STIKes Satria Bhakti Nganjuk Terapkan Kurikulum OBE Berbasis Komunitas, Jawab Kebutuhan Industri
19 Agu 2026
Oleh: Faisal Rahman Dongoran – Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
SEVIMA – Di banyak perguruan tinggi, mahasiswa kini akrab memakai chatbot untuk mencari ide tugas, dosen mencoba generator teks dan gambar untuk bahan ajar, dan pimpinan kampus berbicara tentang transformasi digital. Namun di balik euforia tersebut, pertanyaan strategisnya adalah: apakah profil lulusan dalam kurikulum kita sudah sungguh-sungguh disiapkan untuk dunia kerja dan kehidupan profesional yang kian digerakkan oleh kecerdasan artifisial?
UNESCO, melalui Guidance for Generative AI in Education and Research, menegaskan bahwa pemanfaatan generative AI di pendidikan harus berlandaskan visi human-centred, kebijakan jangka panjang, dan pengembangan kapasitas pendidik [1]. Kerangka Future of Education and Skills 2030 dari OECD memandang kompetensi sebagai kombinasi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang dibutuhkan di masyarakat digital [2]. Pesannya jelas: pendidikan tinggi tidak cukup “mengikuti tren AI”, tetapi perlu merancang secara sadar kompetensi lulusan yang relevan.
Dari sisi pasar kerja, keterampilan AI sudah menjadi diferensiasi penting. Laporan Beyond the Buzz: Developing the AI Skills Employers Actually Need yang menganalisis lebih dari 1,3 miliar iklan lowongan global menunjukkan bahwa posisi yang mensyaratkan keterampilan AI menawarkan rata-rata premi gaji sekitar 28% dibanding posisi serupa tanpa syarat AI [3]. Studi OECD juga menemukan lonjakan kebutuhan keterampilan analitis dan digital di berbagai sektor [4]. Lulusan yang tidak siap secara kompetensi AI berisiko tertinggal.
Dalam konteks tersebut, gagasan lulusan “AI-Ready” menjadi krusial. Lulusan AI-Ready bukan berarti semua sarjana harus menjadi data scientist, tetapi setiap lulusan perlu mampu memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan AI secara produktif dan etis. Kajian sistematis tentang literasi AI di pendidikan tinggi menunjukkan bahwa literasi AI membantu mahasiswa memahami fungsi dan batasan AI, menggunakannya secara bertanggung jawab, serta menyadari implikasi etisnya dalam kehidupan kampus [5], [6]. Kerangka literasi AI terkini juga menekankan integrasi pengetahuan konseptual, keterampilan teknis, dan dimensi etika sebagai satu paket kompetensi [7], [8].
Secara praktis, profil lulusan AI-Ready setidaknya memuat tiga dimensi utama. Pertama, kecakapan konseptual: pemahaman dasar tentang apa itu AI, bagaimana cara kerjanya, peluang dan keterbatasannya, serta dampaknya di bidang masing-masing. Di program studi pendidikan, misalnya, mahasiswa perlu mampu memetakan bagaimana AI dapat mendukung asesmen diagnostik dan personalisasi pembelajaran; sedangkan di akuntansi atau manajemen, mahasiswa perlu memahami bagaimana AI mengotomasi proses rutin dan membuka ruang bagi analisis bernilai tambah. Kedua, kecakapan praktis: kemampuan menggunakan berbagai aplikasi AI, seperti asisten penulisan, analitik data, simulasi, dan sistem rekomendasi untuk mendukung tugas akademik, penelitian, dan proyek berbasis studi kasus. Ketiga, kecakapan etik dan reflektif: kesadaran tentang isu privasi, bias algoritmik, keadilan, dan integritas akademik ketika menggunakan AI dalam tugas, penelitian, maupun layanan kampus. Pendekatan literasi AI yang matang menjadikan dimensi etik ini sebagai fondasi[1], [5].
Tantangan berikutnya adalah integrasi ketiga dimensi tersebut ke dalam kurikulum semua program studi, bukan hanya rumpun teknologi informasi. Kajian tentang AI literacy menegaskan bahwa pendekatan paling efektif bukan menjadikan AI sebagai satu mata kuliah terpisah, tetapi menanamkannya lintas mata kuliah dan lintas disiplin, pendekatan ini disebut dengan “AI across the curriculum” [6], [9]. Di perguruan tinggi Indonesia, pendekatan ini dapat disinergikan dengan pembelajaran berbasis proyek serta pemanfaatan LMS dan ekosistem digital dalam PJJ dan PPG. Tugas proyek dan case-based learning dapat dirancang agar mahasiswa secara eksplisit menggunakan AI untuk memecahkan masalah otentik, misalnya menganalisis data penelitian atau menyusun modul ajar digital untuk sekolah mitra.
Dari sisi tata kelola, merumuskan profil lulusan AI-Ready menuntut keberanian pimpinan perguruan tinggi untuk menempatkan kompetensi AI secara eksplisit dalam capaian pembelajaran lulusan di tingkat institusi, lalu menurunkannya ke CPL prodi dan CPMK mata kuliah. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi AI dalam pendidikan sangat ditentukan oleh kepemimpinan institusional dan konsistensi kebijakan, bukan sekadar ketersediaan perangkat lunak [1], [4].
Pada saat yang sama, kapasitas dosen perlu menjadi prioritas. Studi tentang literasi AI pendidik menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan institusi dan kesiapan praktis pendidik, sehingga program pengembangan profesional yang terstruktur menjadi keharusan [10]. Kampus dapat menyediakan pelatihan berkala, klinik konsultasi, maupun komunitas praktik yang mendorong dosen saling berbagi praktik baik dalam penggunaan AI yang etis dan efektif.
Akhirnya, merancang profil lulusan AI-Ready bukan sekadar menambahkan kata “AI” ke dalam dokumen kurikulum, tetapi ajakan untuk meninjau ulang misi pendidikan tinggi di era disrupsi digital. Pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak menggunakan AI di kampus”, melainkan “bagaimana memastikan AI digunakan untuk memperkuat kemanusiaan, kualitas pembelajaran, dan keadilan sosial”. Lulusan yang AI-Ready adalah lulusan yang mampu memadukan kecerdasan teknologis dengan kepekaan etik, kemampuan refleksi, dan komitmen pada nilai-nilai profesi. Jika perguruan tinggi di Indonesia berani mengambil posisi ini secara serius, maka pemanfaatan AI tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang sanggup memimpin di tengah dunia yang semakin cerdas sekaligus kompleks.
Daftar Referensi
[1] F. Miao and W. Holmes, Towards a human-centred approach to the use of generative AI. UNESCO, 2023. doi: 10.54675/ewzm9535.
[2] A. Schleicher, “The Future of Education and Skills: Education 2030,” OECD Educ. Work. Pap., p. 23, 2018, [Online]. Available: http://www.oecd.org/education/2030/E2030 Position Paper (05.04.2018).pdf
[3] Lightcast, Beyond The Buzz: Developing the AI Skills Employers Actually Need. Lightcast, 2025.
[4] A. Green, “Artificial intelligence and the changing demand for skills in the labour market,” Apr. 2024. doi: 10.1787/88684e36-en.
[5] M. P. Mahadewi, A. A. A. Aysya, Z. Sofiyani, and F. Fahmi, “The Importance of Literacy on Artificial Intelligence for the Higher Education Students: A Systematic Literature Review,” Int. J. Adv. Data Inf. Syst., vol. 6, no. 1, pp. 1–14, 2025, doi: 10.59395/ijadis.v6i1.1350.
[6] T. Gander and G. Harris, “Understanding AI Literacy for Higher Education Students: Implications for Assessment,” He Rourou, p. 8, 2024, doi: 10.54474/herourou.v1i1.10579.
[7] OECD, Empowering Learners for the Age of AI: An AI Literacy Framework for Primary and Secondary Education (Review Draft), no. May. Paris: OECD., 2025. [Online]. Available: https://ailiteracyframework.org
[8] Y. Yim and I. Heung, “A critical review of teaching and learning artificial intelligence (AI) literacy: Developing an intelligence-based AI literacy framework for primary school education,” Comput. Educ. Artif. Intell., vol. 7, no. October, p. 100319, 2024, doi: 10.1016/j.caeai.2024.100319.
[9] N. Mima, “The Future of AI Literacy Education: Integrating OECD Education 2030 with Technical and Ethical Perspectives,” J. Appl. Instr. Des., vol. 14, no. 2, pp. 364–368, 2025, doi: 10.59668/2222.20832.
[10] A. M. Al-Abdullatif, “Auditing AI Literacy Competency in K–12 Education: The Role of Awareness, Ethics, Evaluation, and Use in Human–Machine Cooperation,” Systems, vol. 13, no. 6, 2025, doi: 10.3390/systems13060490.
Diposting Oleh:
Yasmin SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami