Berawal dari Rumah Tua Belanda, Perjuangan Christine Setiabudi Merawat Impian Pendidikan di Malang
13 Okt 2026
13 Okt 2026
SEVIMA — Pendiri Yayasan My Little Island (MLI) School Malang, Agus Eko Buwono bersama sang istri, Christine Setiono, merayakan momen bersejarah ganda pada tahun ini. Keduanya menandai 30 tahun perjalanan bahtera rumah tangga sekaligus 25 tahun kiprah MLI School dalam mencetak generasi muda unggul di Kota Malang.
Perjalanan lembaga pendidikan internasional ini berawal dari bimbingan belajar sempoa sederhana pada pertengahan tahun 1998 di sebuah rumah berarsitektur Belanda. Seiring dengan melonjaknya kepercayaan masyarakat dan permintaan dari para orang tua murid, kegiatan pembelajaran bertransformasi dengan membuka jenjang preschool, playgroup, sekolah dasar (Primary), hingga sekolah menengah (Secondary) yang kini berpusat di kawasan Lembah Dieng.
Dalam podcast SEVIMA, Ketua Yayasan MLI School, Agus Eko Buwono mengungkapkan bahwa membangun lembaga pendidikan hingga berskala internasional memerlukan konsistensi serta keberanian merintis dari kondisi yang sangat terbatas.
“Kami merintis sekolah ini bukan dari titik nol, melainkan start from the minus one. Semua proses itu menjadi ujian perjalanan hati kami berdua untuk benar-benar masuk ke satu passion di dunia pendidikan,” ujar Agus saat berbincang dengan SEVIMA di Malang, Senin (12/10/2026).
Agus menjelaskan, salah satu langkah strategis yang diambil MLI School adalah mengadopsi kurikulum Cambridge yang dipadukan dengan analisis studi kasus (case study). Metode ini diterapkan agar siswa tidak sekadar menghafal teori, melainkan mampu memahami implementasi ilmu dalam kehidupan nyata. Selain itu, MLI School juga menanamkan program kewirausahaan (entrepreneurship) sejak jenjang kelas 7 (Secondary).
“Pendekatan entrepreneurship yang kami berikan sejak kelas 7 bukan sekadar mengajarkan anak cara berdagang, melainkan mengasah mentality to prepare. Kami membentuk anak-anak agar memiliki inisiatif, berani mengambil keputusan mandiri, serta luwes beradaptasi dengan perubahan sistem,” tambahnya.
Sementara itu, Vivi sapaan akrab Christine Setiono mengenang masa-masa awal pendirian bimbingan sempoa pada 1998 yang sempat menampung hingga 600 murid. Antusiasme masyarakat Malang kala itu bahkan memberi kesempatan bagi mereka untuk mendatangkan langsung pencetus sistem sempoa dari Taiwan guna memaparkan konsep pemanfaatan imajinasi dan stimulasi kerja otak anak.
Selama 30 tahun mengarungi bahtera rumah tangga dan 25 tahun mengelola sekolah bersama, Agus dan Vivi menekankan pentingnya mendengarkan masukan dari para orang tua murid. Masukan tersebut dipandang sebagai bahan evaluasi konstruktif untuk membenahi fasilitas serta tata kelola lembaga secara berkesinambungan.
Menatap perjalanan 25 tahun ke depan, pihak yayasan berkomitmen untuk terus berinovasi dalam melahirkan lulusan berjiwa kepemimpinan tinggi. Agus meyakini bahwa pendidikan karakter yang adaptif dan intuitif merupakan kunci utama untuk membawa kualitas hidup masyarakat ke arah yang lebih baik.
“Inovasi itu harus berguna untuk sesaat dan masa depan, sedangkan leadership adalah hal yang tak tergantikan untuk membawa kemanusiaan ke level yang lebih baik,” tutup Agus.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami