Guru Besar Hukum Pidana UBL, Prof. I Ketut Seregig, Raih Penghargaan Sebagai Purnawirawan Polri Berprestasi
24 Jul 2026
24 Jul 2026
Oleh : Elita Endah Mawarni – Dosen 073137 STIKES Banyuwangi
SEVIMA – Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah bagian dari sistem komputer yang mampu berpikir, belajar, bahkan membantu menyelesaikan masalah seperti kemampuan manusia untuk meniru atau menjalankan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia. Perjalanan Artificial Intelligence (AI) dimulai sejak tahun 1956, ketika istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh John McCarthy bersama para peneliti di Konferensi Dartmouth.
Dalam prosesnya, AI telah mengalami perjalanan penuh hambatan dan tantangan. Hingga pada dekade 2000-an ini, Artificial Intelligence (AI) berkembang dengan pesat. Tiga faktor utama yang bisa mendukung perkembangan AI yaitu : adanya peningkatan kekuatan komputasi, ketersediaan data yang sangat melimpah, dan kemajuan teknik pembelajaran seperti deep learning. Dengan kemampuan ini, AI tidak lagi hanya sebuah konsep, melainkan mulai digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.
Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan AI sebagai teknologi dalam bidang pendidikan di perguruan tinggi yang dianggap cukup signifikan. Dengan penerapan teknologi ini, akses ke perkuliahan telah diperluas melalui E-Learning dan sumber daya digital, yang telah membuka pintu bagi perkuliahan yang lebih fleksibel sehingga memungkinkan mahasiswa dari berbagai latar belakang dan lokasi geografis untuk mengakses materi perkuliahan secara online, dan juga memungkinkan mahasiswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar mereka sendiri. Dalam penerapan teknologi, sistem adaptif dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) menjadi alternatif utama bagi mahasiswa dan dosen selama perkuliahan berlangsung. Meskipun terdapat tantangan dan kendala dalam pelaksanaannya yang berupa privasi dan ketidaksetaraan akses, pemanfaatan AI ini tetap membuka peluang dalam peningkatan kualitas perkuliahan, mempersiapkan mahasiswa untuk perubahan dunia, serta mengintegrasikan perguruan tinggi dengan kepentingan dunia usaha dunia industri. Inisiatif ini mencakup desain kurikulum, pengembangan alat, sumber daya, dan pendekatan yang mendukung pengajaran serta pembelajaran konsep-konsep AI serta implementasi dan persepsi penggunaan AI di perguruan tinggi.
Sebuah survei yang dilakukan pada Januari 2023 terhadap lebih dari seribu mahasiswa menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga mahasiswa menggunakan AI untuk tugas menulis teks akademik. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan ini telah membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek pendidikan, terutama di perguruan tinggi. sejumlah akademisi telah melaporkan bahwa hingga 20% mahasiswa menggunakan program AI dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan.
Dalam mengadopsi teknologi khususnya pemanfaatan AI, memerlukan pendekatan yang cerdas untuk mendukung tujuan perguruan tinggi, menjadi hal penting yang harus diperhitungkan. Termasuk dalam hal ini perlunya pemahaman tentang kesiapan dosen (readyness) dalam mengintegrasikan AI agar dapat mengimbangi kondisi. Kemunculan AI dalam ranah pendidikan tinggi membawa tuntutan baru bagi para dosen Penggunaan teknologi dalam perguruan tinggi juga memungkinkan dosen untuk menjadi pendukung perkuliahan yang lebih efisien dengan akses ke beragam sumber belajar digital. Mereka dapat memanfaatkan video perkuliahan, perangkat lunak interaktif, dan permainan edukatif untuk membuat proses perkuliahan lebih menarik dan memikat bagi mahasiswa. Selain itu, teknologi memfasilitasi komunikasi dan kerjasama antara mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas, yang secara signifikan meningkatkan keterlibatan mahasiswa dan perkembangan keterampilan sosial mereka. Pemanfaatan data perguruan tinggi yang diperkuat oleh teknologi membantu dosen dalam mengevaluasi perkembangan mahasiswa dan merancang strategi perkuliahan yang lebih efektif.
Dalam era transformasi digital, kecerdasan buatan (AI) semakin berperan dalam dunia pendidikan. Namun, di tengah perubahan yang cepat, kita perlu mempertimbangkan aspek etika penggunaan teknologi serta memastikan bahwa perguruan tinggi mematuhi prinsip inklusi dan keadilan, sehingga tidak ada yang tertinggal. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam perguruan tinggi selama era disrupsi adalah alat yang kuat untuk mengatasi perubahan global yang semakin kompleks. Era disrupsi adalah masa di mana perubahan teknologi, sosial, dan ekonomi terjadi secara cepat dan masif, sehingga menggeser cara-cara lama yang sebelumnya dianggap mapan sehingga mengubah sistem dan tatanan kehidupan masyarakat secara luas. Kecerdasan buatan (AI) bukan menggantikan peran dosen, namun hendaknya lebih menekankan pada pendekatan Augmented Intelligence yaitu kolaborasi antara AI dan tenaga pengajar untuk menciptakan sistem pembelajaran yang lebih adaptif, efektif, dan berbasis data. Augmented Intelligence berfokus pada bagaimana AI dapat memperkuat kapasitas manusia, dalam hal ini dosen, untuk meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa.
Kemajuan teknologi khususnya dalam penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan selain perlu mempertimbangkan aspek etika, juga harus tetap berlandaskan bimbingan moral Pancasila, sehingga Indonesia dapat menampilkan wajah yang tidak hanya mengadopsi teknologi tetapi mendukung kemajuannya dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjadikan Pancasila bukan sekadar slogan, melainkan panduan operasional dalam pengembangan AI. Pancasila sebagai paradigma pengembangan ilmu berarti seluruh kegiatan ilmiah, termasuk pengembangan teknologi AI, harus berlandaskan dan diarahkan oleh nilai-nilai Pancasila. Paradigma ini menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki martabat, bukan sekadar objek dari kemajuan teknologi. Berbeda dengan paradigma Barat cenderung positivistik dan antroposentris, paradigma Pancasila menekankan harmoni antara aspek material-spiritual, individu-kolektif, dan manusia-alam.
Dalam konteks Indonesia, tantangan ini semakin kompleks karena perguruan tinggi bukan hanya berfungsi mencetak lulusan kompeten, tetapi juga menjaga nilai-nilai kebangsaan, karakter, dan budaya. Oleh karena itu, transformasi perguruan tinggi pada era disrupsi bukan sekadar modernisasi teknologi, tetapi juga penguatan kompetensi manusia, komitmen seluruh civitas akademika untuk terus melakukan inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan.dan tata kelola institusi secara menyeluruh, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
===Humanis dalam teknologi cerdas, Pancasilais dalam aksi dengan menjaga tetap tegas nilai luhur Pancasila ===
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami