Kontak Kami

Artikel | Opini

Etika Akademik di Era Generative Intelligence

27 Agu 2026

Oleh: Rizki Ramadhan – Wiraswasta

SEVIMA – Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekedar topik yang di bicarakan dikalangan para ahli teknologi tetapi sudah merambah ke berbagai bidang ekonomi akuntansi, ekonomi manajemen dan bidang Pendidikan dalam akademik penguran tinggi. Peran dalam artificial Intellingence memajukan pendidikan baik dalam hal pembelajaran. Akuntansi pendidikan, Manajemen Pedidikan, dan Teknologi Pendidikan di era Generative Intelligence. Teknologi akan memungkinkan kita untuk memanfaatkan Artificial Intelligence secara optimal. Artificial Intelligence bukanlah pengganti manusia dalam pendidikan, tetapi alat yang sangat berharga untuk memperkaya pengalaman belajar dan mengajar. Demikian marilah kita melangkah ke masa depan pendidikan dengan sikap terbuka terhadap pembelajaran etika akademik di era generative intelligence. Menjaga nilai-nilai kemanusian dan etika dalam setiap langkah memberikan wawasan dan inspirasi bagi para pendidik penguran tinggi,para pemangku kebijakan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan Artificial Intelligence (AI) dalam bidang pendidikan yang lebih baik.

Etika akademik di era generative Artificial Intelligence (AI) perlu memastikan Penggunaan generative yang etis   dan bertanggungjawab. pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan akademik yang berlaku dalam penguruan tinggi perlu melihat kembali dan memperbaharui kebijakan akademik agar memudahkan dosen dan mahasiswa dalam memahami implikasi pemanfaatan generative Artificial Intelligence (AI) dosen perlu memberikan aturan yang jelas tentang hal-hal yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam menggunakan generative Artificial Intelligence (AI) di dalam kelas. Mahasiswa perlu aktif dalam berkonsultasi ke dosen tentang kebijakan.

Etika penggunaan generative Artificial Intelligence (AI) dan Regulasi yang telah berkembang sejalan dengan upaya memahami kecenderungan dan dampak perkembangan teknologi pendidikan. Oleh karena itu, pemanfaatan generative Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran akan menjadi sebuah dokumen hidup yang terus berkembang sejalan dengan asas ketaatan aturan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi yang pesat dan akurat data. Dihasilakan civitas akademika dalam penilai penguruan tinggi itu sendiri.ada beberapa hal yang perlu di perhatikan etika akademik di era generative Artificial Intelligence (AI) untuk pembelajaran sebagai berikut:

  1. Integritas akademik sebagai perwujudan  dari nilai – nilai utama sebuah penguruan tinggi.
  2. Keamanan dan perlindungan data memiliki potensi kerentanan dan resiko tinggi bila dikaitkan dengan teknologi digital.
  3. Kesetaraan dan akuntabilitas dalam rangka menyikapi potensi kesenjangan yang terjadi dalam memanfaatkan generative Artificial Intelligence (AI).
  4. Memperoleh dampak lingkungan akibat manfaat generative Artificial Intelligence (AI).

ICAI (international center for Academic Integrity) dapat menentukan beberapa nilai integritas akademik yaitu kejujuran,kepercayaan,keadilan,sikap hormat,keberanian dan penuh tanggung jawab.kejujuran merupakan landasan setiap interaksi pembelajaran yang akan menumbuhkan kepercayaan atas seseorang di lingkungan akademik. Menumbuhkan rasa keadilan, perilaku hormat dan saling menghormati serta keberanian dalam mempertanggungjawab setiap perilaku dan tindakan setiap individu mahasiswa,dosen dan tenaga pendidik.

Respon negatif terhadap generative Artificial Intelligence (AI) dari dunia pendidikan adalah memfasilitasi ketidakjujuran dan mesinformasi disatu sisi generative Artificial Intelligence (AI)seperti ChatGPT, aplikasi website detektor menulis text seperti website turnitin. Turnitin di manfaatkan mahasiswa dan dosen mendeteksi text secara keseluruhan agar tidak menemukan plagiat dalam penulisan ilmiah.tentu banyak berbagai cara untuk tetap dapat memanfaatkan generative Artificial Intelligence (AI) dan lolos dari tool detektor tersebut. Antara lain :

  1. Menulis ualng setiap judul menjadi kerangka tulisan yang dihasilkan oleh generative Artificial Intelligence (AI) dengan bahasa yang dimiliki sendiri.
  2. generative Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu penelusuran dan riset, tidak sebagai content generator sehingga mahasiswa tetap menjadi pemengang kendali ide dan pemikiran.
  3. Dalam karya tulis tetap mempertahankan sentuhan manusia dengan tidak bergantung dengan struktur kalimat yang dihasilkan oleh aplikasi,seperti grammarly dan mempertahankan gaya penulis sendiri.
  4. Menghindar dan tidak tergoda memanfaatkan aplikasi quilibot untuk melakukan paraphrase dan tetap menyusun kata-kata sendiri sehingga alur tulisan lebih terjaga,jelas dan koheran.
  5. Struktur tulisan lebih jelas mulai dari pendahuluan,sitasi dan kesimpulan.
  6. Menghindari dari kata-kata kunci maupun kata ganti yang sering digunakan oleh generative Artificial Intelligence (AI).

Pemanfaat teknologi dalam pengerjaan tugas akademik tidak lagi dapat dihindari. dosen perlu mengedepankan proses dan bukan hanya mengandalkan output belajar, untuk memotivasi mahasiswa, menimbulkan rasa ingin tahu, serta mendorong cara berfikir kritis dan etis melalui umpan balik atau bersifat kritis yang evaluatif,reflektif,dan kesempatan untuk mengulang melakukan revisi. Metode pembelajaran seperti flip learning, higher order thinking,student centered learning (SCL) menjadi sebuah alternatif dari kegiatan pembelajaran kelas di bandingkan perkulihan tradisional. Setiap pertemuan  mengunakan sistem diskusi yang merefleksikan pemahaman dan penguasaan individu mahasiswa terhadap tugas yang telah diberikan oleh dosen, lalu mengerjakan melalui presentasi yang diikuti dengan tanya jawab atau diskusi.

Oleh karena itu, strategi belajar yang secara kritis memanfaatkan generative Artificial Intelligence (AI) dosen dapat pula melakukan berbagai upaya untuk mencegah pelanggaran etika dan integritas akademik dengan menekankan konsekuensi terhadap kecurangan ean memberikan panduan atau acuan pembelajaran pengerjaan tugas  dan pemanfaatan generative Artificial Intelligence (AI) tersebut.

Diposting Oleh:

Yasmin SEVIMA

Tags:

opini

Mengenal SEVIMA

SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami

Video Terbaru

Dashboard SPM Kini Hadir! Pantau Mutu Institusi dalam Satu Tampilan

Mari Diskusi