Perkuat Kolaborasi Penanggulangan TBC, PENS dan BRIDA Jalin Kerja Sama melalui Pengembangan Sistem Informasi Berbasis Riset
07 Agu 2026
Oleh: Andriani Saputri – Sekretaris Prodi Diploma Empat Keuangan Publik Politeknik Baubau
SEVIMA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menjelma bukan hanya sebagai tren teknologi, tetapi juga sebagai asisten akademik baru yang semakin dipakai di dunia pendidikan tinggi. Di Indonesia, fenomena ini sudah nyata dan direspons secara serius oleh institusi, mahasiswa, dan pembuat kebijakan. Dalam mengoptimalkan potensi tersebut sekaligus mengelola risikonya, kampus dan pemerintah punya tugas penting untuk merumuskan kerangka penggunaan yang bertanggung jawab.
AI: dari Wacana ke Kebijakan Resmi di Indonesia
Salah satu contoh paling signifikan adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang pada tahun 2025 menerbitkan Surat Keputusan Rektor No. 127/2025 tentang penggunaan generative AI dan model bahasa besar (LLM) dalam aktivitas akademik maupun non-akademik. Kampus ini juga mendirikan Artificial Intelligence and Literacy Innovation Institute (ALII) sebagai pusat riset dan literasi AI.
Menurut Direktur ALII, Dr. Khodijah Hulliyah, “kami ingin memastikan bahwa setiap aspek literasi dan inovasi dalam kecerdasan buatan berjalan sesuai prinsip amanah dan keadilan.” Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, menegaskan komitmen etis: “Kami tidak sekadar ikut arus, tetapi ingin membentuk arah pemanfaatan AI agar memperkuat ruh keilmuan dan keimanan modern.”
Dalam kebijakan ini, UIN Jakarta juga menetapkan bahwa mahasiswa yang menggunakan AI dalam penulisan tugas harus mencantumkan atribusi. Untuk ujian, penggunaan AI diatur sangat ketat: hanya diizinkan fakultas jika ada protokol verifikasi agar keaslian kompetensi tetap dapat dipastikan.
Aturan Nasional: Panduan GenAI dari Pemerintah
Di level nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) telah menyusun dan meluncurkan Buku Panduan Penggunaan Generative AI (GenAI) pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Buku ini dirancang untuk membantu dosen dan mahasiswa menggunakan AI secara etis, produktif, dan bertanggung jawab. Dalam sinopsisnya disebut bahwa GenAI berpotensi meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran, tetapi juga menimbulkan risiko seperti plagiarisme, ketergantungan, hingga menurunnya kreativitas berpikir kritis.
Realitas Mahasiswa: AI Sudah Menjadi Sahabat Belajar
Penggunaan AI di kalangan mahasiswa Indonesia cukup masif. Menurut data GoodStats (2025), sekitar 95% mahasiswa di Indonesia menggunakan GenAI dalam proses pembelajaran. Alasan pemakaian sangat praktis: menurut survei Kompas.id, banyak mahasiswa menggunakan AI karena “kecepatan dan kemudahan menyelesaikan tugas,” serta “menghemat waktu” lebih sering daripada dorongan ingin nilai tinggi.
Di level riset akademik, sebuah studi dari Perguruan Tinggi Amikom Surakarta menunjukkan bahwa 68,1% mahasiswa baru pernah menggunakan aplikasi generative AI (termasuk ChatGPT), dan mayoritas merasakan peningkatan efisiensi serta produktivitas belajar.
AI memungkinkan sistem pembelajaran adaptif yang bisa menyesuaikan materi dan gaya pengajaran sesuai kebutuhan mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa yang kesulitan bisa mendapat bantuan lebih cepat, sementara yang lebih cepat paham bisa maju lebih cepat.
Tugas-tugas berulang seperti merangkum literatur, menyusun referensi, mengecek tata bahasa, atau membuat kerangka draf bisa diakselerasi dengan AI. Ini memberi dosen waktu lebih banyak untuk fokus pada bimbingan, diskusi konseptual, dan proyek penelitian.
Dengan institusi seperti ALII di UIN Jakarta, literasi AI bisa ditanamkan mulai dari kampus. Pemahaman bagaimana menggunakan AI secara etis akan membantu membentuk generasi akademik yang melek teknologi sekaligus bertanggung jawab.
Meskipun banyak manfaat, penggunaan AI sebagai asisten akademik juga menyimpan risiko:
Rekomendasi Kebijakan untuk Institusi Pendidikan di Indonesia
Berdasarkan peluang dan risiko di atas, berikut beberapa rekomendasi praktis:
Kolaborasi Kebijakan dan Riset. Kampus harus bekerjasama dengan pemerintah (seperti Ditjen Diktiristek), pembuat AI, dan komunitas riset untuk mengembangkan alat AI lokal yang sensitif terhadap konteks budaya, bahasa, dan nilai-nilai pendidikan Indonesia.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami