Pesan Rektor UID Bagi Gen Z: Kuasai AI dan Teknologi, Tapi Jadikan Agama Fondasi Utama Integritas
23 Okt 2026
22 Okt 2026
SEVIMA — Universitas Islam Jakarta (UID)—yang pada awal berdirinya bernama Perguruan Tinggi Islam Jakarta—mencatatkan sejarah panjang sebagai salah satu kampus Islam swasta tertua di Ibu Kota. Didirikan pada 14 November 1951, kampus ini lahir dari semangat patriotik para tokoh pendiri bangsa untuk mengisi kemerdekaan Indonesia melalui penyediaan akses pendidikan tinggi yang terjangkau bagi masyarakat luas.
Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si., mengungkapkan bahwa rekam jejak berdirinya UID tidak lepas dari kontribusi besar deretan pahlawan dan tokoh nasional Indonesia. Hal itu disampaikan Prof. Raihan dalam dialog media podcast SEVIMA di Jakarta.
“Kampus ini berdiri hanya sekitar lima hingga enam tahun setelah Indonesia merdeka. Latar belakang utamanya sangat mulia, yaitu mengisi kemerdekaan dengan memberikan kesempatan pendidikan tinggi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang pada saat itu tidak memiliki akses untuk berkuliah di luar negeri,” kata Prof. Raihan, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan catatan dokumen sejarah pendirian kampus, gagasan pembentukan Perguruan Tinggi Islam Jakarta mulai dimatangkan sejak pertemuan bersejarah pada 4 November 1950, hingga akhirnya resmi beroperasi pada 14 November 1951. Pada awal berdiri, kampus ini hanya memiliki satu fakultas, yakni Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan.
Tak main-main, deretan nama besar yang membidani dan mendukung tumbuh kembangnya Perguruan Tinggi Islam Jakarta di masa-masa awal antara lain KH Agus Salim, Mr. Mohammad Roem, Mohammad Natsir, Prof. Dr. Hazairin, Abdul Rahman, Mr. Kusuma Atmadja, hingga Mr. Tengku Muhammad Hasan.
“Melihat sejarah pendirian kampus ini sangat menggetarkan hati. UID didirikan oleh tokoh-tokoh raksasa dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Semangat, idealisme, dan dedikasi para pendiri inilah yang menjadi motivasi utama kami para pengelola hari ini untuk terus menjaga warisan luhur ini,” ungkap Prof. Raihan.
Perjalanan fisik kampus ini pun mengalami dinamika yang panjang. Kuliah perdana angkatan pertama yang terdiri dari 30 mahasiswa diselenggarakan di gedung bersejarah Het Schaakstad (sekarang Gedung Bappenas) di kawasan Taman Suropati, Menteng. Selanjutnya, aktivitas perkuliahan sempat berpindah ke Jalan Mohammad Yamin (dahulu Jalan Madura), wilayah Pasar Minggu, hingga akhirnya menetap di kawasan Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur.
Seiring berjalannya waktu dan menyesuaikan dengan regulasi undang-undang pendidikan tinggi sejak tahun 1961, Universitas Islam Jakarta terus melakukan perluasan dan pembaruan institusional. Perkembangan tersebut ditandai dengan berdirinya Fakultas Ekonomi pada tahun 1959, Fakultas Tarbiyah (kini Fakultas Agama Islam) pada tahun 1961, serta Fakultas Teknik pada kurun waktu 1981–1982.
“Saat ini, Universitas Islam Jakarta mengelola 4 fakultas dengan 10 program studi yang mencakup jenjang Strata 1 (S1), Strata 2 (S2/Magister), hingga Strata 3 (S3/Doktor). Transformasi ini kami lakukan tanpa sedikit pun mengurangi cita-cita awal para pendiri,” jelas Prof. Raihan.
Ia menambahkan bahwa rekam jejak sejarah yang panjang ini membuktikan bahwa UID merupakan lembaga pendidikan yang tangguh dan relevan di setiap era. Menginjak usianya yang ke-75 tahun, UID terus berkomitmen memadukan warisan kebangsaan dengan inovasi pendidikan modern demi melayani kebutuhan masyarakat Indonesia.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami