Dies Natalis ke-5, Universitas dr. Soebandi Kobarkan Semangat “UDS On Fire: Beyond Five”
09 Jul 2026
10 Jul 2026
SEVIMA – Menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda di era digital kerap kali menghadapi tantangan berat. Namun, sebuah terobosan unik dan inspiratif diterapkan di Universitas Majalengka (UNMA), Jawa Barat. Rektor UNMA, Dr. H. Otong Syuhada, menerapkan metode di mana nilai tertinggi mata kuliah Pancasila justru diberikan kepada mahasiswa yang konsisten menjalankan ibadah spiritual, seperti puasa Senin-Kamis dan salat Tahajjud.
Bagi sebagian besar dosen, nilai akhir perkuliahan ditentukan oleh kehadiran, tugas makalah, serta Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Namun, di kelas Pancasila yang diampu langsung oleh Rektor UNMA H. Otong Syuhada, aturan mainnya berbeda.
Ia membalikkan formula konvensional tersebut dengan memberikan porsi nilai terbesar pada variabel implementasi keagamaan. Hal ini selaras dengan profil mahasiswa UNMA yang mayoritas muslim.
“Saya menerapkan nilai-nilai ketuhanan itu salah satunya dengan mengajak mahasiswa melakukan ritual ibadah. Saya memberikan persyaratan, kalau nilai ingin maksimal, jalankan nilai-nilai ibadah. Saya ajak mereka puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dan salat Tahajud,” ujar Otong dalam Webinar SEVIMA, Jumat (10/7/2026).
Menariknya, variabel tugas ibadah ini menempati bobot tertinggi di atas hasil ujian tertulis maupun presensi di kelas. Langkah ini diambil karena Dr. H. Otong meyakini bahwa nilai Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan teori di atas kertas, melainkan harus terwujud dalam sikap hidup sehari-hari yang dimulai dari Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pengingat via WhatsApp hingga Reward Buka Bersama
Menerapkan aturan spiritual di lingkungan kampus tentu bukan tanpa tantangan. Namun, Rektor UNMA menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada penolakan dari mahasiswa. Kuncinya terletak pada aspek keteladanan. Sang Rektor tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga ikut mempraktikkan apa yang disampaikan.
Untuk menjaga konsistensi para mahasiswa, Otong memanfaatkan teknologi dengan cara yang sangat personal. Rektor masuk langsung ke dalam grup WhatsApp kelas. Bahkan setiap malam Senin dan Kamis, ia aktif membagikan pesan pengingat di grup WA untuk membangunkan mahasiswa agar mendirikan salat Tahajud dan bersantap sahur.
“Sebagai bentuk penghargaan atas komitmen mahasiswa, kami juga memberikan reward berupa acara buka puasa bersama di akhir semester,” ucapnya.
Menurut Otong, Strategi ini terbukti membawa dampak positif jangka panjang bagi produktivitas dan karakter mahasiswa. Muncul rasa tanggung jawab baru dan kedisiplinan yang tinggi dalam kehadiran kuliah. Hebatnya lagi, kebiasaan positif ini tetap berlanjut bahkan setelah mata kuliah Pancasila selesai ditempuh.
Mengapa Hukum Pancasila Harus Membahagiakan?
Gaya mengajar yang diterapkan di lingkungan Universitas Majalengka ini merupakan miniatur dari visi besar Otong Syuhada tentang hukum di Indonesia. Menurutnya, sebuah negara dibentuk bukan sekadar untuk menguasai pemerintahan, melainkan agar rakyatnya merasa bahagia melalui aturan yang dibuat oleh pemerintah.
Ia menilai negara hukum Pancasila memiliki keunggulan mutlak dibandingkan sistem hukum barat seperti Rechtsstaat (Eropa Kontinental) yang cenderung kaku karena asas legalitas murni, ataupun Rule of Law (Anglo-Saxon). Hukum Pancasila berhasil menggabungkan sisi positif kedua sistem tersebut dengan menyuntikkan ruh ketuhanan dan kemanusiaan di dalamnya.
“Ruh daripada Pancasila itu adalah ketuhanan. Berbicara ketuhanan berarti berbicara tentang nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan atau fastabiqul khairat. Jika dijalankan secara konsisten, ujung-ujungnya pasti pada kebahagiaan rakyat,” jelasnya.
Ia juga mengutip falsafah pahlawan nasional Sam Ratulangi, “Si Tou Timou Tumau Tou”—manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika mampu memanusiakan manusia lain. Ketika nilai kemanusiaan dan keadilan ini tegak tanpa memandang kasta ekonomi, maka kenyamanan dan kebahagiaan sosial otomatis akan terwujud.
Pancasila Sebagai ‘Bintang Pemandu’ dan UUD 1945 Sebagai ‘Kompas’
Rektor UNMA memberikan analogi akademis yang sangat kuat mengenai fungsi dasar negara saat mengarungi tantangan zaman. Ia mengibaratkan Indonesia seperti sekelompok orang yang tengah berada di dalam hutan belantara yang gelap gulita.
Menurutnya Pancasila sebagai bintang atau lampu pemandu, berfungsi sebagai cahaya penerang yang menerangi lingkungan sekitar agar bangsa ini tidak tersesat dalam kegelapan. Sementara UUD 1945 sebagai kompas, berfungsi sebagai penunjuk arah ke mana langkah strategis bangsa ini harus berjalan.
“Tanpa cahaya (Pancasila), kompas tidak akan bisa dibaca. Sebaliknya, memiliki cahaya tanpa kompas akan membuat bangsa berjalan tanpa arah yang jelas. Sinergi keduanya mutlak diperlukan demi mencapai visi Indonesia yang adil, makmur, sejahtera, dan membahagiakan,” ujarnya.
Menutup perbincangan, Otong Syuhada menyampaikan pesan mendalam bagi generasi muda sekaligus memberikan catatan evaluasi bagi dunia pendidikan nasional. Ia secara terbuka menyatakan kerinduannya terhadap pola penguatan ideologi masa lalu yang sistematis, seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).
Menurutnya, materi-materi tersebut terbukti sangat membekas di dalam jiwa generasinya dalam membentuk karakter nasionalis yang kuat. Ia berharap metode pendalaman nilai seperti itu bisa dikemas kembali secara modern agar generasi muda memahami Pancasila secara utuh.
Pendidikan tinggi, tegas Rektor UNMA, tidak boleh sekadar menjadi tempat transfer pengetahuan intelektual (knowledge transfer). Kampus harus mengambil tanggung jawab penuh dalam melahirkan lulusan yang seimbang: memiliki ketajaman intelektual, kematangan emosional, dan fondasi spiritual yang kokoh. Terobosan “jalur langit” di Universitas Majalengka terbukti menjadi salah satu ikhtiar nyata menuju arah sana.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami