Kontak Kami

Artikel | Opini

Antara Etika dan Teknologi: Dosen Di Persimpangan Pemanfaatan AI

31 Jul 2026

Oleh: Santhi Pertiwi – Dosen PGSD Universitas Mohammad Husni Thamrin Jakarta

SEVIMA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengguncang dunia pendidikan tinggi. AI kini bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi “rekan kerja digital” dalam kegiatan mengajar, meneliti, bahkan menilai mahasiswa. Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan besar bagi para dosen: bagaimana tetap menjaga etika akademik dan etika ilmiah agar dunia kampus tidak kehilangan jati dirinya sebagai pusat kejujuran dan integritas ilmiah.

Etika akademik adalah nilai-nilai moral yang mengatur perilaku civitas akademika dalam kegiatan belajar dan mengajar, seperti kejujuran, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap karya orang lain. Sementara itu, etika ilmiah berkaitan dengan tata cara dan tanggung jawab moral dalam penelitian dan publikasi ilmiah — mulai dari cara mengumpulkan data, menulis, hingga menyampaikan hasilnya secara jujur. Dua hal inilah yang kini sedang diuji ketika teknologi AI masuk begitu cepat ke ruang kelas dan laboratorium kampus.

Bayangkan situasi saat ini. Mahasiswa bisa menulis makalah dalam waktu lima menit hanya dengan satu perintah sederhana di mesin AI. Dosen bisa menyusun soal ujian atau merancang bahan ajar dalam sekejap. Efisien? Tentu. Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: apakah proses belajar dan berpikir masih sungguh-sungguh dijalankan, atau semuanya hanya menjadi hasil otomatis tanpa sentuhan manusia?

Salah satu persoalan yang paling sering muncul adalah ketergantungan pada AI yang berlebihan. Banyak mahasiswa menggunakan AI untuk menulis esai, membuat presentasi, bahkan menyusun skripsi. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan kreativitas menjadi tumpul. Mereka memang menghasilkan tugas yang rapi, tapi kehilangan proses belajar yang seharusnya membentuk karakter ilmiah. Dosen dituntut lebih aktif mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.

Selain itu, muncul pula fenomena baru yang disebut “AI-giarisme” — atau plagiarisme yang dilakukan dengan bantuan kecerdasan buatan. Banyak karya ilmiah kini tampak bagus secara teknis, tetapi tidak bisa dijelaskan oleh penulisnya sendiri. Kasus seperti ini benar-benar terjadi di salah satu universitas negeri di Indonesia pada tahun 2024. Seorang mahasiswa kedokteran mengajukan proposal penelitian yang ternyata hampir seluruhnya ditulis dengan bantuan AI. Saat diuji oleh dosen, ia tidak mampu menjawab pertanyaan tentang isi penelitiannya sendiri. Setelah diselidiki, terbukti bahwa sebagian besar isi naskah berasal dari sistem AI generatif. Akhirnya, kampus tersebut mengeluarkan peraturan baru yang mewajibkan setiap mahasiswa menandatangani pernyataan etika akademik ketika menggunakan teknologi AI dalam karya ilmiah mereka.

Contoh tersebut menjadi cermin nyata bahwa kemudahan teknologi bisa menjadi jebakan ketika etika tidak dijaga. Tantangan ini tidak hanya dihadapi mahasiswa, tetapi juga dosen. Ada sebagian dosen yang tergoda menggunakan AI untuk menulis artikel ilmiah atau menyusun laporan penelitian tanpa mencantumkan bahwa sebagian hasilnya dihasilkan oleh mesin. Padahal, dalam etika ilmiah, transparansi adalah prinsip utama. AI boleh digunakan, tetapi penggunaannya harus jujur dan bisa dipertanggungjawabkan.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kesenjangan akses terhadap teknologi. Tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan atau fasilitas untuk menggunakan AI. Ada yang memiliki perangkat canggih dan langganan aplikasi berbayar, tapi ada pula yang kesulitan mengakses internet stabil. Dalam situasi seperti ini, dosen harus memastikan pembelajaran tetap adil dan tidak memihak hanya pada mereka yang memiliki keunggulan teknologi. Etika akademik bukan hanya tentang kejujuran intelektual, tetapi juga tentang keadilan dalam kesempatan belajar.

Di sisi lain, ada pula contoh baik dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang berupaya memanfaatkan AI secara etis. Misalnya, beberapa dosen di Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung menggunakan AI untuk membantu membuat simulasi interaktif atau memberikan umpan balik otomatis pada tugas mahasiswa. Namun sebelum diterapkan, mereka membuat pedoman etika penggunaan AI yang ketat. Mahasiswa diwajibkan mencantumkan bagian mana yang dibantu AI dan bagian mana yang merupakan hasil pemikiran sendiri. Dengan cara ini, AI benar-benar menjadi alat bantu yang memperkaya proses belajar, bukan mematikan kreativitas.

Lalu, apa yang bisa dilakukan dosen di tengah arus perubahan besar ini? Pertama, dosen perlu memperbarui peran dan pengetahuannya. Dosen tidak lagi cukup menjadi pengajar yang menyampaikan materi, tetapi juga harus menjadi pembimbing moral dan digital bagi mahasiswa. Mereka harus memberi contoh penggunaan AI yang bertanggung jawab. Kedua, kampus perlu memiliki kebijakan yang jelas mengenai batas dan aturan penggunaan AI dalam kegiatan akademik, baik untuk tugas kuliah maupun penelitian. Ketiga, penting bagi dosen untuk mendorong mahasiswa melakukan refleksi atas hasil kerja mereka sendiri — menilai, mengkritisi, dan memperbaiki hasil AI, bukan sekadar menerimanya begitu saja.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak bisa dihentikan. AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan akademik. Namun, kemajuan ini tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar yang menjadi napas pendidikan: kejujuran, integritas, dan tanggung jawab ilmiah. Dosen sebagai penjaga gerbang etika di perguruan tinggi memiliki tugas penting untuk memastikan bahwa teknologi tidak menggantikan nilai-nilai kemanusiaan, melainkan memperkuatnya.

Kita tentu ingin generasi muda tumbuh bukan hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak secara moral. Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita bisa menghasilkan sesuatu yang menentukan nilai pendidikan, tetapi seberapa jujur dan bermakna proses yang kita jalani untuk mencapainya.

Diposting Oleh:

Yasmin SEVIMA

Tags:

opini

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Kenalan dengan SEVIMA Platform Lite | Solusi Sistem Akademik untuk Kampus Baru dan Berkembang

Mari Diskusi