Sambut Hari Santri 2026: Rektor Universitas Islam Jakarta Tekankan Integrasi Sains, AI, dan Akhlak Karakter
22 Okt 2026
22 Okt 2026
SEVIMA — Pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan digitalisasi pendidikan menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas dan keberlanjutan peran pendidik di masa depan. Menanggapi fenomena tersebut, Dosen FKIP Uhamka yang juga Anggota Pimpinan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Dr. Irwan Baadilla, M.Pd., menegaskan bahwa keteladanan seorang guru tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi sehebat apa pun.
Saat berbicara dalam Podcast Sevima, Irwan mengungkapkan bahwa teknologi pada dasarnya merupakan alat bantu (tool) untuk mempermudah alur transformasi pengetahuan. Namun, ketika berbicara mengenai penanaman karakter, pembentukan moral, dan edukasi budi pekerti, kehadiran figur guru tetap menjadi elemen sentral yang mutlak diperlukan.
“Kalau bicara soal warisan nilai-nilai, saya berkeyakinan guru tidak bisa diganti. Ada proses transformasi dari contoh atau habituasi situasi. Meskipun teknologi berkembang dan bisa mentransfer pengetahuan, tetapi sikap mental dan kekuatan moral pada diri anak sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan,” tegas Irwan saat Podcast SEVIMA, Kamis (22/10/2026).
Ia menambahkan bahwa teknologi membawa nilai-nilai tersendiri yang jika tidak diimbangi dengan sikap mental yang matang, dapat berpotensi merusak karakter peserta didik. Irwan mencontohkan penggunaan platform komunikasi digital seperti WhatsApp, di mana ketiadaan batasan mental dan etika sering kali membuat seseorang mengetik pesan tanpa memikirkan konsekuensinya. Di situlah peran penting guru untuk mengarahkan serta membimbing anak didik agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
Lebih lanjut, Irwan menyoroti tugas pokok pendidik yang mencakup transfer of knowledge sekaligus penanaman budi pekerti. Guru dituntut untuk mempersiapkan diri tidak hanya dalam penguasaan keilmuan, tetapi juga dari segi sikap mental dan moral agar mampu menjadi suritela atau contoh nyata bagi siswa.
Dalam konteks Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) yang kini berjumlah 165 kampus di seluruh Indonesia, penyiapan calon pendidik berlandaskan pada prinsip khudwah da’fiyah, yakni mencerdaskan umat sekaligus memberikan solusi bagi persoalan kehidupan. Melalui pendekatan dakwah Islam yang mencerahkan, PTMA berkomitmen melahirkan lulusan pendidik yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi digital, tetapi juga kokoh secara moral.
Irwan menyimpulkan bahwa secanggih apa pun inovasi teknologi yang hadir di ruang kelas, sentuhan kemanusiaan, empati, serta keteladanan langsung dari pendidik merupakan fondasi utama pendidikan yang tak tergantikan oleh mesin.
Diposting Oleh:
Erna SEVIMA
SEVIMA merupakan perusahaan Edutech (education technology) yang telah berkomitmen sejak tahun 2004 dalam menyelesaikan kendala kerumitan administrasi akademik di pendidikan tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, Akademi, dll.) dengan 99% keberhasilan implementasi melalui SEVIMA Platform, segera jadwalkan konsultasi di: Kontak Kami