Perkuat Kolaborasi Penanggulangan TBC, PENS dan BRIDA Jalin Kerja Sama melalui Pengembangan Sistem Informasi Berbasis Riset
07 Agu 2026
Oleh: I Gde Putu Agus Pramerta – Universitas Mahasaraswati Denpasar
SEVIMA – Kemunculan kecerdasan buatan (AI) telah menggeser lanskap kehidupan manusia, dari cara bekerja, belajar, hingga memaknai informasi. Di tengah disrupsi tersebut, dua keterampilan dasar yang sering dianggap “sudah pasti dikuasai” justru kembali menjadi penentu daya saing seseorang: literasi dan numerasi. Keduanya bukan lagi sekadar kemampuan membaca, menulis, atau berhitung, melainkan fondasi untuk memahami, mengevaluasi, sekaligus bertindak secara etis dan bertanggung jawab, di tengah derasnya arus data dan informasi digital. Bagi mahasiswa, literasi dan numerasi kini bukan hanya tuntutan akademik, tetapi alat bertahan hidup di dunia yang semakin kompleks dan berbasis teknologi.
Transformasi Definisi Literasi dan Numerasi
Secara tradisional, literasi dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, sedangkan numerasi adalah kecakapan mengolah angka dan penalaran matematis. Namun, di era AI, kedua konsep ini telah bertransformasi. Literasi kini mencakup literasi digital, literasi media, dan literasi AI. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memahami teks, tetapi juga wajib mampu memverifikasi, mengkritisi, dan menilai kredibilitas informasi yang dihasilkan oleh teknologi seperti chatbot atau generator konten otomatis.
Numerasi meluas menjadi kemampuan membaca data, menafsirkan tren, mengevaluasi klaim statistik, dan mengambil keputusan berbasis bukti. Ini adalah kompetensi inti dalam pengambilan keputusan modern, dari dunia industri hingga riset akademik. Dengan kata lain, literasi dan numerasi menjadi kacamata yang memungkinkan mahasiswa melihat dunia secara lebih kritis dan objektif.
Dari Konsumen Pasif Menjadi Analis Aktif
Dengan hadirnya AI, akses informasi yang semakin mudah justru menghadirkan paradoks baru. Informasi memang melimpah, tetapi kualitas dan akurasinya tidak selalu dapat dijamin. Karena itu, mahasiswa perlu bertransformasi dari konsumen pasif menjadi analis aktif. Mahasiswa yang literat secara digital tidak hanya membaca dan menerima informasi begitu saja, tetapi secara sadar memeriksa kredibilitas sumber, mengidentifikasi bias, memahami konteks, dan menilai sejauh mana konten tersebut dihasilkan oleh AI.
Begitu pula dalam hal numerasi, mahasiswa tidak cukup “bisa menghitung”. Mereka harus mampu memahami makna angka, menginterpretasikan dataset, membaca grafik, hingga menilai validitas data sebelum menggunakannya sebagai dasar argumen atau keputusan. Tanpa kedua kemampuan ini, risiko terbesar adalah menerima begitu saja output AI sebagai kebenaran, seakan tanpa perlu verifikasi.
Literasi dan Numerasi sebagai Kompas di Era AI
Dalam dunia yang kian terkoneksi, kemampuan membaca dan menafsirkan informasi tidak dapat dipisahkan dari nilai, etika, dan tanggung jawab. Mahasiswa yang tidak memiliki literasi kritis dapat dengan mudah melanggengkan bias atau misinformasi yang memunculkan halusinasi. Sebaliknya, mahasiswa yang kuat literasi dan numerasi, mampu membedakan informasi faktual dan manipulatif, mengidentifikasi bias, dan memahami keterbatasan AI. Mahasiswa akan menjadi pengguna teknologi yang etis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, literasi dan numerasi bertindak sebagai kompas moral untuk bernavigasi dalam dunia AI yang penuh potensi sekaligus risiko.
Peran Perguruan Tinggi dalam Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Perguruan tinggi memiliki mandat penting untuk menjadi inkubator kompetensi masa depan. Ini membutuhkan pergeseran paradigma pembelajaran, dari sekadar menyampaikan konten menjadi membentuk kebiasaan berpikir kritis. Adapun langkah strategis yang perlu dilakukan antara lain mengintegrasikan literasi digital, literasi informasi, dan kemampuan membaca data ke seluruh mata kuliah, secara kontekstual dan bermakna. Literasi dan numerasi harus hadir dalam tugas, diskusi, hingga evaluasi.
Kemudian, mengadopsi pembelajaran berbasis masalah dan proyek. Mahasiswa diajak bekerja dengan dataset autentik, mengkritisi keluaran AI, dan menyusun solusi etis berbasis analisis serta menghasilkan karya atau praktik baik lainnya yang relevan dengan kehidupan. Selain itu, mendorong dosen untuk mengikuti pengembangan profesional secara berkala perlu menjadi perhatian penting. Dunia kerja berubah cepat, pengajar pun harus mengikuti dinamika literasi digital, data, dan AI. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas lulusan, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi realitas dunia kerja yang menuntut kecakapan baru.
Sinergi Pemerintah, Industri, dan Perguruan Tinggi
Upaya memperkuat literasi dan numerasi tidak bisa berdiri sendiri. Pemerintah perlu mengadaptasi program Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) secara bermakna agar selaras dengan kebutuhan digital masyarakat modern. Sementara itu, kemitraan antara perguruan tinggi dan dunia usaha dan industri (DUDI) menjadi kunci untuk menyatukan teori dan praktik. Melalui kolaborasi semacam ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana literasi dan numerasi diaplikasikan dalam konteks nyata, mulai dari analisis pasar, pengelolaan data, hingga etika AI dalam dunia kerja.
Kesimpulan
AI dapat menghasilkan teks, menghitung probabilitas, bahkan membaca pola. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Di sinilah literasi dan numerasi memainkan peran vital. Ketika dipahami sebagai kompetensi masa depan, literasi dan numerasi tidak sekadar alat belajar, tetapi alat untuk hidup. Keduanya memastikan bahwa manusia tetap memegang kendali, mampu menilai, dan mampu memilih dan memilah informasi yang benar di tengah derasnya arus teknologi. Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Yang membuatnya bermakna adalah human touch yang menghadirkan pikiran kritis, kepekaan etis, dan kemampuan bernalar yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami