UNWIKU Gandeng Kementerian Keuangan dan OJK Tingkatkan Literasi Keuangan Lewat Edukasi ORI030
31 Jul 2026
31 Jul 2026
Oleh: Elinda Rizkasari – Sekprodi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta
SEVIMA – Ada sebuah adegan di ruang administrasi kampus yang terus membayangi pikiran saya. Seorang mahasiswa berdiri di belakang antrean panjang, memegang formulir yang harus ia bawa dari satu meja ke meja lain. Di belakangnya, layar ponselnya menampilkan AI yang mampu merangkum 50 jurnal dalam hitungan menit. Kontras itu begitu ironis: di tangan mahasiswa ada teknologi yang melesat jauh, tetapi di hadapannya berdiri birokrasi kampus yang berjalan seperti kura-kura kelelahan.
Itu bukan adegan fiksi. Itu realitas yang terjadi setiap semester. Dan pertanyaan paling mengganggu saya adalah ini: mengapa teknologi di luar kampus bergerak lebih cepat daripada teknologi di dalam kampus? Di banyak perguruan tinggi, AI bukan ancaman. AI adalah cermin dan cermin itu memantulkan wajah rapuh yang selama ini kita tutupi dengan kata “tradisi akademik”.
Ketika AI Membuka Rahasia yang Enggan Kita Akui
AI datang bukan untuk membantu. AI datang untuk mengungkap hal-hal yang selama ini sengaja kita abaikan. Ia menunjukkan bahwa banyak pekerjaan dosen sebenarnya pekerjaan administratif. Ia memperlihatkan bahwa banyak staf akademik terjebak dalam rutinitas yang bisa diselesaikan mesin dalam satu menit. Ia menguak bahwa banyak keputusan kampus dibuat bukan berdasarkan data, melainkan berdasarkan intuisi atau senioritas.
Dalam laporan Deloitte Education 2024 disebutkan bahwa 60% pekerjaan administratif di perguruan tinggi seharusnya dapat diotomatisasi tetapi tidak dilakukan karena alasan “kebiasaan lama”. Masalahnya bukan teknologi, tetapi mentalitas yang menolak perubahan. AI sebenarnya tidak menghancurkan sistem. AI hanya menyinari fakta bahwa sistem itu sudah retak dari dulu.
Mahasiswa Bukan Lagi Konsumen yang Bisa Disuruh Menunggu
Generasi mahasiswa saat ini tumbuh dengan aplikasi yang serba cepat. Mereka mengakses informasi dalam detik, bukan hari. Ketika kampus meminta mereka menunggu surat keterangan dua minggu, mereka tidak sekadar kesal. Mereka mempertanyakan relevansi kampus itu sendiri.
Saya pernah mendengar seorang mahasiswa berkata, “Bu, saya bisa dapat ratusan referensi lewat AI dalam lima menit. Tapi kampus butuh tiga hari hanya untuk verifikasi dokumen?”
Ini bukan soal ketidaksabaran. Ini soal ketidakmampuan dunia pendidikan tinggi mengikuti ritme zaman. AI mempercepat proses berpikir mahasiswa, sementara kampus masih terjebak dalam jalan setapak birokrasi yang tua dan berliku.
Jika kampus terus seperti ini, mahasiswa tidak hanya frustasi. Mereka bisa kehilangan kepercayaan pada institusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling siap menghadapi masa depan.
Dosen Tidak Tergantikan, Tetapi Sistem Menggerogoti Mereka
Banyak artikel menyebut bahwa AI akan menggantikan dosen. Opininya terlalu dangkal. Yang sebenarnya terjadi adalah: AI tidak mengancam dosen, tetapi sistem lama-lah yang membuat dosen sulit bersaing dengan AI. AI bisa menyiapkan bahan ajar lebih cepat. AI bisa membuat soal dalam hitungan detik. AI bisa merangkum literatur, memetakan konsep, bahkan membuat rubrik penilaian.
Sementara itu, banyak dosen masih harus mengurus presensi manual, rapat berjam-jam tanpa arah, laporan BKD yang menumpuk, dan penilaian tugas satu per satu. Dosen kalah bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka terkungkung dalam model kerja yang menua.
Dalam riset Stanford HAI 2024, ditemukan bahwa dosen yang terbebas dari beban administratif mengalami peningkatan kreativitas pengajaran sebesar 42%. Artinya, ancaman terbesar bagi dosen bukanlah AI, melainkan birokrasi kampus yang menggerus peran intelektual mereka. AI menawarkan kebebasan. Sistem lama menawarkan kelelahan.
Kampus Mengatakan “Kami Menjaga Kualitas”, Padahal Sering Menjaga Status Quo
Salah satu alasan klasik perguruan tinggi lambat mengadopsi AI adalah kekhawatiran akan “hilangnya kualitas akademik”. Namun jika kita jujur, banyak kampus justru takut kehilangan kontrol, bukan kualitas.
AI membawa transparansi. Ia menunjukkan data performa mahasiswa secara real-time. Ia mengungkap mata kuliah yang tidak efektif. Ia memprediksi tingkat drop – out. Ia membantu mahasiswa belajar tanpa harus melalui jalur formal yang rumit.
Dan ini menakutkan bagi mereka yang selama ini nyaman dengan sistem tertutup.
AI memaksa kampus untuk jujur bahwa banyak kebijakan tidak efektif, banyak kurikulum ketinggalan zaman, dan banyak proses yang lebih memihak pada sistem daripada mahasiswa. AI tidak merusak kualitas akademik. AI merusak kenyamanan pihak yang tidak ingin berubah.
AI Memberi Keadilan kepada Mereka yang Selama Ini Tak Terlihat
Kekuatan AI yang paling humanis justru pada kemampuannya membantu mahasiswa yang paling terpinggirkan. Mahasiswa dari desa terpencil, mahasiswa disabilitas, mahasiswa pekerja semua mendapat akses belajar yang lebih adil. Seorang mahasiswa tunanetra pernah berkata kepada saya, “Dengan AI pembaca teks, saya bisa belajar sendiri tanpa menunggu teman membantu.”
Di situ saya sadar: AI lebih manusiawi daripada sistem kampus yang selama ini membuat mereka menunggu.
Jika Kampus Ingin Bertahan, Perubahan Harus Dimulai Hari Ini
Perguruan tinggi harus memutuskan siapa dirinya di era AI: Apakah ingin menjadi lembaga yang diseret ke belakang oleh masa lalu? Atau menjadi institusi yang memimpin masa depan?
AI tidak meminta izin untuk masuk ke kampus. AI sudah masuk. Yang perlu ditentukan adalah: apakah kampus berani menata ulang dirinya? Karena masa depan tidak datang kepada kampus yang ragu-ragu. Masa depan datang kepada kampus yang berani jujur, berani berubah, dan berani lebih berpihak pada mahasiswa daripada pada tradisi yang membelenggu.
Dan jika kampus tidak segera bergerak, AI tidak akan menghancurkannya. Kampus akan runtuh oleh penolakannya terhadap perubahan.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami