

Diposting Oleh:

ilhamfe45465277

Tags:

-

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

#NGOMIK | Eksotisme Timur Tengah di Kaki Bromo: Strategi IAD Probolinggo Transformasi Ke Universitas

Mari Diskusi