Menelusuri Jejak Sejarah Universitas Islam Jakarta: Didirikan Tokoh Bangsa 1951 untuk Akses Pendidikan Rakyat
22 Okt 2026
22 Okt 2026
SEVIMA — Peringatan Hari Guru Internasional menjadi momen krusial untuk merefleksikan kembali peran mendasar seorang pendidik di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (FKIP Uhamka) sekaligus Anggota Pimpinan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Dr. Irwan Baadilla, M.Pd., menegaskan bahwa hakekat utama seorang guru bukanlah sekadar pengajar ilmu pengetahuan, melainkan agen yang mewarisi nilai-nilai kebaikan bagi keberlanjutan masa depan bangsa.
Dalam perbincangan di Podcast Sevima, Irwan menyampaikan bahwa profesi guru memiliki kemuliaan yang sangat tinggi. Menurutnya, misi yang diemban oleh seorang guru sejatinya sejalan dengan tugas risalah para nabi dan rasul pada zamannya, yaitu konsisten mengajarkan serta memberikan teladan kebaikan kepada generasi penerus.
“Guru sebetulnya adalah pekerjaan atau aktivitas yang pokok, yaitu mewarisi. Mewarisi segala sesuatu yang baik. Hemat saya, guru itu hampir sama dengan para nabi di masanya karena tugasnya senantiasa memberikan warisan kebaikan bagi generasi yang akan datang,” ujar Irwan saat podcast bersama SEVIMA, Kamis (22/10/2026).
Irwan menjelaskan bahwa dalam struktur kehidupan masyarakat, terdapat hubungan timbal balik antara orang dewasa dan generasi muda. Orang dewasa memiliki kewajiban moral untuk mentransfer hal-hal luhur, sementara anak-anak memiliki hak atas pendidikan dan keteladanan yang baik. Prinsip ini berlaku secara universal, tidak hanya terbatas pada anak kandung secara biologis, tetapi juga anak-anak secara intelektual dan ideologis di tengah masyarakat.
Perjalanan Irwan sebagai pendidik selama lebih dari 36 tahun berakar dari pengalamannya yang unik. Memulai karier mengajar sejak tahun 1990-an saat masih berstatus mahasiswa semester lima di Universitas Halu Oleo Kendari, ia mengaku pada mulanya tidak bercita-cita menjadi guru. Keinginan awalnya adalah menjadi teknisi elektro atau sastrawan karena kekagumannya pada tokoh sastra Hairil Anwar. Namun, ketika takdir membawanya masuk ke program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP, ia memilih untuk menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan menyebutnya sebagai momen “tersesat dalam kebahagiaan”.
Dedikasi puluhan tahun tersebut mengukuhkan pandangannya bahwa profesi pendidik tidak akan pernah berhenti atau kehilangan relevansinya. Dari tangan para guru lah lahir benih-benih kebaikan yang menjadi fondasi karakter generasi pelanjut.
Menanggapi perkembangan zaman, Irwan menekankan bahwa nilai-nilai luhur tidak boleh tergerus oleh modernisasi. Ia mengajak seluruh pendidik di Indonesia untuk terus menanamkan keteladanan budi pekerti, karena pada akhirnya pembentukan mental dan moral peserta didik adalah investasi terbesar bagi peradaban bangsa. Melalui momen Hari Guru Internasional ini, pesan moral tentang pentingnya posisi guru diharapkan dapat kembali menggugah kesadaran publik akan mulianya profesi pendidik.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
Tags:
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami