Universitas Sains dan Teknologi Komputer Hadirkan Duta Inklusi dalam Program Kakak Asuh–Adik Asuh di SLB Negeri Karanganyar
14 Apr 2026
14 Apr 2026
Kesejahteraan Sosial (Social Work) mengkaji teori dan praktik pekerjaan sosial untuk membantu individu, keluarga, kelompok, dan komunitas dalam memecahkan masalah sosial dan meningkatkan kesejahteraan: teori pekerjaan sosial, asesmen sosial, intervensi kasus, pengembangan komunitas, kebijakan sosial, advokasi, dan penelitian pekerjaan sosial. Pekerja sosial yang kompeten tidak hanya bisa memberikan bantuan sosial, tetapi mampu menganalisis masalah sosial secara komprehensif menggunakan perspektif ekologis, melaksanakan intervensi yang berbasis kekuatan dan partisipatif, mengadvokasi perubahan kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan, mengembangkan komunitas secara berkelanjutan, dan berkontribusi pada sistem kesejahteraan sosial Indonesia yang inklusif dan berkeadilan. Di Indonesia dengan berbagai masalah sosial yang kompleks, pekerja sosial yang kompeten sangat strategis.
Outcome-Based Education (OBE) memastikan kurikulum Prodi Kesejahteraan Sosial dirancang dari kompetensi yang benar-benar dibutuhkan Kemensos, LKSA, NGO, dan lembaga yang membutuhkan pekerja sosial yang kompeten.
Digital social work dan teleservices, trauma-informed social work dan adverse childhood experiences, anti-oppressive practice dan decolonial social work, palliative social work dan end-of-life care, serta social entrepreneurship dan impact investment untuk kesejahteraan sosial adalah kompetensi pekerja sosial modern. Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 mendorong kurikulum yang selaras dengan kebutuhan pekerjaan sosial Indonesia yang profesional, berbasis hak, dan berkontribusi pada kesejahteraan seluruh rakyat.
Berdasarkan buku Sukses Susun Kurikulum Outcome Based Education (OBE) dari SEVIMA, PL menjawab peran profesional lulusan. Contoh PL: Case Worker di Dinas Sosial yang menangani kasus masalah sosial; Community Development Officer di NGO yang mendampingi pengembangan komunitas; Social Policy Analyst yang menganalisis dan merumuskan kebijakan kesejahteraan sosial; serta School Social Worker yang memberikan dukungan sosial kepada siswa dan keluarga.
CPL harus menyelaraskan SN-Dikti, KKNI Level 6, dan standar dari IPSPI (Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia). Contoh CPL: Mampu melaksanakan asesmen sosial yang komprehensif menggunakan pendekatan ekologis dan berbasis kekuatan yang menghasilkan pemahaman yang mendalam tentang situasi, kebutuhan, dan sumber daya klien/komunitas sebagai dasar perencanaan intervensi yang tepat, melaksanakan intervensi pekerjaan sosial (case management, konseling sosial, terapi kelompok, pengembangan komunitas) menggunakan pendekatan yang berbasis bukti dan berpusat pada klien yang menghasilkan peningkatan fungsi sosial dan kesejahteraan klien/komunitas yang terukur, mengadvokasi hak-hak kelompok rentan (anak, lansia, penyandang disabilitas, perempuan) menggunakan strategi advokasi kebijakan yang efektif yang menghasilkan perubahan kebijakan atau praktik yang memperbaiki kondisi kelompok tersebut, serta memfasilitasi pengembangan komunitas menggunakan pendekatan partisipatif dan asset-based community development yang menghasilkan peningkatan kapasitas komunitas dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah sosialnya secara mandiri.
Libatkan IPSPI, Kemensos, Dinas Sosial, LKSA, NGO, dan komunitas pekerja sosial Indonesia dalam validasi PL dan CPL. Rancang praktik pekerjaan sosial terstruktur di berbagai setting dan magang di lembaga sosial sebagai jalur CPL. Integrasikan kompetensi social work assessment, social work intervention, dan community development dalam CPL. Masukkan digital social work dan trauma-informed practice sebagai kompetensi masa depan. Evaluasi CQI berkala sesuai standar IPSPI dan kebutuhan sistem kesejahteraan sosial Indonesia.
Prodi Kesejahteraan Sosial yang mengimplementasikan OBE dengan PL dan CPL yang tepat menghasilkan pekerja sosial yang tidak hanya kompeten dalam teori dan praktik pekerjaan sosial, tetapi juga memiliki komitmen terhadap keadilan sosial yang tidak bisa menerima begitu saja kondisi struktural yang secara sistematis merugikan kelompok yang paling rentan, kemampuan untuk melihat kekuatan dan sumber daya yang ada pada klien dan komunitas yang sering tidak terlihat karena tersembunyi di balik kesulitan, dan keyakinan bahwa pekerjaan sosial yang terbaik adalah yang memberdayakan klien untuk menjadi agen perubahan dalam hidupnya sendiri bukan menciptakan ketergantungan pada bantuan. Dari pengalaman SEVIMA mendampingi lebih dari 1.200 perguruan tinggi, program kesejahteraan sosial dengan OBE yang solid menghasilkan lulusan yang kompetitif di ekosistem layanan sosial nasional.
Bagaimana praktik lebih detil penyusunan Kurikulum OBE dan Profilnya, Buku “Sukses Susun Kurikulum Outcome Based Education (OBE) dengan Rumusan Profil Lulusan (PL) dan Capaian Pembelajaran Lulusan Program Studi (CPL Prodi) yang Tepat” dari SEVIMA sangat direkomendasikan karena menjawab tantangan mendesak yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia: ketidakselarasan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan pendekatan “backward design” yang dimulai dari analisis kebutuhan pemangku kepentingan (mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan). Buku ini memberikan solusi konkret dan terstruktur untuk mengubah perguruan tinggi dari “pencetak pengangguran terdidik” menjadi penghasil lulusan yang kompeten dan relevan. Panduan praktis yang disertakan, mulai dari checklist, template, hingga tahapan implementasi memudahkan perguruan tinggi untuk langsung mengaplikasikan konsep OBE tanpa harus memulai dari nol. Yuk, download sekarang, GRATIS di: sevima.com/ebook
Diposting Oleh:
ilhamfe45465277
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami