Unismuh Palu–Pegadaian Bangun Kemitraan Strategis untuk Pengembangan Ekonomi Syariah
16 Okt 2026
16 Okt 2026
SEVIMA – Di tengah pesatnya digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI), Rektor Universitas Tidar mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tinggi bukan sekadar tentang teknologi yang semakin canggih, melainkan juga tentang nilai-nilai kemanusiaan yang harus tetap terjaga.
Teknologi terus bergerak, mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menghasilkan pengetahuan. Perguruan tinggi pun dituntut untuk beradaptasi. Namun, di tengah perlombaan menuju kampus digital, ada satu pertanyaan penting yang patut direnungkan: apakah kemajuan teknologi sudah cukup untuk membentuk manusia yang berilmu dan berkarakter?
Bagi Rektor Universitas Tidar (UNTIDAR) Magelang, digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Lebih dari sekadar menghadirkan perangkat dan sistem baru, digitalisasi harus memberikan manfaat nyata bagi efisiensi, pengawasan, dan peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Transformasi digital, menurutnya, juga harus menyentuh penggunanya. Pengembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kesiapan sumber daya manusia dan kemampuan kampus membaca perkembangan di luar. Sebab, merasa sudah maju bukan jaminan bahwa sebuah perguruan tinggi tidak tertinggal.
Di UNTIDAR, pemanfaatan teknologi telah merambah berbagai bidang, mulai dari pembelajaran melalui ELITA hingga layanan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi, mahasiswa, dan alumni. Ke depan, integrasi data menjadi cita-cita penting agar informasi yang tersebar dapat diolah menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih baik. Meski demikian, semuanya membutuhkan proses, prioritas anggaran, dan kesadaran bersama.
Namun, ada pemikiran yang lebih mendasar dari sekadar mengejar kemajuan teknologi.
Menemukan Kembali Cahaya Keilmuan dari Timur
Di era AI, ketika berbagai produk akademik semakin mudah dihasilkan dengan bantuan mesin, Rektor UNTIDAR justru mengajak perguruan tinggi untuk kembali menggali kekayaan ilmu dan budaya Timur.
Baginya, kemajuan teknologi perlu diikuti, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan dimensi yang membuat manusia tetap menjadi manusia: rasa, etika, perasaan, dan nilai-nilai spiritual.
“Yang tidak bisa ditiru oleh AI adalah ilmu Timur: rasa, bagaimana etika, bagaimana perasaan, bagaimana nilai-nilai spiritual,” menjadi inti pandangan yang disampaikannya dalam perbincangan tersebut.
Gagasan ini bukan ajakan untuk menolak AI atau berpaling dari perkembangan zaman. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan secara optimal, sembari memperkuat identitas dan nilai-nilai yang menjadi kekayaan bangsa. Kampus harus mampu melahirkan lulusan yang bukan hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan.
Kampus Digital, Manusia Tetap Menjadi Pusatnya
Pemikiran Rektor UNTIDAR menghadirkan pengingat penting bagi pendidikan tinggi: transformasi digital bukanlah garis finis. Teknologi hanyalah sarana, sementara tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk manusia yang utuh.
Sebab, kampus masa depan bukan semata-mata kampus yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan kampus yang mampu mempertemukan kecanggihan digital dengan kedalaman nilai kemanusiaan.
Ketika dunia bergerak semakin cepat ke arah AI, mungkin inilah saatnya perguruan tinggi tidak hanya bertanya seberapa jauh teknologi dapat membawa kita, tetapi juga nilai apa yang harus tetap kita bawa dalam perjalanan tersebut.
Diposting Oleh:
Dian Nuke
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami