Kontak Kami

Artikel | Opini

Kampus sebagai Inkubator Literasi AI: Saat Tiga Literasi Tidak Lagi Cukup di Era Deepfake dan Otomatisasi

31 Jul 2026

Oleh: Rosni Lumbantoruan – Kepala Pusat Penelitian Institut Teknologi Del

SEVIMA – Pada era Artificial Intelligence (AI) saat ini, sebagian besar dari kita menggunakan AI tanpa berpikir panjang. Mahasiswa memakai OpenAI seperti ChatGPT untuk menyusun kerangka essai atau menemukan error pada kode program. Untuk menyelesaikan tugas sekolah, pelajar tidak lagi membuka buku referensi untuk mencari petunjuk penyelesaian soal, cukup memotret tugas, memasukkannya ke ChatGPT, dan jawabannya muncul beberapa detik kemudian. Pekerja kantor menggunakan Canva AI, Microsoft Copilot, atau generator infografis otomatis untuk menyusun presentasi dalam hitungan menit. Bahkan beberapa orang tua menggunakan AI untuk melihat simulasi pertumbuhan anak mereka dari waktu ke waktu, sebelum menyebarkannya di grup keluarga.

Jika Anda juga menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan Anda, berarti Anda sudah merasakan sedikit gambaran tentang apa yang sedang terjadi di dunia industri. Sektor hiburan, perusahaan konten digital, perbankan yang menggunakan AI untuk menilai risiko kredit, industri kesehatan yang mengembangkan layanan terpersonalisasi, hingga UMKM yang memanfaatkan AI prediksi permintaan, semua mulai bergeser ke pola kerja baru. Pada masa ini, mahasiswa yang memahami cara kerja aplikasi-aplikasi AI memiliki peluang besar untuk menjadi “navigator digital”, orang yang mampu memilih, mengarahkan, dan mengoptimalkan penggunaan teknologi secara bijak.

Laporan McKinsey tahun 2025 menunjukkan bahwa 88% perusahaan telah menggunakan AI setidaknya di satu unit bisnis, naik 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun temuan paling penting bukanlah tingkat adopsinya, melainkan kebutuhan baru perusahaan: mereka membutuhkan orang yang mampu membaca hasil AI dengan kritis, memahami batasan teknologi, menggabungkan kreativitas manusia dengan otomatisasi, dan mengarahkan penggunaan AI tetap etis. Inilah kompetensi yang kini dikenal sebagai literasi AI. Literasi AI bukan kemampuan teknis membangun model, tetapi kemampuan memahami cara berpikir AI dan menilai kapan AI dapat dipercaya dan kapan harus dikoreksi. Ibaratnya, industri sedang mencari sopir yang mahir membaca kondisi jalan, mengambil keputusan cepat, dan memastikan perjalanan aman, dan mencapai tujuan sesuai waktu yang dibutuhkan, bukan mekanik yang membangun mobilnya.

Namun, di balik pemanfaatan AI yang masif ini, ada sisi gelap yang tak banyak disadari. Semakin sering kita bergantung pada AI, semakin mudah kita kehilangan kemampuan berpikir kritis. Banyak yang lupa bahwa AI adalah mesin buatan manusia, dan seperti semua mesin, ia dapat melakukan kesalahan, memunculkan bias, bahkan berhalusinasi dengan menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan namun sepenuhnya fiktif. Ketika seseorang hanya melihat kemudahan yang ditawarkan AI tanpa memahami cara kerja di baliknya, ia rentan terjebak dalam keputusan yang menyesatkan.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang yang secara tradisional unggul dalam literasi membaca, numerasi, dan digital justru terjebak dalam kesalahan fatal ketika berhadapan dengan AI. Mereka mampu membaca teks panjang dan memahami argumen kompleks. Mereka mampu menganalisis data, menghitung peluang, dan menilai statistik. Mereka mahir menggunakan perangkat digital dan berbagai aplikasi produktivitas. Tetapi kemampuan-kemampuan itu tidak lagi cukup ketika informasi dapat diciptakan secara otomatis oleh mesin yang tahu persis bagaimana memanipulasi persepsi manusia.

Salah satu kasus nyata dari Bentley University di Massachusetts. Dalam kasus tahun 2022 ini, seorang dosen menjadi korban video buatan berbasis AI yang direkayasa oleh mantan mahasiswanya. Video tersebut memadukan manipulasi audio dan visual sehingga tampak seolah-olah sang dosen mengucapkan pernyataan yang ofensif. Konten ini sempat menyebar sebelum akhirnya dinyatakan sebagai video buatan oleh pengadilan, 11 bulan setelah kasus bergulir, waktu yang cukup lama. Kejadian ini terjadi di institusi Pendidikan Tinggi, yang mana berisi sivitas yang seharusnya sudah kuat dalam literasi membaca, analisis numerik, dan mahir teknologi digital. Namun, tetap terjadi korban manipulasi AI karena belum memiliki literasi AI yang memadai untuk mengenali ciri konten generatif. Kasus ini memperlihatkan betapa rentannya tenaga pendidik, bahkan yang sangat literat sekalipun, ketika berhadapan dengan realitas digital yang dipalsukan algoritma.

Contoh tersebut adalah satu contoh dari sekian banyak contoh nyata yang terjadi saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa literasi tradisional tidak lagi cukup. Di era AI generatif, seseorang perlu memahami bagaimana algoritma bekerja, bagaimana bias muncul, serta bagaimana konten digital dapat direkayasa dengan kualitas yang sangat meyakinkan. Tanpa literasi AI, kita tidak hanya berisiko tertipu, namun berisiko mengambil keputusan salah dalam konteks akademik, profesional, maupun sosial.

Di sinilah dunia pendidikan harus memberi sinyal baru yaitu tiga literasi dasar (membaca, numerasi, dan digital) sudah tidak lagi memadai untuk melindungi manusia dari jebakan teknologi modern. Literasi AI harus berdiri sejajar sebagai kompetensi inti abad ini. Literasi AI bukan hanya kemampuan menggunakan alat, tetapi kemampuan menilai bagaimana alat itu bekerja, bagaimana ia bisa salah, bagaimana ia bisa bias, dan bagaimana manusia harus tetap memegang kendali atas keputusan penting.

Perguruan tinggi tidak boleh membiarkan mahasiswa tumbuh sebagai pengguna teknologi yang hebat tetapi pemikir yang rapuh. Mereka harus memastikan generasi muda memahami bahwa AI bisa membantu, tetapi juga bisa menjerumuskan. Bahwa AI mampu mempercepat pekerjaan, tetapi juga mampu mempercepat kesalahan. Bahwa AI dapat memperluas pengetahuan, tetapi juga dapat memperluas kebingungan jika tidak dibarengi pemahaman kritis.

Jika literasi membaca adalah fondasi abad ke-19, literasi numerasi adalah fondasi abad ke-20, dan literasi digital fondasi awal abad ke-21, maka literasi AI adalah fondasi era sekarang, yang menentukan apakah kita akan menjadi pemimpin di tengah gelombang otomatisasi global, atau sekadar pengikut yang terombang-ambing oleh mesin yang tidak kita pahami.

Diposting Oleh:

Yasmin SEVIMA

Tags:

opini

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Kenalan dengan SEVIMA Platform Lite | Solusi Sistem Akademik untuk Kampus Baru dan Berkembang

Mari Diskusi