Kontak Kami

Artikel | Opini

Kampus sebagai Inkubator Literasi AI: Menumbuhkan Literasi AI dari Ruang Kelas ke Masyarakat

18 Agu 2026

Oleh: Wahyu Ananda Konik Purbaningrum – Dosen Universitas BPD

SEVIMA – Beberapa waktu lalu saya mengajar mata kuliah yang membahas tentang teknologi pembelajaran. Saat saya menyinggung soal Artificial Intelligence atau AI, beberapa mahasiswa sangat antusias. Mereka bercerita tentang desain otomatis dan asisten digital. Tapi ada juga yang justru terlihat khawatir. Salah satu dari mereka bertanya, “Bu, nanti kalau semua pakai AI, apa dosen masih dibutuhkan?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi menohok. Di satu sisi, mahasiswa sudah cukup sadar bahwa AI mulai mengubah cara kita bekerja dan belajar. Tapi di sisi lain, mencul ketakutan bahwa teknologi bisa menggantikan manusia. Dari situ saya sadar, pemahaman tentang AI masih perlu dibangun dengan cara yang lebih membumi dan kampus punya peran penting untuk itu.

Menurut saya, kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat belajar teori atau riset, tetapi juga menjadi inkubator literasi AI bagi masyarakat. Tempat di mana pengetahuan AI tidak berhenti di ruang kelas, tapi mengalir ke sekitar.

Kita sering bicara tentang transformasi digital di dunia pendidikan. Namun, di luar kampus, banyak orang yang bahkan belum tahu apa itu AI. Ada guru, pelaku UMKM, dan warga biasa yang masih menganggap AI sebagai sesuatu yang rumit atau berbahaya. Padahal, tanpa disadari mereka sudah berinteraksi dengan AI setiap hari, saat berbelanja online, menonton video, atau memakai ponsel. Di sinilah kampus bisa hadir untuk menjembatani kesenjangan literasi teknologi.

Kampus dapat berperan sebagai edukator, inovator dan fasilitator. Sebagai edukator, dosen dan mahasiswa bisa mengadakan pelatihan sederhana tentang cara menggunakan AI untuk hal-hal praktis, menulis, membuat desain, atau mengelola data. Sebagai inovator, civitas akademika dapat membuat proyek kecil berbasis kebutuhan lokal, misalnya sistem prediksi panen, asisten belajar berbasis suara, atau chatbot pelayanan publik desa. Dan sebagai fasilitator, kampus bisa membuka ruang belajar digital bagi guru dan masyarakat sekitar.

Saya pernah mendengar cerita dari teman dosen di kampus lain. Beliau mengajak mahasiswa KKN mengajarkan warga desa membuat promosi produk lokal dengan bantuan AI desain. Hasilnya luar biasa, bukan hanya produknya jadi lebih menarik, namun warga juga jadi percaya diri menggunakan teknologi baru. Cerita-cerita kecil seperti ini membuktikan bahwa literasi AI tidak harus mahal atau rumit. Terkadang, cukup dengan kemauan untuk berbagi.

Dampak dari kegiatan seperti itu tidak hanya terasa bagi masyarakat, akan tetapi juga bagi mahasiswa. Mereka belajar nilai kemanusiaan dibalik teknologi, bahwa AI bukan tentang menggantikan manusia, tetapi membantu manusia bekerja lebih baik. Kampus pun mendapat nilai tambah, bukan hanya dikenal karena prestasi akademik, tapi karena kontribusinya dalam membangun literasi digital di lingkungannya.

Saya yakin, menjadikan kampus sebagai inkubator literasi AI tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mulailah dari kelas, dari dosen yang memberi contoh etika menggunakan AI dengan benar atau dari mahasiswa yang mau berbagi pengalaman dengan teman-temannya. Lama-lama kebiasaan kecil tersebut tumbuh menjadi budaya baru.

Pada akhirnya, literasi AI bukan hanya tentang kemampuan memakai alat pintar, tapi tentang cara kita memahami perubahan zaman tanpa kehilangan sisi manusiawi. AI bisa menulis, menggambar dan menganalisis, tapi tidak bisa merasakan empati, tanggung jawab, dan niat baik. Tugas kampuslah untuk memastikan nilai-nilai itu tetap hidup, agar teknologi tidak menguasai manusia, melainkan menjadi bagian dari perjalanan kita menuju masyarakat yang lebih cerdas dan bijak.

Diposting Oleh:

Yasmin SEVIMA

Tags:

opini

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Ijazah Bagus tapi Karakter Nol, Buat Apa? | Ngobrol Bersama Rektor Univ Nahdlatul Ulama Cirebon

Mari Diskusi