Perkuat Kolaborasi Penanggulangan TBC, PENS dan BRIDA Jalin Kerja Sama melalui Pengembangan Sistem Informasi Berbasis Riset
07 Agu 2026
06 Agu 2026
Oleh: Nadyatul Ghusna – Mahasiswa Universitas Sali Al-Aitaam
SEVIMA – Perkembangan teknologi yang sangat cepat beberapa tahun terakhir membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan, terutama sejak hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI) generatif seperti ChatGPT. Teknologi ini mampu menghasilkan teks, gambar, hingga ide secara otomatis, sehingga membuat proses belajar tampak lebih mudah dan cepat. Penelitian yang dilakukan di Politeknik Negeri Jakarta menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa dan dosen sudah mengenal AI generatif dan melihat banyak manfaatnya, mulai dari membantu pembuatan konten, mendukung pembelajaran, sampai menunjang penelitian. Namun, bersamaan dengan manfaat tersebut, muncul pula sejumlah kekhawatiran seperti masalah etika, plagiarisme, keamanan data, dan ketiadaan regulasi yang jelas. Melihat fenomena ini, saya ingin menyampaikan opini bahwa AI generatif memang memberikan peluang besar bagi dunia kampus, tetapi penggunaannya tetap harus diarahkan agar tidak menggeser peran manusia dan nilai akademik yang penting.
Hasil penelitian yang dilakukan di Politeknik Negeri Jakarta menunjukkan bahwa total responden, sebagian besar mengaku memahami konsep AI generatif. Mereka melihat bahwa teknologi ini membuat proses belajar dan bekerja menjadi lebih efisien. Mahasiswa merasa terbantu ketika mencari referensi, menyusun kerangka tugas, atau mendapatkan inspirasi awal untuk menulis. Sementara itu, dosen juga merasakan manfaatnya dalam penyusunan bahan ajar, pembuatan contoh soal, dan pengembangan materi kelas. Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya diminati oleh mahasiswa sebagai pengguna utama teknologi, tetapi juga oleh dosen yang ingin meningkatkan kualitas pengajaran agar lebih relevan dengan kebutuhan era digital.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa ada kekhawatiran terkait kurangnya pedoman penggunaan AI di lingkungan kampus. Banyak responden menganggap bahwa tanpa aturan yang jelas, penggunaan AI bisa menimbulkan penyalahgunaan seperti plagiarisme, ketergantungan, dan hilangnya kemampuan analisis mahasiswa. Kekhawatiran lain yang sering muncul adalah isu keamanan data. AI generatif bekerja dengan mengumpulkan, memproses, dan mempelajari data dalam jumlah besar. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah data pengguna aman? Apakah ada risiko penyalahgunaan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa regulasi.
Selain itu, dalam konteks perguruan tinggi Indonesia, penggunaan AI harus sejalan dengan tujuan pendidikan yang menekankan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta keaslian karya ilmiah. Pendidikan tinggi bukan hanya soal mendapatkan jawaban dengan cepat, tetapi proses memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memproduksi gagasan baru. Jika AI digunakan tanpa batas, ada risiko mahasiswa hanya mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan tugas, tanpa benar-benar memahami materi. Padahal, esensi pendidikan adalah pengembangan karakter dan kemampuan berpikir, bukan sekadar penyelesaian tugas secara instan.
Walaupun begitu, bukan berarti AI generatif harus dihindari. Pada dasarnya, teknologi ini akan sangat bermanfaat jika dijadikan alat bantu, bukan pengganti proses belajar. Misalnya, mahasiswa bisa menggunakan AI untuk membuat ringkasan awal, mencari ide, atau menyusun kerangka tulisan. Setelah itu, mahasiswa tetap perlu mengembangkan isi secara mandiri, melakukan analisis sendiri, serta mengecek kebenaran informasi yang diberikan AI. Hal yang sama berlaku bagi dosen: AI bisa dipakai untuk membantu efisiensi, tetapi kreativitas dan penilaian manusia tetap yang utama. Dengan pemanfaatan yang tepat, AI justru dapat menjadi sarana untuk memperkaya diskusi, membuka perspektif baru, dan mempercepat pemahaman konsep sulit.
Menurut saya sebagai mahasiswa, AI generatif adalah teknologi yang sangat membantu, tetapi harus digunakan dengan bijak. Saya pribadi merasakan bahwa AI bisa mempercepat pekerjaan ketika mencari referensi atau menyusun draft awal. Namun, saya tetap merasa bahwa hasil akhir harus berasal dari pemikiran sendiri, karena tugas kuliah bukan hanya soal mengumpulkan hasil, tetapi juga melatih kemampuan berpikir. Jika semua tugas sepenuhnya dikerjakan AI, maka kemampuan kita sebagai mahasiswa justru akan semakin melemah, terutama dalam berpikir kritis dan mengekspresikan gagasan.
Saya percaya bahwa perguruan tinggi perlu membuat pedoman yang jelas mengenai penggunaan AI: kapan boleh digunakan, bagaimana mencantumkan kontribusi AI, dan jenis tugas apa saja yang tetap harus dikerjakan tanpa bantuan teknologi. Dengan adanya pedoman, mahasiswa tidak kebingungan dalam menentukan batasan antara penggunaan yang wajar dan yang melanggar etika akademik. Selain itu, dosen juga perlu memperbarui metode penilaiannya agar tidak hanya fokus pada hasil tulisan, tetapi juga proses penyusunan tugas. Misalnya dengan meminta mahasiswa menunjukkan perkembangan tulisan, jurnal refleksi, atau sesi diskusi terkait argumen yang mereka bangun. Dengan cara ini, mahasiswa tetap dituntut untuk berpikir dan tidak sekadar menyerahkan semua pekerjaan kepada AI.
Bagi mahasiswa sendiri, termasuk saya, tantangan terbesar bukan pada “apakah boleh menggunakan AI atau tidak,” tetapi “bagaimana agar penggunaan AI tidak membuat kita kehilangan kemampuan penting sebagai mahasiswa.” AI generatif memang pintar, tetapi teknologi ini tidak bisa menggantikan pengalaman, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Justru kita yang harus mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami