Menjadi Manusia yang Bermanfaat: Filosofi Rektor Universitas Dharmawangsa tentang Belajar dan Kepemimpinan
05 Okt 2026
SEVIMA – Di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) yang semakin cepat, dunia kesehatan menghadapi satu pertanyaan penting: sejauh mana teknologi boleh mengambil peran dalam penelitian dan pelayanan kesehatan tanpa menghilangkan sentuhan manusia?
Bagi Seriga Banjarnahor, Ph.D Rektor Universitas Murni Teguh jawabannya bukan dengan menjauhi AI, melainkan dengan menempatkannya pada posisi yang tepat: sebagai alat bantu manusia, bukan pengganti manusia.
Berangkat dari pengalamannya sebagai perawat dan praktisi manajemen keperawatan, Seriga Banjarnahor, Ph.D melihat bahwa pertanyaan penelitian justru sering lahir dari persoalan nyata di lapangan. Kebutuhan pasien yang semakin kompleks, tuntutan kualitas pelayanan, hingga efisiensi pembiayaan menjadi sumber penting untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.
“Riset itu muncul ketika ada problem,” menjadi salah satu gagasan kuat yang ia tekankan. Karena itu, penelitian kesehatan tidak boleh berhenti pada kecanggihan teknologi. Ia harus kembali pada satu tujuan: menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan pasien.
Di sinilah AI hadir sebagai akselerator. Dalam penelitian, AI dapat membantu peneliti memetakan literatur, menemukan penelitian terdahulu, mengidentifikasi konsep, hingga melihat celah penelitian dengan lebih cepat. Proses yang dahulu membutuhkan waktu panjang di perpustakaan kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi.
Namun, Seriga Banjarnahor, Ph.D mengingatkan bahwa kecepatan bukan berarti kebenaran.
Setiap referensi yang diberikan AI tetap harus ditelusuri hingga sumber primernya dan divalidasi. Bagi Seri, AI adalah “tangga” untuk membantu peneliti mencapai evidence-based knowledge yang sesungguhnya bukan jalan pintas untuk melewati proses ilmiah.
Prinsip yang sama berlaku bagi mahasiswa. Menurutnya, kampus tidak perlu takut terhadap penggunaan AI. Yang perlu dibangun justru adalah kemampuan untuk memastikan bahwa ide, kreativitas, dan proses berpikir tetap berasal dari manusia.
“Jangan sampai sedikit-sedikit tanya AI,” ujarnya. Teknologi boleh membantu, tetapi manusia tetap harus membaca, merasakan, mengamati, menentukan masalah, dan menjalankan proses penelitian.
Bagi Seriga Banjarnahor, Ph.D, masa depan pendidikan kesehatan bukanlah tentang AI atau manusia. Justru masa depan ada pada AI bersama manusia teknologi yang membuat riset lebih cepat, pelayanan lebih efektif, dan pengetahuan lebih mudah dijangkau, sementara empati, penilaian klinis, kreativitas, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.
Sebab pada akhirnya, teknologi boleh semakin pintar. Tetapi alasan mengapa kita melakukan penelitian tetap harus datang dari kepedulian manusia terhadap manusia lainnya.
Diposting Oleh:
Dian Nuke
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami