Kemdiktisaintek Perkuat Diseminasi Program dan Riset untuk Dukung Agenda Pembangunan Nasional
21 Apr 2026
SEVIMA – Menjelang penutupan pelaporan, Neo Feeder sering terasa seperti titik paling tegang di kampus. Bukan karena aplikasinya semata, melainkan karena semua simpul kerja berkumpul di sana: validasi data, sinkronisasi, checkpoint, login admin, sampai OTP yang menentukan akses. Dalam surat edaran LLDIKTI Wilayah IV berjudul “Surat Edaran Batas Pelaporan PDDIKTI Semester 2024-1” tertanggal 8 April 2025, kampus diminta segera menyampaikan laporan dan melakukan sinkronisasi sebelum periode pelaporan ditutup otomatis. Nada yang sama muncul dalam “Pemberitahuan Pelaporan PDDikti Semester 2024/2025 Ganjil” dari LLDIKTI Wilayah XVII, yang juga menegaskan checkpoint di PDDIKTI Neo Feeder dan batas penutupan 30 April 2025.
Artinya, ketika akses Neo Feeder tertahan, yang terhambat bukan hanya pekerjaan operator. Yang ikut tertahan adalah ritme pelaporan institusi. Itu sebabnya isu OTP, email verifikasi, atau akun admin tidak layak diperlakukan sebagai gangguan kecil. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 31 Tahun 2022 tentang Satu Data Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, data harus akurat, mutakhir, terpadu, dapat dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan dibagipakaikan. Jadi, friksi akses pada Neo Feeder sesungguhnya berhubungan langsung dengan tata kelola data kampus.
Pukul 20.47 pada pekan terakhir pelaporan. Operator sudah menyiapkan data, bagian akademik menunggu sinkronisasi terakhir, dan pimpinan meminta kepastian apakah laporan akan selesai malam itu. Username masih bisa dipakai, tetapi OTP tidak kunjung masuk ke nomor yang terdaftar. Saat nomor hendak dicek, tidak ada yang benar-benar yakin siapa pemegang akun master terakhir. Email admin lama masih aktif di sistem, tetapi orang yang dulu mengelolanya sudah pindah tugas.
Masalah seperti itu jarang muncul mendadak. Biasanya ia sudah tumbuh pelan sejak jauh hari. Kampus menunda audit akun. Perubahan personel tidak diikuti pembaruan jalur verifikasi. Sinkronisasi ditumpuk mendekati hari terakhir. Akhirnya, yang terlihat di permukaan hanya satu gejala: Neo Feeder sulit diakses. Padahal sumbernya ada pada tata kelola akses yang tidak pernah dibereskan dari awal.
Ada tiga titik yang paling sering membuat akses tersendat.
Pertama, akun master PDDIKTI tidak dikelola sebagai aset institusi. Dalam imbauan LLDIKTI Wilayah IV berjudul “Imbauan Pembuatan Akun Master PDDIKTI bagi Perguruan Tinggi Swasta” tertanggal 30 April 2025, perguruan tinggi yang belum memiliki akun master PDDIKTI diminta segera membuatnya karena Pusat akan menonaktifkan akun perguruan tinggi yang belum memiliki akun master. Ini pesan yang sangat jelas. Akses PDDIKTI bukan urusan personal operator. Ia adalah kontrol institusional yang harus rapi sejak awal.
Kedua, jalur verifikasi tidak dipastikan aktif. Dalam “FAQ Akun Master PDDIKTI PT”, LLDIKTI Wilayah I menuliskan bahwa proses aktivasi akun mencakup verifikasi email dan verifikasi nomor HP atau WA aktif dengan OTP. FAQ yang sama juga menegaskan bahwa jika OTP tidak masuk, perguruan tinggi perlu segera menginformasikan hal itu kepada Tim Kerja Data dan Sistem Informasi LLDIKTI Wilayah I agar diteruskan ke Tim PDDIKTI Pusat. Dengan kata lain, jalur eskalasinya sudah ada. Yang sering tidak ada justru disiplin untuk memeriksa lebih awal apakah email dan nomor WA itu masih benar-benar dikuasai oleh tim yang bertugas.
Ketiga, sinkronisasi masih diperlakukan sebagai pekerjaan ujung periode. Padahal surat edaran pelaporan PDDIKTI berulang kali menekankan kebutuhan sinkronisasi sebelum periode ditutup otomatis. Jika pengiriman data baru dikejar di hari terakhir, kampus kehilangan ruang untuk mengatasi antrian, koreksi data, atau gangguan verifikasi. Yang melelahkan bukan hanya sistemnya. Yang melelahkan adalah keputusan untuk memadatkan semua risiko pada satu malam yang sama.
Berikut langkah paling praktis untuk mencegah akses Neo Feeder tersendat ketika tenggat sudah dekat.
Langkah di atas terlihat sederhana. Justru karena sederhana, ia sering diabaikan. Padahal untuk pimpinan kampus, nilai utamanya ada pada pengurangan risiko. Kampus tidak perlu menunggu error besar untuk menata akses. Cukup perlakukan Neo Feeder sebagai bagian dari manajemen kendali data, bukan sekadar aplikasi pelaporan.
Di sinilah peran rektor menjadi penting. Bukan untuk ikut menekan tombol sinkronisasi, melainkan untuk memastikan prosesnya tidak tergantung pada satu orang, satu laptop, atau satu nomor WA yang tidak pernah diaudit.
Mulailah dari empat pertanyaan ini dalam rapat singkat pekanan:
Empat pertanyaan itu terdengar operasional. Namun dampaknya sangat strategis. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran kerja operator, melainkan kepastian bahwa kampus bisa menjaga data akademiknya tetap rapi, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip itu sejalan dengan Permendikbudristek Nomor 31 Tahun 2022 yang menempatkan kualitas data sebagai dasar perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengendalian.
Sering kali pimpinan baru mengetahui ada hambatan saat deadline sudah dekat. Pada titik itu, semua percakapan berubah menjadi darurat. Operator ditanya terus-menerus. Tim akademik sibuk menelusuri siapa pemegang akses lama. Bagian IT dipanggil untuk mencari jalan cepat. Padahal jika tata kelola akunnya rapi sejak awal semester, malam menjelang tenggat tidak perlu berubah menjadi ruang panik.
Ada beberapa tanda yang mudah dibaca.
Pertama, tim kampus tidak punya dokumen ringkas tentang akun master, email verifikasi, nomor OTP, dan PIC cadangan. Kedua, pergantian personel belum diikuti pembaruan akses. Ketiga, sinkronisasi masih menunggu data menumpuk. Keempat, kampus baru mencoba login penuh saat deadline tinggal hitungan hari.
Jika satu saja dari tanda itu ada, maka persoalannya bukan pada Neo Feeder semata. Persoalannya ada pada ritme kerja yang masih reaktif. Surat edaran PDDIKTI dari LLDIKTI sudah berulang kali menekankan sinkronisasi dan checkpoint sebelum penutupan periode. Jadi, yang paling dibutuhkan bukan kepanikan baru, melainkan disiplin kerja yang lebih tenang dan terjadwal.
Ada satu aksi yang bisa dilakukan minggu ini tanpa menunggu perubahan besar.
Jadwalkan audit akses selama 20 menit. Undang bagian akademik, operator PDDIKTI, dan IT. Buka tiga hal di hadapan semua orang: akun master, email verifikasi, dan nomor WA OTP. Setelah itu, tetapkan siapa PIC utama dan siapa PIC cadangan. Lalu minta sinkronisasi dilakukan bertahap, bukan di ujung.
Langkah ini tidak memerlukan aplikasi baru. Tidak memerlukan proyek panjang. Namun efeknya besar karena kampus sedang memindahkan pekerjaan dari mode panik ke mode kendali. Itu yang membedakan kampus yang selalu kejar-kejaran deadline dengan kampus yang pelaporannya lebih tenang.
Pada akhirnya, Neo Feeder akan selalu menuntut ketelitian. Namun ketelitian itu tidak harus terasa melelahkan. Saat akun master tertata, jalur verifikasi aktif, dan sinkronisasi menjadi ritme mingguan, hambatan akses jauh lebih mudah diredam. Di banyak kampus, pendekatan seperti ini kemudian diperkuat oleh sistem akademik yang menyatukan data harian dengan kebutuhan pelaporan, sehingga pekerjaan menjelang penutupan periode tidak lagi menumpuk. Dari pengalaman pendampingan SEVIMA di berbagai perguruan tinggi, hambatan Neo Feeder biasanya mengecil ketika data dirawat sebagai proses rutin, bukan pekerjaan darurat menjelang tenggat.
Diposting Oleh:
Nazhelika SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami