STIKes Satria Bhakti Nganjuk Terapkan Kurikulum OBE Berbasis Komunitas, Jawab Kebutuhan Industri
19 Agu 2026
18 Agu 2026
Oleh: Maria Fembriana Delcisaina – Mahasiswa Universitas Nusa Cendana
SEVIMA – Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI banyak diperbincangkan oleh masyarakat hingga kalangan mahasiswa secara khusus gen Z. AI sebagai salah satu teknologi canggih yang mampu menghasilkan konten-konten serupa atau mirip dengan buatan manusia misalnya teks, video, gambar dan masih banyak lainnya dapat membawa perubahan yang sangat signifikan di kalangan sivitas akademika dalam melakukan dan menyelesaikan pekerjaan.
Menurut para ahli John McCarthy, yang dikenal sebagai salah satu pendiri kecerdasan buatan mendefinisikan AI sebagai Ilmu dan teknik dalam menciptakan mesin yang cerdas, khususnya dalam mengembangkan program atau aplikasi komputer yang dapat berperilaku seperti manusia. Sementara menurut Luger dan Stubblefield (1993), AI adalah cabang ilmu komputer yang berkaitan dengan otomatisasi perilaku cerdas. Definisi ini menekankan pada kemampuan mesin untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia. Berdasarkan definisi dari beberapa para ahli ini dapat disimpulkan bahwa AI merupakan salah satu cabang ilmu komputer yang dapat berperilaku atau berpikir layaknya manusia.
Dalam konteks realitas kehidupan mahasiswa sehari-hari seringkali banyak dijumpai bagaimana mereka memanfaatkan AI untuk menyelesaikan tugas atau bahkan mengerjakan ujian dengan anggapan bahwa selagi ada yang mudah mengapa harus menyusahkan diri sendiri. Mentalitas mencari kemudahan ini diperkuat dengan hadirnya berbagai fitur menarik seperti ChatGPT, Gemini AI, Blackbox.AI dan masih banyak lagi yang dijadikan sebagai media instan untuk menyelesaikan tugas, skripsi, proposal maupun pengerjaan ujian. AI hadir seolah-olah sebagai penolong yang dapat dijadikan sandaran utama dalam era modern sekarang. Namun, dibalik kenyamanan dengan begitu banyak fitur menarik yang dihadirkan, AI juga membawa tantangan nyata yang berkaitan langsung terhadap integritas akademik, seperti plagiarisme, fabrikasi, kecanduan yang menghambat kemampuan berpikir kritis serta indikasi munculnya bias data. Hal ini terpampang nyata pada Januari 2023 dengan adanya kabar mengenai universitas universitas di salah satu negara yang biasa dikenal dengan julukan “Negeri Kanguru” atau Australia yang menggalakkan untuk kembali menerapkan ujian tertulis menggunakan ballpoint dan kertas menyusul adanya penemuan Artificial Intelligence (AI) oleh mahasiswa untuk menulis essai. Di sisi lain pula, sejumlah perguruan tinggi terkemuka di dunia bahkan membuat aturan bahwa menggunakan AI adalah salah satu bentuk praktek kecurangan (The Guardian, 10/1). Di New York, masih menurut media yang sama, penggunaan ChatGPT, aplikasi chatbox milik OpenAI yang mampu menjawab semua pertanyaan secara komprehensif dalam waktu singkat telah dilarang di semua perangkat yang ada pada sekolah negeri. Fenomena demikian pun juga tampak di Warner University (AS) di mana pihak universitas menentang penggunaan AI oleh mahasiswa, menekankan bahwa membiarkan AI menghambat pengembangan keterampilan berpikir kritis adalah bentuk kemunafikan dalam menjaga nilai inti integritas. Ketergantungan berlebihan pada AI generatif dapat merusak kreativitas manusia yang autentik dan otonomi individu dalam berpikir. Menanggapi polemik global ini, fenomena serupa turut mewarnai perguruan tinggi di Indonesia ditandai dengan semakin maraknya penggunaan AI di kalangan mahasiswa walaupun belum ada kebijakan resmi dari pemerintah untuk melarangnya. Meskipun demikian, pengunaan AI perlu disikapi sebagai bentuk keterbukaan terhadap perkembangan zaman. Hal ini harus dibarengi dengan dorongan institusi terhadap implementasi literasi digital dan penguatan kebijakan integritas akademik di lingkungan perguruan tinggi (Fowler, 2023).
Dorongan institusi akademik untuk memperkuat integritas akademik dalam menghadapi AI generatif harus didasarkan pada penegasan tentang pentingnya budaya etika yaitu cabang ilmu filsafat yang mempelajari nilai-nilai moral, baik buruknya perilaku, serta prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, etika akademik AI di perguruan tinggi mengacu pada seperangkat prinsip dan nilai moral yang memandu perilaku warga akademik (mahasiswa, dosen, peneliti, dan staf) dalam berinteraksi, menggunakan, mengembangkan, dan menerapkan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) di lingkungan perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk memastikan penggunaan AI mendukung, bukan menggantikan, kreativitas, daya pikir kritis, dan integritas akademik. Prinsip-prinsip utama etika akademik AI mencakup:
Penerapan etika akademik ini penting untuk diupayakan ditengah kuatnya arus gelombang kecerdasan buatan yang tak terhindarkan. AI, dengan segala kemudahannya melalui cara kerja yang optimal dan terstruktur hadir dengan membawa dua peran sekaligus antara tantangan dan peluang emas untuk mendefinisikan ulang makna integritas di era digital. Kergantungan berlebihan yang mengorbankan kemampuan berpikir kritis dan otonomi individu adalah alarm nyata yang harus segera ditanggapi. Oleh karena itu, langkah paling krusial bagi institusi perguruan tinggi di Indonesia adalah bukan melarang, melainkan merangkul perubahan ini dengan landasan etika yang kokoh. Penerapan prinsip-prinsip etika akademik AI mulai dari transparansi, keadilan, hingga penekanan pada pengembangan keterampilan kritis harus menjadi fondasi utama. Hanya dengan menumbuhkan budaya etika yang bertanggungjawab dan literasi digital yang kuat, kita dapat memastikan bahwa AI berfungsi sebagai pendukung peradaban akademik, dan bukan justru mengikis nilai-nilai dasar kemanusiaan dan kejujuran menjadi pilar utama institusi pendidikan tinggi.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami