Guru Besar Hukum Pidana UBL, Prof. I Ketut Seregig, Raih Penghargaan Sebagai Purnawirawan Polri Berprestasi
24 Jul 2026
24 Jul 2026
Oleh: Prima Trisna Aji – Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
SEVIMA – Ada ironi yang hanya bisa ditemukan di perguruan tinggi Indonesia: ketika kecerdasan buatan datang menawarkan pembaruan, kampus justru sibuk mempertahankan prosedur. Ketika dunia bergerak ke arah otomatisasi, kampus masih berdebat tentang format file yang boleh diunggah. Di luar sana, AI menganalisis ribuan data dalam hitungan detik. Di dalam kampus, rapat evaluasi berkali – kali digelar untuk membahas hal yang bahkan tidak memerlukan rapat.
AI memang datang membawa teknologi. Tetapi yang lebih penting, ia membawa kebenaran. Kebenaran yang selama ini tidak nyaman untuk dilihat oleh sistem yang begitu menikmati ketidakjelasan.
AI Menyingkap Lapisan Kekuasaan yang Selama Ini Bersembunyi di Meja Rapat
Dalam struktur pendidikan tinggi kita, ada satu mitos yang dijaga kuat: bahwa mutu akademik selalu selaras dengan hirarki. Padahal AI, tanpa permisi, membongkar bahwa banyak keputusan pendidikan bukan ditentukan oleh data, melainkan oleh siapa yang paling keras berbicara dalam rapat.
AI tidak mengenal jabatan. Ia tidak mengenal senioritas. Ia tidak mengenal “tradisi kampus yang harus dihormati”. AI bekerja pada kecepatan yang membuat banyak pejabat akademik terlihat seperti penunggu arsip, bukan pemimpin masa depan. Dan di situlah letak masalahnya. AI memindahkan pusat kekuasaan dari meja rapat ke fakta. Dari opini ke analisis. Dari ego ke algoritma. Bagi sebagian orang, ini bukan ancaman teknologi. Ini ancaman politik.
Mahasiswa Melompat ke Masa Depan, Kampus Masih Menunggu Notulen Rapat
Generasi digital sudah berlari. Mereka mempelajari teori dengan bantuan AI, menganalisis data penelitian dengan bantuan model bahasa, bahkan menulis kode program dalam hitungan menit. Sementara itu, kampus meminta mereka datang ke biro akademik hanya untuk mengubah satu huruf pada KRS.
Saya pernah mendengar seorang mahasiswa berkata, “Pak, saya belajar lebih cepat dari AI daripada dari sistem kampus.” Pernyataan itu terdengar seperti lelucon pahit yang malah semakin terasa benar dari tahun ke tahun. Mahasiswa tidak melawan dosen. Mahasiswa tidak melawan ilmu. Yang mereka lawan adalah kecepatan lambat kampus yang semakin tidak sinkron dengan tuntutan zaman.
Dosen Bukan Lawan AI, Dosen Justru Tawanan Birokrasi
Di setiap diskusi publik, dosen selalu digambarkan sebagai pihak yang akan “terancam” oleh AI. Padahal jika ada yang benar-benar mengancam mereka, itu bukan AI melainkan sistem administrasi yang memaksa dosen menghabiskan lebih banyak waktu mengunggah berkas daripada membaca jurnal, lebih banyak mengisi presensi daripada berdiskusi dengan mahasiswa, lebih banyak menghadiri rapat daripada mengembangkan ilmu.
AI datang membawa pertolongan: merangkum literatur, membuat rubrik penilaian, mengecek plagiasi, hingga mengolah nilai secara otomatis. Tetapi kampus lebih memilih mempertahankan birokrasi karena birokrasi itulah yang selama ini menjadi alat kontrol, bukan alat pendidikan. AI tidak sedang menggusur dosen. AI justru sedang membela mereka dari sistem yang telah lama tidak manusiawi.
Ketakutan Terbesar Kampus: Bukan Kecurangan, tetapi Transparansi
Setiap kampus yang mengkritik AI selalu menggunakan narasi moral: plagiasi, kemalasan mahasiswa, hilangnya orisinalitas. Tetapi alasan sebenarnya jauh lebih politis. AI transparan. AI mencatat. AI mengungkap pola. AI tidak bisa dimanipulasi oleh laporan-laporan penuh basa-basi.
AI tahu mata kuliah mana yang tidak lagi relevan. AI tahu proses mana yang hanya menghabiskan waktu. AI tahu data mana yang bertabrakan. AI tahu keputusan mana yang tidak masuk akal.
Dan yang paling menakutkan: AI bisa menunjukkan semuanya tanpa rasa takut. Transparansi adalah musuh dari sistem yang selama ini berdiri di atas ketidakjelasan.
Dan AI membawa transparansi dalam bentuk paling telanjang.
AI Memberi Kesempatan kepada Mereka yang Tidak Pernah Masuk Agenda Rapat
Yang paling mengharukan adalah fakta bahwa AI justru membantu mereka yang paling sering dilupakan oleh negara: mahasiswa miskin, mahasiswa pekerja, mahasiswa dari daerah pinggiran, mahasiswa dengan keterbatasan fisik.
Dengan AI, mereka bisa belajar kapan saja. Mereka bisa mengakses materi yang sebelumnya sulit mereka dapatkan. Mereka bisa memahami teori yang tidak tuntas dijelaskan di kelas. Mereka bisa menyusul ketertinggalan tanpa merasa tertinggal. AI memberi mereka ruang yang tidak pernah benar-benar diberikan oleh sistem pendidikan formal.
Jika Kampus Tidak Berubah, Tidak Perlu AI untuk Menggulingkan, Mahasiswalah yang Akan Meninggalkan
Inilah kebenaran paling brutal dalam dunia pendidikan tinggi hari ini: masa depan tidak sedang menunggu kampus. Jika kampus tetap bergerak lambat, mahasiswa akan mencari jalur lain sertifikasi global, kursus daring internasional, platform belajar mandiri semua lebih cepat, lebih efisien, lebih relevan.
Kampus tidak akan runtuh karena AI. Kampus akan runtuh karena menganggap dirinya terlalu sakral untuk berubah. AI tidak sedang menghapus peran perguruan tinggi.
AI hanya memperlihatkan bahwa masa depan tidak menerima institusi yang berhenti belajar. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kampus harus belajar dari sesuatu yang lebih muda, lebih cepat, dan lebih jujur daripada dirinya sendiri.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami