STIKes Sukabumi Gelar Kuliah Pakar Internasional, Kupas Tuntas Manajemen Perawatan Pasien dengan Trakeostomi
29 Mei 2026
29 Mei 2026
SEVIMA – Ancaman penyakit kecacingan masih menjadi persoalan kesehatan yang sering luput dari perhatian masyarakat. Di tengah perkembangan teknologi kesehatan global, Universitas Borneo Lestari menghadirkan ruang diskusi internasional yang mempertemukan akademisi, praktisi kesehatan, hingga peneliti lintas negara dalam kegiatan International Guest Lecture bertema “Bridging Laboratory Practice and Public Health: Local Strategies for STH Control in Kalimantan” pada Jumat, 15 Mei 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid melalui pertemuan offline di Auditorium Universitas Borneo Lestari serta daring melalui Zoom Meeting. Seminar internasional tersebut menjadi wadah kolaborasi ilmiah dalam membahas tantangan pengendalian Soil-Transmitted Helminths (STH) atau penyakit kecacingan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan.
Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor I, apt. M. Maulidie Alfiannor Saputera, M.Farm. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya sinergi antara praktik laboratorium, teknologi kesehatan, dan pendekatan kesehatan masyarakat dalam mendukung pengendalian penyakit tropis terabaikan seperti kecacingan.
Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman akademik dan praktik lapangan terkait pengendalian STH melalui pendekatan multidisiplin. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya memperkuat jejaring internasional, mendukung pengembangan riset kesehatan masyarakat, serta meningkatkan kapasitas mahasiswa dan tenaga kesehatan dalam menghadapi tantangan penyakit berbasis lingkungan di wilayah tropis.
Narasumber pertama, Dr. H. Anhar Ihwan, memaparkan materi mengenai peran Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan dalam surveilans dan pengendalian STH. Ia menjelaskan bahwa program pemberian obat cacing massal telah menjangkau 780.648 anak dari total sasaran 781.824 anak dengan cakupan mencapai 99,8 persen. Angka tersebut menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menekan angka kecacingan pada kelompok rentan, khususnya anak-anak usia sekolah.
Menurutnya, surveilans memiliki fungsi penting untuk memantau angka kejadian kecacingan, menentukan wilayah prioritas intervensi, hingga mengevaluasi efektivitas program pengobatan massal. Pengendalian STH juga tidak cukup dilakukan melalui pemberian obat saja, tetapi harus dibarengi dengan perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, serta keterlibatan aktif masyarakat.
Sementara itu, Prof. Ting Wu Chuang membawakan materi bertajuk “Bridging Technology and Public Health: Practical Applications of Geographic Information Systems for Vector-borne Diseases”. Ia menjelaskan bagaimana teknologi Geographic Information Systems (GIS) dan epidemiologi spasial mampu membantu surveilans penyakit berbasis lingkungan.
Dalam paparannya, GIS digunakan untuk memetakan distribusi penyakit, mengidentifikasi hotspot, memprediksi wabah, hingga mendukung pengambilan kebijakan kesehatan berbasis data. Teknologi modern seperti remote sensing, Web GIS, Machine Learning, dan Artificial Intelligence disebut memiliki peran besar dalam meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit menular di era digital.
Materi berikutnya disampaikan oleh dr. Lala Foresta Valentine Gunasari yang membahas kondisi infeksi STH di Indonesia dan Kalimantan Selatan. Ia menjelaskan bahwa wilayah Kalimantan memiliki karakteristik lingkungan yang mendukung penularan kecacingan, mulai dari kelembapan tinggi, curah hujan besar, hingga kondisi rawa dan gambut.
Ia juga menyoroti dampak serius infeksi kecacingan terhadap kesehatan anak, seperti malnutrisi, stunting, anemia, serta gangguan perkembangan fisik dan intelektual. Menurutnya, tantangan pengendalian STH tidak hanya terletak pada pengobatan, tetapi juga pada rendahnya sanitasi, keterbatasan diagnosis laboratorium, serta tingginya angka reinfeksi.
Pada sesi terakhir, Dian Nurmansyah memaparkan pentingnya penguatan diagnosis STH di fasilitas kesehatan primer. Ia menjelaskan berbagai metode pemeriksaan laboratorium seperti Kato-Katz, Mini-FLOTAC, hingga Baermann Funnel untuk mendeteksi infeksi cacing secara lebih akurat.
Menurutnya, tantangan utama di layanan kesehatan primer masih berkaitan dengan keterbatasan alat laboratorium, tenaga analis terlatih, dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan. Oleh karena itu, pendekatan frugal science atau teknologi sederhana berbiaya rendah menjadi solusi potensial dalam meningkatkan layanan diagnosis STH di daerah.
Melalui kegiatan ini, Universitas Borneo Lestari menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ilmu kesehatan masyarakat berbasis kolaborasi global. Diskusi lintas disiplin yang menghadirkan perspektif pemerintah, akademisi, teknologi, dan laboratorium diharapkan mampu memperkuat strategi pengendalian kecacingan secara berkelanjutan di Kalimantan maupun Indonesia.
Sumber: unbl.ac.id
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami