UPB Pontianak Gelar Clinical Dry Needling Certificate Batch 10 Berstandar Internasional
21 Agu 2026
Oleh: Sinarman Jaya – Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu
SEVIMA – Beberapa tahun terakhir, ruang kelas saya berubah. Mahasiswa datang dengan laptop, smartphone, dan akses mudah ke ChatGPT, Grammarly, atau QuillBot. Sekilas, ini seperti mimpi: tugas cepat selesai, tulisan rapi, argumen tampak kuat. Tapi saya tetap bertanya-tanya: apakah mereka benar-benar belajar, atau sekadar menyalin jawaban dari mesin?
Awalnya saya khawatir. Tapi lama-lama saya menyadari bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan refleksi cara kita berpikir. Ini merupakan gambaran nyata tentang bagaimana kampus membimbing mahasiswa memahami proses berpikir mereka sendiri. Tanpa bimbingan, AI memang mempermudah, tetapi bisa mengurangi kreativitas dan kemandirian (Vieriu & Petrea, 2025). Dengan arahan tepat, AI menjadi teman belajar yang memperkuat kemampuan kritis.
Peran kampus sangat penting. Mahasiswa tidak cukup hanya punya akses ke teknologi. Mereka juga perlu dibekali kemampuan literasi digital, yaitu bagaimana membaca, menilai, dan menggunakan informasi dengan bijak. AI bisa membantu menulis, menganalisis data, atau menyusun argumen. Namun, mahasiswa tetap harus memilih ide yang relevan, mana yang perlu dikembangkan, dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Etika akademik tetap menjadi pertimbangan utama bagi mahasiswa dan pengajar. Kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia saat mereka memilih untuk menulis sendiri atau sepenuhnya menggunakan bantuan AI (Lund dkk, 2025).
Data menunjukkan AI kini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas belajar mahasiswa. Survei Chegg Global Student Survey 2025 menemukan bahwa hampir 80 % mahasiswa secara rutin menggunakan AI untuk mendukung tugas akademik mereka. Survei lokal di tiga universitas Indonesia memperlihatkan tren serupa: 85 % mahasiswa menggunakan ChatGPT, 70 % Grammarly, dan 60 % QuillBot untuk memperbaiki tulisan dan menyusun argument (Sain & Laval, 2024). Angka ini menunjukkan peluang besar sekaligus tanggung jawab: AI bisa memperkuat pembelajaran, tetapi hanya jika digunakan secara bijak.
Di kelas, saya mencoba cara sederhana untuk menjaga keseimbangan antara pola belajar manusia dan bantuan AI. Mahasiswa membuat draf menggunakan AI, lalu menulis refleksi tentang apa yang mereka ubah, tambahkan, atau abaikan dari saran AI. Kegiatan ini membuat mahasiswa lebih menyadari pentingnya pemahaman dan etika saat menggunakan AI. Mereka tidak hanya belajar menulis, tetapi juga berpikir, menilai, dan berkreasi. AI bukan pengganti manusia, melainkan alat bantu yang mendorong mereka agar berpikir lebih kritis dan kreatif.
Peran dosen pun ikut berubah. Dari pengajar, kami kini menjadi fasilitator, mentor, dan pengawas proses belajar. Tantangan ini menuntut fleksibilitas serta keberanian mencoba cara-cara baru. Kampus juga harus tanggap, dengan kebijakan yang jelas, sumber daya yang memadai, dan budaya akademik yang mendukung penggunaan AI secara bijak, termasuk literasi digital dan etika. Hal ini tercermin dalam survei yang menunjukkan lebih dari 75 % responden mendukung adanya pendidikan dan transparansi terkait AI di perguruan tinggi (Sain & Laval, 2024). Keberhasilan integrasi AI tidak hanya tergantung pada teknologi, tetapi juga pada keterampilan pengajar dalam membimbing mahasiswa agar tetap berpikir kritis. Dengan dukungan ini, mahasiswa dapat menggunakan AI sebagai alat yang memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan proses kreatif dan reflektif mereka.
Penggunaan AI juga menuntut mahasiswa untuk lebih aktif dalam belajar. Mereka tidak bisa sekadar menerima saran dari AI, tetapi harus memilih mana ide yang relevan, mana yang kuat, dan bagaimana menyusunnya agar masuk akal. Proses ini melatih kemampuan berpikir kritis, menilai informasi, dan merefleksikan keputusan mereka sendiri. Dengan begitu, mahasiswa memahami bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan jalan pintas, dan kreativitas tetap bergantung pada usaha mereka. Pendekatan ini membuat pembelajaran di era digital menjadi lebih manusiawi, seimbang, dan bermakna.
Kita boleh optimis mengenai peran AI dalam pembelajaran, tetapi tetap bijak saat memanfaatkan AI dalam kegiatan belajar. Banyak mahasiswa yang menggunakan AI, meskipun tidak semua tahu bagaimana memeriksa fakta atau menilai jawaban AI dengan kritis (Freeman, 2025). Di sinilah literasi digital dan etika akademik menjadi sangat penting. Kampus bukan sekadar tempat menimba pengetahuan. Di sinilah mahasiswa belajar berpikir kritis, berkreasi, dan bertanggung jawab atas proses belajar mereka sendiri.
AI adalah peluang sekaligus tanggung jawab. Jika kampus mampu mengintegrasikannya dengan literasi digital dan etika akademik, mahasiswa akan tumbuh menjadi profesional yang kompeten dan bermoral. Tantangan terbesar bukan pada teknologi itu sendiri, tapi pada kemampuan kita menciptakan lingkungan akademik yang bijak dan reflektif. Dengan demikian, AI menjadi teman belajar, bukan pengganti. Kampus tetap menjadi tempat mahasiswa berpikir, berkreasi, dan bertindak dengan bijak.
Referensi
Freeman, J. (2025). Student generative AI survey 2025. Higher Education Policy Institute, 61(1), 1–12. https://www.hepi.ac.uk/reports/student-generative-ai-survey-2025/
Lund, B. D., Lee, T. H., Mannuru, N. R., & Arutla, N. (2025). AI and academic integrity: Exploring student perceptions and implications for higher education. Journal of Academic Ethics, 23(3), 1545–1565. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s10805 025 09613 3
Sain, Z. H., Laval, U. S. (2024). Morality in higher education’s AI integration: Examining ethical stances on implementation. Indonesian Journal of Education and Social Studies, 31(3), 23–37. https://doi.org/10.33650/ijess.v3i1.8405 LicenseCC BY-NC-SA 4.0
Vieriu, A. M., & Petrea, G. (2025). The impact of Artificial Intelligence (AI) on students’ academic development. Education Sciences, 15(3), 343–358. https://doi.org/https://doi.org/10.3390/educsci15030343
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami