Menjawab Demotivasi Pasar, Universitas Islam Jakarta Siapkan Strategi Khusus Hadapi Kompetisi Kampus Swasta
23 Okt 2026
23 Okt 2026
SEVIMA — Cepatnya laju perkembangan teknologi digital dan maraknya integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan sehari-hari membawa perubahan mendasar bagi lanskap pekerjaan dan dunia pendidikan. Menanggapi fenomena ini, Rektor Universitas Islam Jakarta (UID), Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si., mengingatkan generasi muda—khususnya Gen Z dan mahasiswa—agar tidak terjebak menjadi pengguna pasif yang terampil secara teknis namun krisis etika.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Raihan saat memberikan arahan dan pesan kebangsaan kepada generasi muda dalam sesi wawancara podcast SEVIMA di Jakarta.
“Hari ini kita menyaksikan pergeseran teknologi yang sangat masif dan cepat, terutama dengan hadirnya era kecerdasan buatan (AI). Pesan saya kepada generasi muda: perubahan ini harus diikuti dan dikuasai. Namun, perlu diingat secara bijak bahwa AI dan teknologi modern hanyalah instrumen atau alat bantu (tool), bukan penentu utama kehidupan,” tegas Prof. Raihan, Jumat (23/10/2026).
Prof. Raihan menekankan bahwa sebelum seseorang memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat pekerjaannya, ia harus memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dasar (fundamental knowledge) yang kuat pada bidang studi yang ditekuni. AI tanpa dasar keilmuan yang kuat dari penggunanya hanya akan menghasilkan karya yang dangkal dan rawan bias.
Oleh karena itu, Universitas Islam Jakarta terus mendorong mahasiswanya untuk memiliki kompetensi ganda (multiskilling).
“Selain menguasai kompetensi inti dari program studi masing-masing, mahasiswa masa kini wajib membekali diri dengan digital literacy dan kompetensi teknologi AI. Penguasaan teknologi ini akan melipatgandakan daya saing lulusan kita di pasar kerja global,” jelasnya.
Meskipun penguasaan teknologi mutlak diperlukan, Prof. Raihan mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi seperti AI tidak memiliki nurani, etika, dan moralitas. Di sinilah nilai-nilai agama dan akhlak yang diajarkan di lembaga pendidikan tinggi Islam memegang peranan yang sangat krusial.
Ia menambahkan bahwa integritas seseorang ditentukan oleh sejauh mana ia mampu mempertahankan nilai-nilai kejujuran dan etika di tengah kemudahan teknologi.
“Teknologi boleh berkembang setinggi apa pun, tetapi nilai-nilai agama tidak boleh sedikit pun goyah atau hilang. Nilai-nilai keagamaan adalah fondasi paling utama pembentuk integritas, moral, dan akhlakul karimah. Inilah yang menjadi pembeda utama manusia dengan mesin,” kata Prof. Raihan.
Melalui pendekatan pendidikan yang menyatukan antara keunggulan sains, penguasaan AI, dan keteguhan akhlak, Universitas Islam Jakarta optimis dapat melahirkan generasi muda Indonesia yang berdaya saing global, inovatif, serta berkarakter mulia dalam menyongsong Indonesia Emas.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami