Pesan Rektor UID Bagi Gen Z: Kuasai AI dan Teknologi, Tapi Jadikan Agama Fondasi Utama Integritas
23 Okt 2026
23 Okt 2026
SEVIMA — Universitas Islam Jakarta (UID) membuktikan komitmennya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang inklusif, humanis, dan berpihak pada keberagaman latar belakang masyarakat. Berpegang teguh pada amanah para pendiri bangsa, UID terus menerapkan kebijakan pendidikan yang fleksibel, ramah bagi pekerja, serta mengutamakan nilai kekeluargaan di atas sekadar urusan administratif keuangan.
Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si., menegaskan bahwa kampus swasta memiliki peran strategis dalam menampung aspirasi masyarakat yang sangat heterogen, baik dari aspek usia, status sosial, maupun kondisi ekonomi.
“Kategori mahasiswa di kampus swasta seperti UID sangat unik dan bervariasi. Ada mahasiswa yang murni full-time studi, ada yang berkuliah sambil bekerja, dan usianya merentang dari yang sangat muda hingga usia lanjut. Berdasarkan arsip data kami, mahasiswa tertua yang saat ini menempuh pendidikan di S2 UID berusia 70 tahun. Ini bukti nyata bahwa semangat belajar tidak terbatas oleh usia,” ujar Prof. Raihan dalam Podcast SEVIMA di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Tidak hanya itu, UID juga menjadi destinasi akademik bagi para akademisi senior dan profesional. Beberapa mahasiswa yang menempuh jenjang Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam di UID bahkan sudah berstatus sebagai Guru Besar (Profesor) di bidang ilmu lain yang ingin memperdalam keilmuan agama.
Prof. Raihan mengungkapkan, ada tiga warisan nilai utama (legacy) dari para pendiri yang selalu dipegang teguh oleh seluruh pengelola kampus hingga hari ini, yaitu semangat kebersamaan, nilai kekeluargaan, dan misi sosial memajukan masyarakat menengah ke bawah.
“Dalam proses pelayanan dan komunikasi pembelajaran, kami menerapkan pendekatan informal yang kekeluargaan. Kami menyadari bahwa tugas utama kami adalah menolong masyarakat. Oleh karena itu, isu administrasi keuangan selalu kami tempatkan pada skala prioritas yang humanis. Kami menyediakan berbagai skema bantuan dan beasiswa bagi mahasiswa yang membutuhkan,” terangnya.
Kebijakan ini diambil agar ketidakmampuan finansial tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk meraih gelar sarjana maupun magister. Menurut Prof. Raihan, memberikan kesempatan belajar kepada setiap warga negara adalah wujud nyata dari pengamalan Pancasila dan nilai-nilai keislaman.
Mendidik mahasiswa dengan latar belakang yang bervariasi tentu memberikan tantangan tersendiri bagi para dosen. Setiap mahasiswa masuk ke perguruan tinggi dengan modal etika, moral, dan tingkat pengetahuan yang berbeda-beda.
“Tantangan tersebut justru menjadi motivasi bagi kami di UID untuk melakukan optimalisasi secara seimbang. Kami mendorong para dosen untuk membimbing mahasiswa secara personal melalui pola ilmiah ‘Ilmoe Amaliyah, Amal Ilmiyah’. Kami yakin, selama lembaga pendidikan mengedepankan keikhlasan dan nilai kekeluargaan, masyarakat akan selalu membutuhkan keberadaan Universitas Islam Jakarta,” tutup Prof. Raihan.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami