Hukum Artificial Intelligence/AI Dipandang dari Sisi Undang-undang Hak Cipta di Bidang Pendidikan
27 Agu 2026
Oleh: Anthony Holly – Dosen Akuntansi Universitas Atma Jaya Makassar
SEVIMA – Gelombang kecerdasan buatan, yang dikenal pula dengan akal imitasi atau Artificial Intelligence (AI), kini bukan lagi sekadar inovasi futuristik, melainkan realitas transformatif yang telah merambah dalam sendi-sendi kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan pasar kerja global. Bagi institusi pendidikan tinggi, tantangan yang hadir bukan lagi sebatas cara pengintegrasian AI, tetapi pemanfaatan teknologi ini secara strategis untuk membentuk kompetensi lulusan yang relevan, unggul dan adaptif di tengah derasnya arus perubahan. AI, merupakan pedang bermata dua, yakni potensi sebagai akselerator pembelajaran atau, jika penggunaannya tidak diimbangi dengan kebijaksanaan, justru dapat mengikis kemampuan esensial seperti pemikiran kritis dan orisinalitas yang harus dimiliki oleh setiap lulusan. Oleh karena itu, sinergi antara manusia dan AI sangat diperlukan sejak dalam proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan.
Penerapan AI dalam pembelajaran menawarkan sederet manfaat fundamental yang dapat merevolusi cara mahasiswa menyerap ilmu. Manfaat pertama dan yang paling signifikan adalah kemampuannya untuk menggerakkan personalisasi pembelajaran (personalized learning) dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sistem AI mampu menganalisis secara mendalam gaya belajar, kecepatan pemahaman, dan area kelemahan spesifik dari setiap individu mahasiswa. Berdasarkan analisis data tersebut, AI dapat menyediakan materi ajar, latihan, atau bahkan feedback yang disesuaikan secara individual, menjadikan proses belajar lebih tepat sasaran dan efisien bagi setiap pelajar. Kedua, dari sisi pengajar, AI bertindak sebagai asisten cerdas yang membebaskan tenaga pengajar dari tugas-tugas administratif yang repetitif dan memakan waktu, seperti penilaian otomatis untuk jenis soal tertentu. Dengan demikian, waktu dan energi dosen dapat dialokasikan untuk interaksi yang lebih mendalam dengan mahasiswa, bimbingan, mentorasi, dan pengembangan kurikulum yang lebih inovatif. Ketiga, AI berfungsi sebagai perpustakaan pengetahuan dan asisten riset yang instan, memfasilitasi akses cepat ke informasi terstruktur, dan yang lebih penting, membantu mahasiswa merumuskan pertanyaan yang lebih baik dan kompleks, yang merupakan keterampilan kunci dalam setiap upaya riset dan pengembangan.
Meskipun canggih dan penuh manfaat, terdapat situasi pembelajaran krusial yang harus diatur ketat atau bahkan tidak memperbolehkan penggunaan AI sebagai pengganti proses kognitif mahasiswa. Situasi ini meliputi, namun tidak terbatas pada, ujian penilaian keterampilan dasar dan pengetahuan inti di mana pengukuran pemahaman fundamental tanpa bantuan eksternal adalah tujuan utama, seperti ujian mata kuliah dasar atau pengujian kemampuan matematika murni. Situasi krusial lainnya adalah tugas yang secara eksplisit menuntut orisinalitas, integritas akademik, dan etika, misalnya dalam penulisan karya ilmiah akhir, skripsi, atau tugas desain yang mensyaratkan ide orisinal dan analisis data primer yang dikumpulkan sendiri oleh mahasiswa. Solusi untuk menanggapi batasan ini terletak pada pergeseran pedagogi. Lembaga pendidikan tidak boleh fokus pada pelarangan, melainkan harus mengajarkan cara bertanya yang tepat kepada AI (prompt engineering) dan, yang paling penting, kemampuan validasi dan verifikasi informasi yang dihasilkan oleh AI. AI harus diposisikan sebagai katalis, bukan substitusi bagi proses berpikir kritis mahasiswa. Dampak positif bagi kompetensi lulusan akan tercapai jika AI digunakan untuk melakukan sintesis informasi kompleks atau menciptakan skenario kasus dan simulasi yang memaksa mahasiswa mengambil keputusan strategis.
Agar lulusan tetap dapat memeroleh kompetensi esensial dan hard skill yang memadai meskipun menggunakan AI dalam proses pembelajaran, paradigma dalam kurikulum perlu bergeser, dari “apa yang harus dihafal” menjadi “bagaimana cara memanfaatkan alat dan berpikir dengan alat tersebut”. Beberapa cara praktis untuk mengamankan kompetensi lulusan adalah dengan penekanan yang kuat pada metakognisi, yaitu mengajarkan siswa untuk merenungkan cara mereka belajar dan cara AI membantu atau mungkin menghalangi proses kognitif mereka. Penugasan harus dirancang berbasis bukti dan validasi, di mana mahasiswa harus mampu menjelaskan proses di balik jawaban AI, menyanggah hasilnya jika perlu, dan menyajikan sumber rujukan yang valid, bukan sekadar menyalin hasilnya. Secara paralel, pengembangan keterampilan human-centric harus menjadi inti kurikulum. Kompetensi yang sulit digantikan AI—seperti kecerdasan emosional, kepemimpinan, negosiasi, kreativitas orisinal, dan pemikiran etis—adalah aset terbesar lulusan di masa depan. Metode penilaian juga harus disesuaikan, misalnya dengan meningkatkan porsi ujian lisan, presentasi, dan proyek kolaboratif yang memaksa siswa untuk mempertahankan pemahaman mereka secara aktif dan interpersonal.
Sebagai simulasi, seorang lulusan baru di bidang supply chain management. Berbeda dengan lulusan di era sebelumnya, lulusan baru ini tidak menghabiskan waktu berjam-jam menyusun laporan persediaan rutin. Ia menggunakan AI untuk mengotomatisasi analisis data real-time dari ribuan titik rantai pasok, sebuah tugas yang dulunya memakan waktu lebih dari 10 jam. AI menyediakan output berupa visualisasi risiko dan prediksi bottleneck. Dengan waktu yang dihemat ini, kompetensi lulusan baru meningkat dalam aspek yang lebih strategis: ia menghabiskan waktu untuk memvalidasi asumsi model AI, merancang strategi inovatif untuk mitigasi risiko tersebut, dan yang paling penting, menggunakan keterampilan interpersonalnya untuk bernegosiasi dan memimpin tim lintas fungsional dalam menerapkan perubahan strategis. Lulusan tersebut bukan sebagai ahli pengumpul data, tetapi sebagai ahli strategi rantai pasok yang diperkuat AI, menjadikannya sangat bernilai di pasar kerja. Intinya, AI adalah realitas pekerjaan di masa depan, dan dengan mengintegrasikannya secara etis, strategis, dan penuh tanggung jawab, institusi pendidikan dapat mencetak lulusan yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap memimpin transformasi di era baru ini.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami