Kemdiktisaintek Perkuat Diseminasi Program dan Riset untuk Dukung Agenda Pembangunan Nasional
21 Apr 2026
SEVIMA – Paperless admission bukan sekadar memindahkan formulir kertas ke layar. Bagi rektor, paperless admission adalah cara menata ulang biaya operasional PMB agar tidak habis di pos yang tidak terlihat. Kertas, tinta, map, pengiriman berkas, entri ulang data, verifikasi manual, dan penyimpanan arsip fisik sering tampak kecil jika dilihat satu per satu. Namun saat musim PMB berjalan penuh, pos-pos kecil itu berkumpul menjadi biaya yang terasa besar, tetapi jarang dibahas serius dalam rapat pimpinan.
Satu gelombang PMB di kampus swasta menengah. Tim promosi sudah bekerja. Iklan sudah jalan. Kunjungan sekolah sudah dilakukan. Pendaftar masuk cukup banyak. Namun, di belakang layar, panitia masih mencetak formulir, memindai ulang dokumen, mengecek satu per satu bukti bayar, menyalin data dari formulir ke spreadsheet, lalu memindahkan lagi ke sistem akademik. Tidak ada yang terlihat dramatis. Semuanya tampak “masih bisa dijalankan”. Justru di situlah kebocorannya.
Masalah utama PMB manual bukan hanya biaya cetak. Masalahnya adalah biaya rework. Satu data yang sama disentuh terlalu banyak orang. Calon mahasiswa mengisi formulir. Admin memeriksa. Keuangan mencocokkan pembayaran. Operator membuat rekap. BAAK menyalin ke basis data akademik. Setiap perpindahan itu memakan waktu. Setiap pengecekan ulang menciptakan biaya. Setiap salah ketik melahirkan koreksi. Pada titik ini, kampus belum benar-benar membeli efisiensi. Kampus baru memindahkan beban dari anggaran belanja ke jam kerja tim.
Ada dua alasan mengapa pendekatan ini semakin masuk akal. Pertama, perilaku pengguna sudah berubah. Berdasarkan artikel APJII berjudul “APJII Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang” yang terbit 7 Februari 2024, pengguna internet Indonesia mencapai 221.563.479 jiwa dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Artinya, sebagian besar calon mahasiswa sudah terbiasa mengisi formulir, mengunggah dokumen, dan menerima notifikasi secara digital.
Kedua, arah layanan pendidikan tinggi nasional juga bergerak ke proses yang makin efisien dan transparan. Pada laman BPPP Kemendikbud “Layanan: Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB)”, BP3 disebut bertujuan meningkatkan pengelolaan pengujian yang kredibel, adil, transparan, fleksibel, efisien, dan akuntabel. Nada yang sama muncul dalam artikel Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berjudul “Dirjen Diktiristek: Sistem SNPMB 2024 Dibuat Lebih Adil dan Transparan”, yang menegaskan sistem seleksi nasional dibangun agar proses penerimaan makin tertata. Di mata calon mahasiswa, layanan digital yang cepat dan terukur bukan lagi layanan tambahan. Itu sudah menjadi standar.
Secara sederhana, paperless admission adalah alur PMB end-to-end tanpa ketergantungan pada dokumen fisik sebagai media kerja utama. Pendaftaran dilakukan secara online. Dokumen diunggah dalam portal. Verifikasi berjalan di dashboard. Status pembayaran tercatat otomatis. Komunikasi berlangsung lewat notifikasi digital. Arsip tersimpan dalam sistem, bukan menumpuk di lemari. Definisi ini penting karena banyak kampus merasa sudah digital hanya karena formulir pendaftarannya online, padahal proses verifikasi dan rekapnya masih manual.
Penelitian MDPI berjudul “Paperless Technologies in Universities: Examination in Terms of Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT)” yang terbit 25 Maret 2024 menjelaskan bahwa teknologi informasi membuat pekerjaan organisasi berjalan lebih cepat dan mendorong proses yang sebelumnya berbasis kertas berpindah ke format paperless. Penelitian itu juga menekankan bahwa kampus membutuhkan dukungan lintas pemangku kepentingan agar penggunaan teknologi paperless benar-benar berjalan. Jadi, paperless admission bukan isu alat. Ini isu tata kelola.
Kampus biasanya menghitung biaya PMB dari pos besar: promosi, event, media placement, honor panitia, atau beasiswa. Yang sering lolos dari perhatian adalah biaya mikro yang muncul berulang. Misalnya, biaya cetak formulir dan bukti registrasi, tinta printer, pembelian map, penyimpanan dokumen, kurir internal, lembur verifikasi, dan waktu tunggu akibat pengecekan manual. Satu pos mungkin tampak kecil. Tetapi saat jumlah pendaftar naik, biaya ini tumbuh mengikuti volume.
Adobe menulis dalam artikel “How Going Paperless Can Help Your School Fight Inflation – Part 1: Classrooms” bahwa digitalisasi dan pengiriman satu dokumen secara elektronik dapat menghemat hingga 9,50 dolar AS dari sisi kertas, tinta, fax, dan ongkos kirim. Memang konteksnya sektor pendidikan secara umum, bukan PMB kampus Indonesia secara khusus. Namun pesannya jelas: biaya kertas hampir tidak pernah berhenti di harga kertas. Selalu ada biaya ikutannya.
Contoh yang lebih dekat dengan konteks admissions datang dari artikel Northwestern University berjudul “The Graduate School admissions goes paperless”. Ketika kantor admission mereka berhenti mencetak dan mengirim paket keputusan, mereka memperkirakan penghapusan sekitar 2.300 admission packets atau hampir 91.000 lembar kertas per tahun, plus 2.300 amplop. Ini menunjukkan satu keputusan sederhana pada alur admissions bisa langsung menghapus biaya cetak, pengemasan, dan pengiriman sekaligus.
Di kampus Indonesia, pola pemborosannya sering lebih luas. Bukan hanya surat keputusan atau kartu ujian. Ada bukti pendaftaran, checklist berkas, rekap calon mahasiswa, berita acara, sampai salinan untuk unit lain. Karena itu, saat pimpinan bertanya mengapa biaya PMB naik padahal jumlah panitia tidak bertambah banyak, jawabannya sering bukan di jumlah SDM. Jawabannya ada pada alur kerja yang terlalu banyak sentuhan manual.
Angka ini perlu dibaca dengan jernih. Bukan berarti seluruh biaya PMB kampus otomatis turun 50 persen begitu aplikasi dipasang. Yang lebih realistis adalah komponen biaya operasional administrasi PMB bisa turun mendekati angka itu ketika kampus sebelumnya sangat bergantung pada cetak, input berulang, verifikasi manual, dan pelacakan status yang tersebar di banyak file.
McKinsey dalam artikel “Operations management, reshaped by robotic automation” menulis bahwa operasi yang berhasil mengotomasi tugas manual dan repetitif dapat menurunkan biaya 30 sampai 60 persen sekaligus menaikkan kualitas delivery. Jika logika ini diterapkan ke PMB, maka angka “hingga 50%” masuk akal sebagai estimasi pada komponen administrasi yang paling repetitif, bukan janji mutlak untuk seluruh anggaran penerimaan mahasiswa baru. Ini adalah inferensi yang masuk akal, karena PMB penuh dengan pekerjaan administratif yang berulang: memeriksa kelengkapan, mencocokkan pembayaran, memindahkan data, dan mengirim pembaruan status.
Jadi, rektor tidak perlu memperdebatkan dulu apakah angkanya 42, 47, atau 50 persen. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa persen biaya PMB kita hari ini habis untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa selesai otomatis? Kalau jawabannya besar, maka paperless admission layak masuk prioritas.
Mulailah dari proses yang sudah berjalan. Jangan langsung bicara fitur. Minta tim mencatat empat hal selama dua minggu: jumlah dokumen yang dicetak, jumlah jam verifikasi manual, jumlah entri data ulang, dan jumlah koreksi data setelah pendaftaran. Dari sini kampus akan melihat sumber biaya yang selama ini terasa “normal”.
Langkah ini penting karena banyak kampus salah memulai. Mereka membeli sistem dulu, baru mencari masalah yang mau dipecahkan. Padahal paperless admission yang hemat selalu dimulai dari peta kerja manual yang paling boros.
Paperless admission hanya efektif jika alurnya menyambung. Formulir online tanpa upload dokumen yang rapi belum cukup. Upload dokumen tanpa verifikasi dashboard juga belum cukup. Dashboard tanpa integrasi pembayaran tetap menciptakan kerja ganda. Targetnya adalah satu alur: calon mahasiswa daftar, unggah berkas, bayar, diverifikasi, lalu menerima status secara otomatis.
Di titik ini, kata kuncinya adalah end-to-end. Kampus tidak butuh banyak aplikasi yang masing-masing terlihat bagus. Kampus butuh satu alur yang membuat tim PMB bekerja tanpa hambatan.
Biaya paling mahal di PMB sering bukan perangkat lunak. Biaya paling mahal adalah data yang dipindahkan berkali-kali. Begitu data pendaftar masuk, ia harus menjadi single source of truth bagi tim promosi, panitia PMB, keuangan, dan operator akademik. Jika satu nama masih harus diketik ulang tiga kali, maka kampus belum paperless. Kampus baru pindah media.
Manfaat terbesar dari langkah ini adalah akurasi. Calon mahasiswa tidak suka diminta mengirim ulang data yang sebenarnya sudah mereka isi. Tim internal juga cepat lelah jika harus memeriksa hal yang sama dari file yang berbeda.
Agar paperless admission tidak berhenti di slogan, pimpinan perlu meminta laporan mingguan dengan empat metrik:
Jika empat angka ini turun atau membaik, berarti digitalisasi PMB bekerja. Jika tidak berubah, berarti masalahnya bukan di alat, melainkan di desain proses.
Perubahan alur PMB sering gagal karena semua orang merasa terlibat, tetapi tidak ada yang benar-benar memimpin. Karena itu pembagian peran perlu jelas.
Rektor memegang keputusan arah dan target efisiensi. Wakil Rektor atau Ketua PMB memegang orkestrasi proses lintas unit. Kepala IT memastikan integrasi, keamanan akses, dan kestabilan sistem. BAAK atau operator memegang definisi data dan aturan verifikasi. Keuangan memastikan bukti pembayaran dan rekonsiliasi masuk dalam alur yang sama. Saat perannya tegas, siapa pun bisa mulai dari satu jalur penerimaan dulu, lalu diperluas bertahap.
Ini juga penting dari sisi budaya kerja. Paperless admission tidak meminta tim bekerja lebih keras. Paperless admission meminta tim berhenti mengerjakan hal yang sama berulang kali.
Pada akhirnya, tujuan paperless admission bukan sekadar mengurangi pembelian kertas. Tujuan utamanya adalah membuat biaya PMB lebih masuk akal, kerja panitia lebih ringan, keputusan lebih cepat, dan pengalaman calon mahasiswa lebih rapi. Kampus yang bergerak ke sini biasanya bukan kampus yang paling besar. Kampus yang berhasil justru kampus yang mau jujur melihat proses manualnya sendiri.
Jika Senin depan Bapak/Ibu ingin mulai, jangan langsung rapat soal fitur. Mulailah dari satu pertanyaan ini: berapa banyak pekerjaan PMB kita yang masih dibayar mahal hanya karena masih berbasis kertas dan entri ulang? Dari sana, paperless admission akan berubah dari jargon menjadi agenda efisiensi yang terukur.
Di lapangan, pendekatan seperti ini juga mulai dibangun dalam platform kampus end-to-end. Pada situs resminya, SEVIMA menempatkan PMB sebagai layanan “One Day Service Admission” dan menyebut lebih dari 1.000 perguruan tinggi telah bertransformasi dengan platformnya. Dalam artikel SEVIMA berjudul “76% Perguruan Tinggi Menyatakan Efisiensi Layanan Akademik Meningkat Signifikan Setelah Digitalisasi”, perusahaan itu juga melaporkan peningkatan efisiensi layanan akademik pascadigitalisasi. Bagi rektor, pesannya sederhana: paperless admission layak dibaca bukan sebagai proyek IT, tetapi sebagai cara mengembalikan biaya operasional PMB ke pos yang lebih produktif.
Diposting Oleh:
Nazhelika SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami