Guru Besar Hukum Pidana UBL, Prof. I Ketut Seregig, Raih Penghargaan Sebagai Purnawirawan Polri Berprestasi
24 Jul 2026
Oleh: Rana Abidah Zulkarnain – Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang
SEVIMA – Siapa yang tidak merasakan betapa drastisnya perubahan ritme belajar di dunia pendidikan? Perubahan yang awalnya perlahan, namun kini? AI sekejap membuat perubahan itu menjadi drastis. Drastis dalam menjawab pertanyaan hanya dalam hitungan detik, mencari materi presentasi yang hanya tinggal copy paste, revisi skripsi tanpa mengorbankan kepala gundul, dan siap menjadi asistenmu selama kita punya sinyal dan gawai. Peluang yang ajaib ini memberikan manfaat untuk belajar lebih cepat, lebih mudah, dan fleksibel dimanapun dan kapanpun. Namun, sebagian yang belum kenal lebih dalam tentang AI, justru khawatir bahwa kehadiran nya dapat mengikis kemampuan dasar berpikir akademik, bahkan membuat mahasiswa sendiri lupa bagaimana cara problem solving secara mandiri. Pertanyaannya kini bergeser. Apakah AI benar-benar menjadi kawan yang memperkuat proses belajar, atau justru ancaman yang perlahan menggerus fondasi akademik itu sendiri?
Keuntungan utama dari hadirnya AI dalam dunia akademik adalah akses pengetahuan yang jauh lebih cepat dan luas. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kharisma Agustya Zahra Salsabilla, Tasya Diva Fortuna Hadi, Widya Pratiwi, dan Siti Mukarromah (2023), mahasiswa justru sangat terbantu dalam mencari materi kuliah, memahami bahasa asing, hingga berani mengajukan pertanyaan tanpa merasa dihakimi. AI memberi ruang belajar yang lebih fleksibel dan aman, terutama bagi mahasiswa yang membutuhkan penjelasan berulang atau tidak selalu nyaman bertanya di kelas. Pada titik ini, AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga ruang belajar alternatif yang memungkinkan mahasiswa mengatur ritme belajar sesuai kebutuhan mereka.
Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan sisi lain dari penggunaan AI. Studi yang dilakukan oleh Indah Pujiastuti, Vismaia S. Damaianti, Yeti Mulyati, Andoyo Sastromiharjo, dan Dian Lestari (2025) menjelaskan bahwa ketergantungan yang berlebihan terhadap AI dapat membuat mahasiswa melewatkan proses membaca dan menganalisis secara mendalam. Mahasiswa cenderung langsung mencari jawaban jadi tanpa membangun pemahaman dari sumber ilmiah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Vioni Saputri, Ilham Abdi Prawira, dan Nasyariah Siregar (2025) yang menyoroti munculnya kecenderungan menurunnya inisiatif membaca, meningkatnya potensi plagiarisme, serta risiko menerima informasi keliru ketika mahasiswa hanya mengandalkan jawaban yang diberikan AI. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa penggunaan AI tanpa literasi digital yang kuat dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis, sebuah kemampuan inti yang semestinya terus diasah sepanjang proses pendidikan.
Meski begitu, penelitian-penelitian tersebut memberi pesan penting bahwa AI tidak seharusnya dipandang sebelah mata sebagai ancaman apabila digunakan dengan arah yang tepat. Ketika mahasiswa memanfaatkannya sebagai pendukung belajar untuk memperjelas konsep, menambah perspektif, atau menemukan rujukan awal, AI dapat menjadi kawan yang sangat membantu. Teknologi ini terbukti dapat mempersingkat waktu pencarian informasi sehingga mahasiswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk fokus pada analisis atau penyusunan ide. Sebaliknya, jika AI digunakan sebagai jalan pintas untuk menghindari proses membaca, menalar, atau mengolah informasi secara mandiri yang dimana otak seharusnya bekerja, AI justru menghambat perkembangan dasar akademik. Pada akhirnya, teknologi ini hanya memperbesar kecenderungan penggunanya yang seharusnya mahasiswa terbiasa kritis akan semakin berkembang, sedangkan mereka yang mudah bergantung berisiko kehilangan kemampuan analitis yang penting untuk bertahan di dunia akademik maupun profesional di lingkungan kerja .
Melihat berbagai temuan tersebut, terbukti bahwa AI menjadi kawan sejati yang memberi manfaat besar sekaligus tantangan bagi proses belajar di dunia akademik. Teknologi ini dapat membantu mahasiswa memahami materi dengan lebih mudah, memperluas wawasan, dan memberi kesempatan untuk belajar secara fleksibel. Namun, penggunaan yang tidak terarah dapat melemahkan kemampuan membaca mendalam, berpikir kritis, serta kebiasaan memverifikasi informasi tanpa menganalisis lebih jauh. Oleh karena itu, AI perlu dimanfaatkan secara bijak sebagai pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses intelektual “instan” yang seharusnya dijalani. Dengan pemahaman yang tepat, AI dapat menjadi bagian dari strategi belajar yang sehat dan tetap menjaga kualitas kemampuan akademik mahasiswa.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai AI sebagai kawan atau ancaman kembali pada cara kita memanfaatkannya. AI membuka peluang besar untuk belajar dengan lebih cepat dan fleksibel, tetapi tetap membutuhkan pengawasan serta kedewasaan dalam penggunaannya. Teknologi ini hanya akan memberikan manfaat ketika ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Dunia akademik membutuhkan keseimbangan antara kemudahan yang ditawarkan AI dan kedisiplinan dalam membangun kemampuan analitis. Tanpa keseimbangan tersebut, kemajuan yang ditawarkan teknologi justru dapat mengaburkan tujuan utama pendidikan.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami