Hukum Artificial Intelligence/AI Dipandang dari Sisi Undang-undang Hak Cipta di Bidang Pendidikan
27 Agu 2026
Oleh: Zakwan dan Rahimah – Dosen Institut Teknologi Sawit Indonesia
SEVIMA – Proses akademik merupakan suatu rangkaian kegiatan dan usaha dalam rangka menuntut ilmu dan mengaplikasikannya sehingga bermanfaat untuk diri, keluarga, Masyarakat bangsa dan negara. Usaha memperoleh ilmu yang bermanfaat menempuh jalan yang penuh ujian dan tantangan dalam belajar, mengulangi pelajaran, berdiskusi, sampai memahami suatu ilmu. Kemudian, pengaplikasian dari ilmu tersebut tecermin dari sikap, perilaku dan akhlak seorang akademisi dalam menghormati orang tua dan guru, beradaptasi di lingkungan kerja dan bergaul dengan teman sebaya. Dengan kata lain, proses akademik yang panjang dan penuh ujian, jika dilalui dengan benar dan sesuai arahan guru mulia, maka akan dihasilkan seorang akademisi yang memiliki jiwa mandiri, sikap dan akhlak terpuji serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi negeri.
Realitas akademik saat ini menunjukkan perubahan besar akibat perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI). Proses belajar yang dulunya menuntut waktu, kesabaran, dan ketekunan kini terasa serba instan dan mudah diakses. Mahasiswa dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Namun, kemudahan ini sering kali menimbulkan tantangan baru: nilai-nilai seperti kesabaran, rasa hormat terhadap guru, dan semangat untuk berproses mulai memudar. Guru yang dahulu menjadi sumber utama ilmu dan teladan moral kini kerap dianggap dapat digantikan oleh sistem AI yang serba cepat dan efisien.
Kecerdasan buatan (AI) kini mampu menggantikan peran guru dalam menjelaskan berbagai materi pelajaran dengan cepat, instan, dan mudah. Melalui algoritma pembelajaran mesin dan sistem pemrosesan bahasa alami, AI dapat memberikan jawaban yang akurat, penjelasan yang terstruktur, bahkan simulasi interaktif sesuai kebutuhan pengguna. Jika dahulu siswa harus menunggu jadwal tatap muka dengan guru untuk memahami konsep sulit, kini cukup dengan mengetik pertanyaan di platform berbasis AI, penjelasan lengkap langsung tersedia dalam hitungan detik. AI juga mampu menyesuaikan gaya penjelasan sesuai tingkat pemahaman siswa, menawarkan contoh, latihan, hingga koreksi otomatis.
Hal ini membuat proses belajar terasa lebih efisien dan personal. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru: hilangnya interaksi emosional dan nilai-nilai karakter yang biasanya tumbuh dalam hubungan antara guru dan murid. Meskipun AI mampu menyampaikan ilmu dengan cepat dan presisi, ia tidak dapat menggantikan ketulusan, empati, serta bimbingan moral yang diberikan oleh seorang guru sejati. Oleh karena itu, keberadaan AI sebaiknya dipandang sebagai pendukung proses belajar, bukan pengganti sepenuhnya, agar pendidikan tetap manusiawi dan bernilai luhur di tengah kemajuan teknologi.
Semakin canggih teknologi berkembang, semakin mudah pula manusia memperoleh ilmu pengetahuan. AI menjadi alat yang mampu menyajikan informasi tanpa batas dan analisis mendalam hanya dalam waktu singkat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang memprihatinkan: ilmu kehilangan keberkahannya. Banyak akademisi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin nilai moral dan spiritual. Ilmu yang seharusnya menuntun pada kebijaksanaan justru menjadi alat untuk kepentingan pribadi tanpa disertai kesadaran etika dan tanggung jawab. Akibatnya, kualitas akademik tidak lagi diukur dari kedalaman makna, melainkan dari kecepatan, kemudahan dan hasil instan.
Sebagaimana mudahnya mendapatkan informasi yang baik, begitu juga dengan masuknya informasi negative dan merusak. Sehingga jika teknologi AI digunakan oleh orang yang tidak berkarakter positif, maka akan menimbulkan malapetaka, huru-hara dan fitnah. Bahkan fitnah tersebut bisa dengan mudah memasuki setiap rumah dan kamar dimana pun mereka berada. Hal ini sudah diperingatkan Nabi Muhammad SAW jauh ribuan tahun silam. Seperti sebuah hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik ke atas salah satu bangunan tinggi di kota Madinah, lalu bersabda, ‘Tahukah kalian apa yang aku lihat?’ Para sahabat menjawab, ‘Tidak.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya aku benar-benar melihat huru-hara terjadi di sela-sela rumah-rumah kalian seperti turunnya hujan”. Maksud seperti turun hujan disini adalah ibarat kepada jaringan internet yang masuk ke seluruh rumah.
Sebagai solusi, pendidikan berbasis akhlak harus menjadi fondasi di setiap sendi perkuliahan, terutama di era generatif AI. Integrasi nilai-nilai moral dalam kurikulum akan membantu mahasiswa memahami bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan etika dan karakter adalah kompas yang menuntun arah penggunaan ilmu. Melalui sinergi antara kecanggihan teknologi dan kekuatan akhlak, proses akademik dapat kembali melahirkan generasi yang beretika, bijaksana, dan berjiwa luhur. Inilah langkah nyata untuk memastikan bahwa kemajuan ilmu tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga keberkahan bagi kehidupan. Sehingga bisa terlahir proses akademik yang beretika di era generative AI.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami