Berawal dari Rumah Tua Belanda, Perjuangan Christine Setiabudi Merawat Impian Pendidikan di Malang
13 Okt 2026
13 Okt 2026
SEVIMA – pariwisata.jogjakota.go.id
Wayang selama ini lebih banyak dikenal masyarakat melalui berbagai bentuk pertunjukan budaya, mulai dari wayang kulit, wayang orang, seni tari, teater, hingga berbagai bentuk pertunjukan visual dan musikal. Melalui medium tersebut, cerita, karakter, nilai, serta filosofi wayang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, STP AMPTA Yogyakarta menghadirkan cara yang berbeda dalam memaknai warisan budaya tersebut. Melalui kegiatan “Wayang dalam Rasa” – Cultural Gastronomy Experience, kisah wayang tidak hanya dihadirkan untuk ditonton, tetapi diterjemahkan ke dalam makanan dan pengalaman gastronomi.
Dalam pengalaman ini, cerita, nilai, simbol, dan perjalanan tokoh wayang diinterpretasikan melalui rasa, aroma, warna, tekstur, bahan, teknik penyajian, hingga storytelling. Setiap sajian dirancang sebagai bagian dari perjalanan cerita sehingga tamu tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga mengikuti makna yang dibangun dalam setiap course.
Kegiatan yang diselenggarakan di STP AMPTA Yogyakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari dukungan STP AMPTA terhadap rangkaian Wayang Jogja Night Carnival #10, sekaligus menunjukkan bahwa budaya dapat terus dikembangkan melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Mengangkat Perjalanan Bima dalam Kisah Dewa Ruci
Pada penyelenggaraan perdana ini, Wayang dalam Rasa mengangkat perjalanan Bima dalam kisah Dewa Ruci dengan tajuk:
“Bima: The Quest for Tirta — The Journey Within”
Perjalanan Bima tidak hanya dipahami sebagai pencarian Tirta atau air kehidupan, tetapi juga sebagai perjalanan menuju pemahaman terhadap diri sendiri.
Kisah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam empat tahapan pengalaman, yaitu kepatuhan, pengendalian diri, pencerahan dan hikmah, hingga kesadaran dan berserah diri.
Empat tahapan tersebut diwujudkan dalam empat sajian utama.
Rujak Satya Bima
Sebagai appetizer, Rujak Satya Bima menjadi awal perjalanan. Perpaduan rasa asam, manis, pedas, dan segar dirancang untuk membangkitkan indera sekaligus merepresentasikan Satya, yakni keteguhan dan kepatuhan Bima dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh gurunya.
Sup Pancadaya
Perjalanan berlanjut melalui Sup Pancadaya, yang menggambarkan keberanian, kegigihan, sekaligus proses pengendalian diri.
Sajian ini membawa simbol empat warna—hitam, merah, kuning, dan putih—sebagai representasi berbagai sifat yang terdapat dalam diri manusia dan perlu dikenali serta dikendalikan.
Nasi Gurih Hasta Wening
Pada main course, Nasi Gurih Hasta Wening menjadi representasi fase pencerahan dan hikmah.
Kata Hasta merujuk pada delapan warna yang menggambarkan dinamika dan keberagaman kehidupan, sedangkan Wening merepresentasikan kejernihan batin setelah seseorang melalui berbagai pengalaman dan ujian.
Keberagaman rasa, tekstur, warna, dan elemen dalam satu sajian menjadi gambaran bahwa berbagai pengalaman kehidupan pada akhirnya membentuk satu kesatuan pemahaman.
Nagasari Cahya Sumarah
Perjalanan kemudian ditutup melalui Nagasari Cahya Sumarah.
Cahya menjadi simbol cahaya tunggal dan kesucian hati, sedangkan Sumarah merepresentasikan kesadaran untuk berserah diri setelah memahami hakikat perjalanan.
Karakter sajian yang lebih lembut dan tenang menjadi penutup dari perjalanan rasa yang sebelumnya bergerak dari kepatuhan, pergulatan, hingga pencerahan.
Budaya Tidak Hanya Ditonton, tetapi Juga Dirasakan
Melalui Wayang dalam Rasa, STP AMPTA Yogyakarta mencoba memperluas cara masyarakat berinteraksi dengan warisan budaya.
Jika selama ini wayang lebih banyak dialami melalui pertunjukan visual dan panggung, maka dalam kegiatan ini gastronomi digunakan sebagai medium storytelling budaya.
Pengalaman tersebut juga diperkuat melalui tata penyajian, visual, musik, narasi, aroma, serta interaksi selama proses makan, sehingga setiap course tidak berdiri sebagai sajian tersendiri, melainkan menjadi satu bagian dari perjalanan cerita.
Pendekatan ini sekaligus menunjukkan peluang pengembangan gastronomi sebagai bagian dari creative tourism, yaitu pengalaman wisata yang memungkinkan wisatawan tidak hanya melihat budaya, tetapi terlibat dan mengalaminya secara langsung.
Dari Warisan Budaya menuju Pengalaman Kreatif
Melalui penyelenggaraan Wayang dalam Rasa, STP AMPTA Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu berarti mempertahankan bentuk yang sama.
Nilai dan filosofi budaya dapat terus hidup ketika diterjemahkan ke dalam medium baru tanpa kehilangan esensi yang menjadi dasarnya.
Gastronomi dalam konteks ini menjadi jembatan antara budaya, kreativitas, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Ke depan, konsep Wayang dalam Rasa berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui eksplorasi cerita dan lakon wayang lainnya, pengembangan produk gastronomi, hingga menjadi salah satu bentuk cultural gastronomy experience dan produk wisata kreatif.
Melalui pendekatan tersebut, wayang tidak hanya hadir sebagai cerita yang ditonton, tetapi juga sebagai pengalaman yang dapat dirasakan, dinikmati, dan dimaknai melalui rasa.
Diposting Oleh:
Nasya Alriani
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami