USN Kolaka Resmi Punya Rektor Baru: Syarifuddin Tundreng Dilantik untuk Periode 2026–2030
24 Agu 2026
23 Agu 2026
SEVIMA – Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menekankan pentingnya seluruh perguruan tinggi untuk segera bertransformasi di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi digital. Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum APTISI, Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., dalam acara silaturahmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTISI I Tahun 2026 di Mahan Agung, Bandar Lampung, yang turut dihadiri Gubernur Lampung.
Menurut Budi, kemudahan akses informasi melalui platform digital telah meruntuhkan sekat-sekat ruang kelas tradisional. Perubahan cepat ini menuntut perguruan tinggi untuk adaptif dalam memperbarui tata kelola, kurikulum, hingga orientasi kompetensi para lulusannya.
Pergeseran Menuju Outcome-Based Education
Guna menjawab tantangan zaman, APTISI mendorong kampus menggeser paradigma lama menuju outcome-based education (pendidikan berbasis capaian). Melalui pendekatan ini, tolok ukur keberhasilan tidak lagi dihitung dari lamanya proses perkuliahan atau banyaknya mata kuliah, melainkan pada keahlian nyata lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
“Dulu kita belajar hanya kepada dosen dan guru. Sekarang ilmu ada di mana-mana. Karena itu, kampus harus mampu menyesuaikan diri,” ujar Budi. Ia menegaskan bahwa disrupsi AI yang begitu cepat mengharuskan perguruan tinggi swasta (PTS) berani melakukan inovasi berkelanjutan.
Langkah Strategeis Transformasi Kampus Digital
Dalam merespons arus teknologi, Budi menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh pada berbagai lini ekosistem kampus. Pertama pembaruan kurikulum & regulasi yakni mengoreksi sistem pembelajaran serta regulasi internal kampus agar lebih lincah merespons tren teknologi. Kedua peningkatan kapasitas SDM, dengan mendorong para dosen dan tenaga pendidik untuk menguasai integrasi AI dalam proses pengajaran. Dan ketiga penguatan relevansi lulusan, yakni memastikan setiap capaian pembelajaran berdampak langsung pada solusi kebutuhan industri modern.
Meski AI mampu mempercepat pengolahan data dan efisiensi kerja, Budi menggarisbawahi bahwa teknologi tidak dapat menggantikan pembentukan karakter dan moralitas manusia. Penguasaan teknologi tinggi tetap wajib dibentengi oleh etika, tanggung jawab, serta nilai-nilai spiritual.
“Perguruan tinggi yang akan tetap didatangi mahasiswa adalah kampus yang mampu mengajarkan akhlak,” tegas Budi.
Melalui momentum Rakernas APTISI I Tahun 2026, diharapkan lahir berbagai gagasan strategis dan kebijakan konkret. Sinergi antara kecanggihan teknologi dan penguatan karakter dipercayai menjadi kunci utama dalam mencetak generasi unggul yang berdaya saing global sekaligus berintegritas tinggi.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami