Universitas Sains dan Teknologi Komputer Hadirkan Duta Inklusi dalam Program Kakak Asuh–Adik Asuh di SLB Negeri Karanganyar
14 Apr 2026
Agroteknologi (Agronomi dan Hortikultura) mengkaji ilmu dan teknologi budidaya tanaman untuk produksi pangan, perkebunan, dan hortikultura: fisiologi tanaman, ilmu tanah, proteksi tanaman, pemuliaan tanaman, teknologi benih, ekofisiologi tanaman, sistem pertanian berkelanjutan, dan bioteknologi pertanian. Sarjana agroteknologi yang kompeten tidak hanya bisa menanam tanaman, tetapi mampu mengoptimalkan sistem produksi tanaman berdasarkan pemahaman mendalam tentang interaksi tanaman-tanah-iklim, mengelola hama dan penyakit tanaman secara terpadu, mengaplikasikan teknologi pertanian presisi untuk meningkatkan produktivitas, mengembangkan varietas unggul melalui pemuliaan, dan berkontribusi pada ketahanan pangan Indonesia. Di Indonesia yang membutuhkan peningkatan produktivitas pertanian, sarjana agroteknologi yang kompeten sangat strategis.
Outcome-Based Education (OBE) memastikan kurikulum Prodi Agroteknologi dirancang dari kompetensi yang benar-benar dibutuhkan Kementan, perusahaan perkebunan, lembaga riset, dan lembaga yang membutuhkan sarjana agroteknologi yang kompeten.
Precision agriculture dan sensor-based crop monitoring, climate-smart agriculture dan crop adaptation, gene editing dalam pemuliaan tanaman (CRISPR), vertical farming dan controlled environment agriculture, serta regenerative agriculture dan soil health management adalah kompetensi sarjana agroteknologi modern. Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 mendorong kurikulum yang selaras dengan kebutuhan pertanian Indonesia yang produktif, berkelanjutan, dan mampu menghadapi perubahan iklim.
Berdasarkan buku Sukses Susun Kurikulum Outcome Based Education (OBE) dari SEVIMA, PL menjawab peran profesional lulusan. Contoh PL: Agronomist di perusahaan perkebunan yang mengoptimalkan sistem produksi tanaman; Plant Breeder di lembaga riset yang mengembangkan varietas unggul; Crop Protection Specialist yang mengelola hama dan penyakit tanaman secara terpadu; serta Precision Agriculture Specialist yang mengimplementasikan teknologi pertanian presisi.
CPL harus menyelaraskan SN-Dikti, KKNI Level 6, dan standar dari Perhimpunan Agronomi Indonesia dan komunitas pertanian Indonesia. Contoh CPL: Mampu menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan hasil tanaman menggunakan prinsip-prinsip fisiologi tanaman dan ekofisiologi yang menghasilkan pemahaman yang komprehensif tentang limitasi produktivitas dan peluang optimasi dalam sistem produksi yang spesifik, merancang dan mengelola sistem produksi tanaman yang optimal menggunakan praktik agronomi yang sesuai kondisi agroekosistem yang menghasilkan produktivitas yang optimal dengan mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya dan kelayakan ekonomi, mengelola gangguan hama, penyakit, dan gulma tanaman menggunakan pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT) yang menghasilkan pengendalian yang efektif dengan penggunaan pestisida yang minimal dan risiko lingkungan yang terkendali, serta merancang dan melaksanakan percobaan pertanian menggunakan rancangan percobaan yang sesuai dan analisis data yang tepat yang menghasilkan data yang valid tentang pengaruh faktor agronomi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
Libatkan Kementan, perusahaan perkebunan, BRIN, komunitas agronomi Indonesia, dan petani maju dalam validasi PL dan CPL. Rancang praktik lapangan dan magang di perusahaan perkebunan/lembaga riset sebagai jalur CPL. Integrasikan kompetensi crop physiology & management, integrated pest management, dan agricultural experimentation dalam CPL. Masukkan precision agriculture technology dan climate-smart agriculture sebagai kompetensi masa depan. Evaluasi CQI berkala sesuai perkembangan teknologi pertanian dan kebutuhan ketahanan pangan Indonesia.
Prodi Agroteknologi yang mengimplementasikan OBE dengan PL dan CPL yang tepat menghasilkan sarjana yang tidak hanya kompeten dalam ilmu dan teknologi budidaya tanaman, tetapi juga memiliki kecintaan pada alam dan pertanian yang membuat mereka puas bekerja di lapangan memahami hubungan yang rumit antara tanaman, tanah, air, dan iklim, kepedulian terhadap petani Indonesia yang membutuhkan teknologi yang terjangkau dan sesuai konteks bukan hanya teknologi mutakhir yang tidak bisa mereka akses, dan keyakinan bahwa Indonesia yang memiliki lahan dan iklim yang mendukung beragam tanaman seharusnya bisa menjadi lumbung pangan yang tidak hanya mencukupi kebutuhan sendiri tapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan global. Dari pengalaman SEVIMA mendampingi lebih dari 1.200 perguruan tinggi, program agroteknologi dengan OBE yang solid menghasilkan lulusan yang kompetitif di ekosistem pertanian nasional.
Bagaimana praktik lebih detil penyusunan Kurikulum OBE dan Profilnya, Buku “Sukses Susun Kurikulum Outcome Based Education (OBE) dengan Rumusan Profil Lulusan (PL) dan Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi (CPL Prodi) yang Tepat” dari SEVIMA sangat direkomendasikan karena menjawab tantangan mendesak yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia: ketidakselarasan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan pendekatan “backward design” yang dimulai dari analisis kebutuhan pemangku kepentingan (mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan). Buku ini memberikan solusi konkret dan terstruktur untuk mengubah perguruan tinggi dari “pencetak pengangguran terdidik” menjadi penghasil lulusan yang kompeten dan relevan. Panduan praktis yang disertakan, mulai dari checklist, template, hingga tahapan implementasi memudahkan perguruan tinggi untuk langsung mengaplikasikan konsep OBE tanpa harus memulai dari nol. Yuk, download sekarang, GRATIS di: sevima.com/ebook
Diposting Oleh:
ilhamfe45465277
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami